14 Kabar Genting Guncang RI Pekan Ini, IHSG-Rupiah Dibuat Gemetar
- Pasar keuangan RI ditutup beragam, Rupiah menguat sementara SBN dan IHSGÂ tertekan hebat.
- Wall street ambruk Nasdaq ditutup terparah turun hingga 4,18% dalam satu hari perdagangan.
- Piala dunia, rilis cadangan devisa, serta arah kebijakan pemerintah menjadi penggerak utama pasar hari ini
Jakarta, CNBCÂ Indonesia -Â Pasar keuangan dalam negeri kembali babak belur pada perdagangan kemarin Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4% yield SBNÂ melambung tinggi.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 245,01 poin atau 4,2% ke level 5.594,77 pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Jumat pagi IHSG sempat berdenyut positif, sebelum akhirnya turun semakin dalam meninggalkan level 5.600.
Sebanyak 656 saham turun kemarin. Hanya 115 yang naik dan sisanya atau 188 emiten stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 31,08 triliun, di mana nyaris separuhnya terjadi di pasar negosiasi.
Tercatat 34,39 miliar saham berpindah tangan dalam 2,14 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ambruk menjadi Rp 9.807 triliun.
Koreksi dalam IHSG seiring dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level historis baru, yakni Rp 18.000.
Nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), setelah sepanjang hari bergerak volatil di area Rp18.000/US$.
Lanjut ke mata uang Garuda, nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), setelah sepanjang hari bergerak volatil di area Rp18.000/US$.
Â
Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06% ke level Rp18.010/US$.
Penguatan ini menjadi sedikit napas bagi mata uang Garuda setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Posisi tersebut merupakan level terlemah sepanjang sejarah rupiah terhadap dolar AS.
Meski berakhir menguat, dalam sepekan rupiah masih ambruk 0,8% pekan lalu.
Pemerintah baru saja merilis realisasi APBN hingga akhir Mei 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan defisit APBN mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.
Angka tersebut naik tipis dibandingkan posisi akhir April 2026 yang sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64% terhadap PDB. Meski demikian, Purbaya menilai posisi defisit tersebut masih aman dan sesuai desain APBN 2026.
"Jadi kalau kita hitung seperti di luar itu. Kalau saya pakai cara yang sama kira-kira 1,8% PDB. Jadi kalau dilihat dari situ APBN kita sangat aman," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Jumat (5/6/2026).
Â
Selain defisit yang masih terkendali, keseimbangan primer juga tercatat surplus Rp58,6 triliun. Kondisi ini menunjukkan APBN masih memiliki ruang untuk menjaga kesinambungan fiskal di tengah tekanan pasar keuangan.
Sementara dari itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan masih memiliki sejumlah amunisi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Setidaknya ada tujuh langkah yang disiapkan bank sentral untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Terakhir ke pasar surat berharga negara Indonesia, imbal hasil obligasi Indonesia 10 tahun pada penutupan perdagangan kemarin Jumat (5/6/2026) tercatat pada level 6.902 atau naik meningkat 1,16% dari hari sebelumnya yang ditutup pada 6.823.
Bursa Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Jumat, dipicu oleh aksi jual massal yang melanda saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor. Indeks Nasdaq Composite yang padat saham teknologi mencatatkan kejatuhan harian tertajam sejak periode gejolak tarif pada April 2025 dengan koreksi sebesar 4,18% ke posisi 25.709,43.
Pelemahan ini juga menyeret indeks S&P 500 yang merosot 2,64% menjadi 7.383,74, serta indeks Dow Jones Industrial Average yang kehilangan 1,35% dan berakhir di level 50.866,78. Padahal, sehari sebelumnya, indeks Dow Jones baru saja mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Kejatuhan di akhir pekan ini sekaligus memutus tren positif pasar, di mana S&P 500 mencatatkan pekan negatif pertamanya dalam sepuluh minggu terakhir setelah melemah lebih dari 2%, sementara Nasdaq ambles hingga 4,7% dalam sepekan.
Katalis negatif yang membayangi sektor cip sebenarnya mulai terakumulasi sejak pertengahan pekan. Tekanan awal muncul setelah emiten raksasa Broadcom tidak merevisi naik proyeksi pendapatan dari lini bisnis cip kecerdasan buatan (AI) mereka pada perdagangan Rabu malam. Kondisi ini memicu kekecewaan investor dan membebani pergerakan sektor tersebut pada hari Kamis.
