Asia dalam Zona Merah: Won, Ringgit - Dolar Singapura Ambruk Parah
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia ambruk berjamaah pada pekan ini. Kondisi ini menegaskan jika Asia masih harus berjibaku dengan dampak perang Iran.
Nilai tukar rupiah memang berhasil menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau meski hanya menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah mampu bangkit setelah sehari sebelumnya mencetak level terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06% ke posisi Rp18.010/US$ pada Jumat (5/6/2026). Penguatan ini mengakhiri tekanan yang terjadi sehari sebelumnya ketika rupiah melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$, yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.
Meski ditutup menguat pada Jumat, secara keseluruhan rupiah masih melemah 0,8% pekan ini.
Asia Diguncang Perang dan Lonjakan Harga Minyak
Tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami rupiah. Sepanjang pekan ini, mata uang Asia juga bertumbangan. Mata uang won menjadi yang terburuk dengan ambruk 3,3% pekan ini, disusul dengan ringgit dan baht.
Seperti rupiah, rupee India dan peso Filipina bahkan telah menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah.
Bank-bank sentral di kawasan, mulai dari Jepang hingga Korea Selatan, terpaksa menggelontorkan miliaran dolar untuk menahan laju pelemahan mata uang masing-masing. Bagi negara pengimpor energi, pelemahan kurs berarti kenaikan biaya ekonomi secara luas, mulai dari bahan bakar hingga harga pangan.
Won Korea Selatan Tembus Level Terlemah 17 Tahun
Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang mengalami tekanan paling besar. Mata uang tersebut sempat menembus level 1.560 won per dolar AS, posisi terlemah sejak krisis keuangan global 2009.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai kebuntuan negosiasi AS-Iran berpotensi membuat harga energi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Karena itulah, otoritas moneter di Asia kini semakin siaga menghadapi volatilitas pasar.
Â
Jepang bahkan telah memberi sinyal siap melakukan intervensi setelah nilai tukar dolar AS terhadap yen menembus level psikologis JPY 160 per dolar AS.
Di sisi lain, India sedang mempertimbangkan penghapusan pajak keuntungan modal atas obligasi guna menarik kembali minat investor asing dan menopang mata uangnya.
"Karena itu, pasar mata uang kemungkinan akan tetap bergerak hati-hati dan penuh kewaspadaan," ujar Afzanizam, dikutip dari Bernama.
Sementara itu, ringgit Malaysia juga tercatat melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, menambah daftar mata uang Asia yang tertekan akibat kombinasi penguatan dolar AS, lonjakan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik global.
(mae/mae) Addsource on Google