MARKET DATA

Harga Emas & Perak Membeku, Ramalan Terbaru Bikin Cemas

mae,  CNBC Indonesia
09 June 2026 06:33
Harga Emas & Perak Membeku, Ramalan Terbaru Bikin Cemas

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak nyaris tak bergerak meskipun ada prospek gencatan senjata.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (8/6/2026) ditutup di posisi US$ 4328,59 per troy ons atau melemah sangat tipis 0,005%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas yakni melemah 3,25% dalam dua hari beruntun.

Harga emas belum juga membaik. Pada hari ini, Selasa (9/6/2026) pukul 06.27 WIB, harga emas dibanderol US$ 4325,68 per troy ons atau melemah 0,07%.

Potensi gencatan senjata antara Israel dan Iran membantu logam mulia tersebut bangkit dari level terendah sesi. Namun, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sehingga membatasi kenaikan harga emas.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa baik Israel maupun Iran sama-sama ingin segera melakukan gencatan senjata dan bahwa negosiasi akhir terkait perdamaian sedang berlangsung.

 

"Kami berhasil bangkit dari level terendah yang terjadi di sesi Asia setelah muncul kabar bahwa mungkin akan ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Hal itu sedikit mengurangi tekanan penurunan harga," kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

Emas secara tradisional menjadi aset safe haven saat terjadi konflik.

Namun, kesepakatan damai berpotensi mengurangi risiko inflasi yang dipicu harga energi dan mengurangi tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Kenaikan harga emas juga tertahan karena dolar AS diperdagangkan di sekitar level tertinggi dalam hampir dua bulan yakni masih di level 100.

 

Penguatan dolar terjadi setelah laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Dolar yang lebih kuat membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 43% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, naik tajam dari sekitar 14% sebulan lalu, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group.

Investor kini menantikan data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS yang akan dirilis pada Rabu dan data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada Kamis guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Di sisi lain, Citi memangkas target harga emas jangka pendeknya menjadi US$4.000 per troy ounce dari sebelumnya US$4.300 per troy ounce. Revisi tersebut didasarkan pada ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi tahun ini akibat kebuntuan di Selat Hormuz dan tingginya harga energi.

Berbanding dengan emas, harga perak sudah menguat.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin (8/6/2026) ditutup di posisi US$ 68,17 per troy ons atau menguat 0,52%.

Harga perak melemah lagi pada hari ini. Pada hari ini, Selasa (9/6/2026) pukul 06,26 WIB, harga perak dibanderol US$ 68,08 per troy ons atau melemah 0,12%.


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Menunggu Pekan "Mematikan", Harga Emas & Perak Langsung Babak Belur


Most Popular
Features