Intensitas aksi jual kemudian mencapai puncaknya pada hari Jumat setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data nonfarm payrolls bulan Mei yang tumbuh jauh di atas ekspektasi. Lapangan kerja baru tercatat melonjak sebanyak 172.000, melampaui prediksi para ekonom yang memperkirakan penambahan sebesar 80.000 pekerjaan.
Data ketenagakerjaan yang terlampau kuat ini langsung memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, di mana yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke atas 4,5% dan tenor 30 tahun menembus 5%.
Situasi tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran pasar mengenai tingginya biaya pinjaman bagi korporasi yang tengah mendanai infrastruktur AI.
Kombinasi makroekonomi ini berdampak destruktif bagi saham semikonduktor utama. iShares Semiconductor ETF mencatatkan hari terburuknya sejak Maret 2020 setelah anjlok 10%, meskipun secara tahun berjalan masih tumbuh 79%.
Kejatuhan dipimpin oleh Marvell Technology yang ambles lebih dari 16%, diikuti oleh produsen memori Micron Technology yang merosot 13% setelah pada hari sebelumnya juga terkoreksi 8%. Saham Intel Corporation dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing melemah sekitar 11%, sementara saham Broadcom merosot hampir 8%.
Tidak hanya di pasar ekuitas, indikasi adanya likuidasi posisi spekulatif juga merembet ke pasar aset kripto, di mana Bitcoin tersungkur ke bawah level US$ 60.000 untuk pertama kalinya sejak akhir tahun 2024.
Para analis menilai banyak investor mulai melakukan aksi ambil untung demi menyeimbangkan kembali portofolio mereka yang sudah mengalami overweight di sektor teknologi.
Di sisi lain, penurunan tajam sektor teknologi ini juga disinyalir erat kaitannya dengan persiapan pasar menyambut penawaran umum perdana (IPO) berskala raksasa dari SpaceX yang dijadwalkan melantai pekan depan.
Perusahaan kedirgantaraan dan AI milik Elon Musk tersebut bersiap masuk bursa dengan target valuasi mencapai US$ 1,77 triliun. Sejumlah pengamat pasar meyakini bahwa likuidasi massal pada saham cip dan Bitcoin terjadi karena para pengelola dana perlu mengosongkan ruang portofolio guna mengamankan likuiditas untuk membeli saham IPO SpaceX.
Akibat kejatuhan sektor teknologi ini, arus modal di Wall Street terpantau langsung beralih ke sektor yang lebih aman (defensive) seperti layanan kesehatan dan barang konsumsi pokok.
Strategi rotasi portofolio ini berhasil mengangkat performa saham Colgate-Palmolive sebesar 4%, Coca-Cola lebih dari 3%, dan Johnson & Johnson sebesar 2% pada akhir perdagangan.
Pasar keuangan Indonesia masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri.
Ketahanan Fiskal
1. Perang Kembali Memanas
Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel pada Minggu (7/6/2026), pertama kalinya sejak gencatan senjata antara Teheran dan Washington berlaku pada April lalu.
Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menuding blokade laut AS serta serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran kesepakatan. Menurutnya, pangkalan AS dan aset Israel di kawasan kini menjadi target yang sah.
Presiden AS Donald Trump yang telah menerima laporan mengenai serangan tersebut mengatakan aksi Iran tidak akan membantu proses negosiasi. Trump juga disebut akan menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak membalas serangan Iran.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan gencatan senjata berlaku dengan syarat konflik juga dihentikan di seluruh front, termasuk Lebanon. Iran memperingatkan respons yang lebih luas akan dilakukan jika serangan kembali terjadi.
Ketegangan ini mengancam upaya perdamaian yang masih rapuh. Iran menuntut penghentian perang di Lebanon dan pencabutan blokade AS, sementara Washington meminta Teheran menyerahkan material nuklirnya dan menghentikan ambisi senjata nuklir.
Presiden AS Donald Trump mengatakan akan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak membalas serangan rudal Iran ke Israel. Serangan Iran dilakukan sebagai respons atas serangan Israel di pinggiran Beirut, Lebanon.
Trump menilai eskalasi terbaru ini dapat mengganggu upaya perundingan damai antara Washington dan Teheran. Ia mengatakan kepada Iran bahwa setelah meluncurkan rudal, kini saatnya kembali ke meja negosiasi dan mencapai kesepakatan.
Sementara itu, Iran memperingatkan akan memberikan respons "tegas dan menyakitkan" atas serangan Israel ke Lebanon. Di sisi lain, Israel menegaskan akan membalas setiap serangan yang berasal dari Iran.
Ketegangan meningkat setelah Israel kembali menggempur wilayah Beirut selatan yang menjadi basis kuat Hizbullah. Serangan tersebut memicu balasan rudal dari Iran dan memperbesar risiko meluasnya konflik regional.
Meski AS dan Iran disebut semakin dekat menuju kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari, kedua pihak masih saling melancarkan serangan. Trump bahkan kembali mengancam akan melanjutkan operasi militer jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat.
2. Hasil APBN KiTa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 dalam Konferensi Pers APBN KiTA yang digelar pada Jumat (5/6/2026).
Di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Menkeu menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap solid dengan realisasi APBN yang menunjukkan tren sangat positif.
Posisi defisit APBN saat ini masih sangat terjaga, terukur, dan sesuai desain APBN 2026. Pembiayaan anggaran juga dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan.
Defisit APBN meningkat tipis mencapai Rp 180,4 triliun atau 0,70% dari PDB. Angka ini lebih tinggi sedikit dibandingkan Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB pada akhir April 2026.
"Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan positif," kata Purbaya, dalam konferensi pers, dikutip Minggu (7/6/2026).
Defisit fiskal masih menjadi sorotan tajam bagi investor, utamanya di tengah gejolak perang yang membuat harga energi dan turunannya meningkat yang diperkirakan membuat biaya-biaya semakin mahal.
Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juni 2026, Jumat (5/6/2026) di Aula Djuanda, Gedung Djuanda I Lantai Mezzanine, Kementerian Keuangan. (Tangkapan layar) |
3. Cadangan Devisa Bank Indonesia
Pada hari ini, Bank Indonesia akan mengumumkan data cadangan devisa per Mei 2026.
Sebagai catatan, cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026, dari posisi sebelumnya sebesar US$ 148,2 miliar pada bulan Maret. Angka ini menandakan level terendah sejak Juli 2024.
Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pembayaran pajak dan alokasi biaya jasa, pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta penerbitan obligasi global (global bonds). Selain itu, penurunan juga disebabkan oleh langkah intervensi BI di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Meskipun mengalami penurunan, posisi cadangan devisa tersebut dinilai masih sangat aman dan berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran 3 bulan impor. Cadangan saat ini mampu membiayai 5,8 bulan impor, atau 5,6 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah.
4. Indeks Dolar Kembali Terbang, Rupiah Terancam
Indeks dolar kembali terbang ke level 100,069 atau tertinggi sejak akhir Maret 2026. Indeks dolar yang menguat menandai investor kembali memburu dolar AS sehingga bisa memicu outflow dari emerging market, seperti Indonesia. Rupiah pun bisa makin terancam.
Dalam sepekan ini, rupiah ambruk hingga level Rp 18.000/US$1.
Pelemahan rupiah terhadap dolar menjadi sentimen pemberat bagi pasar saham. Posisi tutup minggu ini di level Rp18.010 akan menjadi sentimen di awal pekan depan. Pelemahan rupiah menjadi sinyal negatif bagi investor karena nilai tukar adalah salah satu indikator umum melihat ketahanan ekonomi suatu negara.
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menuturkan pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara berkembang.
"Selain itu kebutuhan (dolar) domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," kata Destry, dalam pesan singkat kepada CNBC Indonesia, dikutip Minggu (7/6/2026).
5. Survei Konsumen
Pada Selasa (9/6/2026), Bank Indonesia akan merilis data Survei Konsumen untuk Mei 2026.
Sebagai catatan, keyakinan konsumen Indonesia pada April 2026 masih berada di zona optimistis. Namun, ada sinyal yang perlu dicermati karena ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan kembali melemah.
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang dirilis Senin (11/5/2026), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 tercatat sebesar 123,0. Angka ini naik tipis dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 122,9.
Namun, kenaikan tipis IKK belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan yang merata. Sebab, komponen ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan justru kembali turun.
Di balik IKK yang masih terjaga, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada April 2026 turun ke level 129,6. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 130,4.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa meski konsumen masih cukup percaya diri terhadap kondisi ekonomi saat ini, pandangan mereka terhadap prospek ekonomi enam bulan ke depan atau hingga Oktober 2026 mulai lebih hati-hati.
Tekanan pada ekspektasi juga terlihat dari tiga komponen pembentuknya. Berdasarkan data BI, seluruh komponen ekspektasi kompak melemah pada April 2026.
Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) turun dari 137,7 pada Maret 2026 menjadi 136,9 pada April 2026. Artinya, harapan konsumen terhadap peningkatan penghasilan dalam enam bulan ke depan sedikit melandai.
Penurunan juga terjadi pada Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK). Indeks ini turun dari 128,0 pada Maret 2026 menjadi 127,7 pada April 2026. Meski masih berada di zona optimistis, pelemahan ini menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati melihat prospek pasar tenaga kerja ke depan.
Sementara itu, pelemahan paling dalam terjadi pada Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU). Indeks ini turun dari 125,5 pada Maret 2026 menjadi 124,1 pada April 2026.
6. Laporan Survei Penjualan Eceran April 2026
Bank Indonesia pada Kamis (11/6/2026) akan mengumumkan data penjualan eceran Mei 2026.
Sebagai catatan, penjualan eceran diprakirakan terjaga pada April 2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 diprakirakan sebesar 231,0 didorong tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Subkelompok Sandang. Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 diprakirakan menurun sebesar -10,0% (mtm), dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Pada Maret 2026, IPR tercatat sebesar 256,7. Kinerja tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau secara tahunan. Secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 tumbuh sebesar 10,3% (mtm), lebih tinggi dari Februari 2026 yang tumbuh sebesar 4,1% (mtm).
Peningkatan tersebut didukung oleh kinerja penjualan seluruh kelompok, terutama Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Subkelompok Sandang, sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat pada periode HBKN Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
7. Gelaran RUPS Hingga Proyeksi Dividen Perusahaan Besar
Sejumlah emiten akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pekan ini.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dijadwalkan digelar pada Rabu pekan ini (10/6/2026). RUPS ini menjadi perhatian besar mengingat emas bersinar terang sejak dua tahun terakhir.
Pada tahun buku 2025, di mana laba bersih perusahaan melonjak drastis hingga mencapai Rp 7,21 triliun, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya.
Jika manajemen ANTM mempertahankan kebijakan Dividend Payout Ratio (DPR) sebesar 100% seperti pada tahun buku 2023 dan 2024, maka nilai Dividend Per Share (DPS) yang didistribusikan kepada investor diproyeksikan mencapai 299,98 per lembar saham.
Emiten tambang pelat merah PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengumumkan akan membagikan total dividen tunai sebesar US$45.638.211 atau sekitar Rp816,14 miliar. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), pemegang saham menyetujui pembayaran dividen setara 60% dari laba bersih tahun buku 2025. Diketahui, laba tahun 2025 INCO tercatat sebesar US$76,06 juta pada 2025, meningkat 31,67% dibandingkan laba tahun sebelumnya.
Jadwal pembagian dividen INCO:
1. Cum Dividen untuk perdagangan di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi 10 Juni 2026
2. Ex Dividen untuk perdagangan di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi 11 Juni 2026
3. Cum Dividen untuk perdagangan di Pasar Tunai 12 Juni 2026
4. Ex Dividen untuk perdagangan di Pasar Tunai 15 Juni 2026
5. Tanggal Tutup Buku Dividen (Recording Date) 12 Juni 2026
6. Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Tahun Buku 2025 26 Juni 2026
Selain data dari dalam negeri, sejumlah data penting ekonomi dari luar negeri akan dirilis pada pekan ini, di antaranya:
8. Pertumbuhan PDF Final Jepang Kuartal I- 2026
Pada pagi hari ini Senin (8/6/2026), Pemerintah Jepang dijadwalkan akan merilis data revisi terbaru mengenai pertumbuhan PDB Kuartal I-2026. Data ini akan memperbarui angka aktual setelah data awal sebelumnya menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,1%.
Hari ini, Jepang juga akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.
Berdasarkan data awal flash, ekonomi Jepang tumbuh secara tahunan sebesar 2,1% pada Kuartal I-2026. Angka ini menunjukkan percepatan dari pertumbuhan Kuartal IV-2025 yang direvisi turun menjadi 0,8%, sekaligus melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,7%. Ini merupakan pertumbuhan tahunan tercepat dalam enam kuartal terakhir.
Pertumbuhan ini utamanya didukung oleh kenaikan konsumsi swasta yang lebih cepat serta kontribusi yang solid dari perdagangan bersih. Sementara itu, investasi publik bangkit kembali dengan kuat, mencatatkan peningkatan untuk pertama kalinya dalam tiga kuartal akibat tingginya pengeluaran terkait infrastruktur dan rekonstruksi.
Pengeluaran pemerintah juga meningkat selama dua kuartal berturut-turut, meskipun kecepatannya melambat tajam dibandingkan periode sebelumnya.
9. Data Ekspor Impor China
Pada Selasa (9/6/2026), China akan merilis data ekspor impor untuk Mei 2026. Data ini penting bagi Indonesia karena China adalah mitra dagang terbesar bagi Indonesia.
Sebagai catatan, ekspor China melonjak 14,1% secara tahunan (yoy) menjadi rekor tertinggi US$359,44 miliar pada April 2026. Angka ini jauh melampaui proyeksi pasar sebesar 7,9% dan meningkat tajam dibanding pertumbuhan 2,5% pada Maret, yang menjadi laju terlemah sejak Oktober 2025.
Lonjakan ekspor terjadi karena banyak perusahaan mempercepat pembelian dan penimbunan komponen dari China di tengah kekhawatiran perang Iran akan mendorong biaya produksi semakin tinggi.
Sementara itu, impor China naik 25,3% yoy menjadi US$274,62 miliar pada April 2026, mencatat rekor tertinggi untuk bulan kedua berturut-turut. Meski melambat dari kenaikan 27,8% pada Maret, angka tersebut masih jauh di atas perkiraan pasar sebesar 15,2%.
Kenaikan impor didorong oleh kuatnya permintaan domestik, meskipun tekanan inflasi meningkat akibat gangguan rantai pasok di Selat Hormuz dan tingginya harga energi.
10. Inflasi China
Pada Rabu (10/6/2026), China akan mengumumkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk Mei 2026.
Sebagai catatan, inflasi tahunan China naik menjadi 1,2% pada April 2026 dari 1,0% pada bulan sebelumnya, melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,8%.
Kenaikan inflasi didorong oleh inflasi non-pangan yang meningkat menjadi 1,8% dari 1,2% pada Maret. Biaya transportasi melonjak signifikan menjadi 4,6% dari 0,9%, seiring kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) China naik 0,3% pada April 2026, berbalik dari penurunan 0,7% pada Maret dan lebih baik dari perkiraan pasar yang memprediksi penurunan 0,1%.
Secara historis, inflasi bulanan China rata-rata berada di level 0,14% sejak 1996. Rekor tertinggi tercatat sebesar 2,6% pada Februari 2008, sedangkan rekor terendah mencapai minus 1,8% pada Juni 1998.
11. Inflasi Amerika
Pada Rabu (10/6/2026), AS akan mengumumkan data inflasi Mei 2026. Data ini sangat penting karena menjadi salah satu pertimbangan The Fed dalam memutuskan suku bunga.
Sebagai catatan, inflasi Amerika Serikat kembali memanas pada April 2026. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,6% secara bulanan (month-to-month), sesuai ekspektasi pasar, setelah melonjak 0,9% pada Maret yang merupakan kenaikan terbesar sejak 2022.
Kenaikan inflasi terutama didorong oleh harga energi yang naik 3,8% pada April, menyusul lonjakan 10,9% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu perang Iran dan penutupan Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi global.
Secara tahunan, inflasi AS meningkat menjadi 3,8% pada April 2026 dari 3,3% pada Maret, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Mei 2023. Angka tersebut juga sedikit lebih tinggi dari proyeksi pasar sebesar 3,7%.
Biaya energi melonjak 17,9% secara tahunan, tertinggi sejak September 2022, didorong oleh kenaikan harga bensin sebesar 28,4% dan bahan bakar minyak sebesar 54,3%.
Sementara itu, inflasi inti (core inflation), yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, naik menjadi 2,8% dari 2,6% pada Maret. Angka ini sedikit di atas perkiraan pasar sebesar 2,7% dan menjadi laju inflasi inti tertinggi sejak September tahun lalu.
12. Inflasi Produsen Amerika
Pada Kamis (11/6/2026), AS akan merilis data Indeks Harga Podusen (PPI).
Sebagai catatan, indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat melonjak 1,4% secara bulanan pada April 2026, kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Angka ini lebih tinggi dari revisi kenaikan 0,7% pada Maret dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,5%.
Lonjakan PPI terutama dipicu kenaikan harga barang sebesar 2%, dengan harga bensin melesat 15,6% akibat berlanjutnya perang Iran yang mendorong harga minyak dunia lebih tinggi. Harga bahan bakar pesawat, solar, sayuran, bahan kimia industri, dan bahan bakar residu juga mengalami kenaikan.
13. Eropa
Sejumlah agenda penting akan mewarnai Eropa pada pekan ini
European Central Bank diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Kamis. Langkah ini menyusul inflasi Zona Euro yang meningkat menjadi 3,2% pada Mei, tertinggi dalam lebih dari dua setengah tahun.
Meski tekanan harga meningkat, data revisi menunjukkan ekonomi Zona Euro mengalami kontraksi pada kuartal I-2026, penurunan pertama sejak akhir 2022.
Di Jerman, perhatian pasar akan tertuju pada data neraca perdagangan, pesanan pabrik, dan produksi industri. Pesanan pabrik diperkirakan turun 1,2% setelah melonjak 5% pada Maret, sementara produksi industri diprediksi mencatat kenaikan pertama dalam lima bulan.
Di Inggris, fokus investor tertuju pada data PDB, produksi manufaktur, dan perdagangan. Ekonomi Inggris diperkirakan menyusut pada April, yang akan menjadi kontraksi bulanan pertama dalam delapan bulan.
14. Piala Dunia Dimulai, Pasar Saham Rawan Sepi
Saat Piala Dunia berlangsung, para penggemar sepak bola lebih memilih membelanjakan uangnya seperti untuk beli baju, nonton bareng, dan pengeluaran lainnya sehingga pasar saham akan ditinggalkan, termasuk Indonesia.
Piala Dunia 2026 akan berlangsung 11 Juni 2026 hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Pasar saham Indonesia pun turut merasakan sepinya perdagangan saat Piala Dunia berlangsung. Sejak edisi Piala Dunia pertama pada abad 21 di Korea - Jepang hingga Rusia pada 2022, rata-rata volume perdagangan IHSG turun.
Namun, Piala Dunia juga bisa menjadi berkah bagi sejumlah emiten mulai dari telekomunikasi hingga consumer goods, terutama makanan dan minuman.
Emiten Seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) hingga Indofood Group akan diuntungkan karena kenaikan penggunaan data dan penjualan makanan.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Pertumbuhan PDB Jepang Final Q1 2026
- Cadangan Devisa Indonesia Mei 2026
-
Presiden melantik pejabat negara di Istana Negara, Jakarta Pusat.
-
Konferensi pers Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Pertanian terkait perkembangan harga TBS dan upaya stabilisasi harga TBS di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.
-
Menteri Perdagangan menghadiri acara HIPPINDO di Jakarta.
-
Komisi XI DPR menggelar rapat dengar pendapat dengan PT KAI, PT INKA, PT PELNI, dan PT SMF terkait realisasi PMN tunai tahun 2025 di ruang rapat Komisi XI DPR, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta Pusat.
-
Menteri ESDM memimpin rapat pimpinan Kementerian ESDM di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat.
-
Konferensi pers RUPS Tahunan TLKM tahun buku 2025 di Telkom Landmark Tower II, The Telkom Hub Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Elnusa Tbk (ELSA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Sat Nusapersada Tbk (PTSN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Menteng Heritage Realty Tbk (HRME)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Kabelindo Murni Tbk (KBLM)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai BISI International Tbk (BISI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Palma Serasih Tbk (PSGO)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Intanwijaya Internasional Tbk (INCI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Ekadharma International Tbk (EKAD)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Malindo Feedmill Tbk (MAIN)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Asiaplast Industries Tbk (APLI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Merck Tbk (MERK)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Citra Tubindo Tbk (CTBN)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Tera Data Indonusa Tbk (AXIO)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Metropolitan Land Tbk (MTLA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Nusantara Infrastructure Tbk (META)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Kokoh Exa Nusantara (KOCI)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Add
source on Google Next Article Belum Ada Kabar Baik: Minyak Membara Lagi, Inflasi AS Masih Bandel
