Peringatan Buat Calon Mahasiswa: Sarjana IT Sudah Kehilangan Pamor
Jakarta,CNBCÂ Indonesia -Â Beberapa tahun lalu, industri teknologi menjadi magnet bagi banyak orang. Startup tumbuh pesat, profesi software engineer diburu, dan coding bootcamp menjamur di mana-mana.
Di tengah tren tersebut, jurusan computer science berubah dari bidang yang relatif niche menjadi salah satu pilihan paling populer di kampus.
Lonjakan minat itu bahkan mengubah cara universitas beroperasi, karena kampus berlomba memperluas program teknologi untuk memenuhi permintaan mahasiswa.
Beberapa tahun lalu, hampir semua jalan menuju industri teknologi tampak mengarah ke tempat yang sama.
Startup tumbuh cepat. Software engineer menjadi salah satu profesi paling diburu. Coding bootcamp bermunculan di mana-mana. Silicon Valley menjelma menjadi simbol kesuksesan ekonomi digital.
Di tengah gelombang itu, computer science berubah dari jurusan yang dulu relatif niche menjadi salah satu pilihan paling populer di kampus.
Popularitasnya kini begitu besar hingga mulai mengubah cara universitas beroperasi. Bukan hanya karena lebih banyak mahasiswa ingin belajar coding, tetapi karena kampus berlomba memenuhi permintaan tersebut.
Ledakan Gelar Computer Science
Dalam satu dekade terakhir, hampir tidak ada bidang studi yang tumbuh secepat computer science.
Data menunjukkan Computer and Information Sciences kini menjadi bidang studi terbesar keempat di Amerika Serikat. Pertumbuhannya sekitar 6,5 kali lebih cepat dibanding rata-rata jurusan lain.
Kenaikan itu jauh melampaui banyak bidang yang selama ini dianggap populer, mulai dari psikologi hingga ilmu sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa computer science telah berkembang menjadi salah satu produk pendidikan paling dicari di ekonomi modern.
Bagi universitas, permintaannya terlalu besar untuk diabaikan.
Bagi mahasiswa, alasannya sederhana: jurusan ini masih menawarkan jalur yang relatif jelas menuju pekerjaan bergaji tinggi.
Bukan Kampus Elite yang Tumbuh Paling Cepat
Ledakan tersebut tidak selalu datang dari kampus yang paling terkenal.
Ketika banyak orang membayangkan computer science, nama seperti MIT, Stanford, atau Carnegie Mellon biasanya muncul lebih dulu. Namun pertumbuhan tercepat justru banyak terjadi di kampus yang lebih fleksibel.
Program online berkembang pesat. Kampus dengan penerimaan yang lebih longgar menambah kapasitas. Model pembelajaran baru memungkinkan lebih banyak mahasiswa menyelesaikan gelar dengan lebih cepat.
Â
Salah satu contoh paling mencolok datang dari Brigham Young University-Idaho. Dalam dua tahun, jumlah lulusan computer science kampus tersebut melonjak dari 639 menjadi lebih dari 2.000 orang.
Fenomena serupa juga terlihat di berbagai institusi yang mengandalkan pembelajaran jarak jauh dan model pendidikan nontradisional.
Dengan kata lain, ledakan computer science tidak lagi terkonsentrasi di pusat-pusat pendidikan teknologi yang selama ini terkenal.
Gelar yang Diproduksi Lebih Cepat
Perubahan juga terjadi pada cara gelar itu diperoleh.
Sebagian kampus mulai menawarkan competency-based degree, model yang menilai mahasiswa berdasarkan kemampuan yang berhasil dikuasai, bukan waktu yang dihabiskan di ruang kelas.
Dalam beberapa program, mahasiswa membayar biaya tetap dan dapat menyelesaikan materi sesuai kecepatan masing-masing. Bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman teknis, prosesnya bisa berlangsung jauh lebih cepat dibanding jalur universitas tradisional.
Jika permintaan tenaga kerja tinggi dan teknologi pembelajaran semakin murah, hasil akhirnya cukup mudah ditebak: sistem pendidikan akan mencari cara menghasilkan lebih banyak lulusan.
Dalam banyak hal, computer science mulai mengikuti pola yang sebelumnya terlihat pada MBA atau sekolah bisnis. Semakin tinggi permintaan pasar, semakin besar kapasitas yang dibangun untuk memenuhinya.
Uang Masih Menjadi Magnet
Ada alasan kuat mengapa minat terhadap computer science belum surut.
Lulusannya masih menikmati salah satu prospek pendapatan terbaik di pasar kerja Amerika. Median gaji awal untuk lulusan sarjana berada di sekitar US$89.000 per tahun. Untuk lulusan magister, angkanya melampaui US$106.000.
Tidak banyak bidang studi yang menawarkan kombinasi serupa antara permintaan pasar, fleksibilitas karier, dan potensi penghasilan.
Karena itu, meski industri teknologi menghadapi perlambatan dan AI mulai mengubah cara kerja programmer, computer science tetap menjadi magnet bagi mahasiswa.
Ketika Gelar Menjadi Arus Utama
Di sinilah pertanyaan yang lebih besar muncul.
Bukan apakah computer science masih relevan. Melainkan apa yang terjadi ketika gelar yang dulu relatif langka berubah menjadi arus utama.
Jumlah mahasiswa meningkat. Universitas memperluas kapasitas. Program online berkembang. Gelar bisa diselesaikan lebih cepat. AI mulai membantu proses belajar dan menulis kode.
Perubahannya tidak terjadi di satu titik, tetapi di seluruh ekosistem.
Â
Ledakan jumlah lulusan juga tidak otomatis berarti ledakan jumlah pekerjaan dengan kualitas yang sama. Ketika semakin banyak orang memiliki keterampilan serupa, persaingan untuk menonjol ikut meningkat.
Gelar computer science masih bernilai. Namun gelar itu sendiri mungkin tidak lagi menjadi pembeda seperti dulu.
Tiket yang Masih Bernilai
Selama bertahun-tahun, computer science dianggap sebagai salah satu tiket paling jelas menuju ekonomi digital.
Tiket itu belum kehilangan nilainya.
Namun ketika semakin banyak orang memilikinya, pertanyaannya perlahan berubah. Bukan lagi siapa yang bisa belajar coding, melainkan siapa yang mampu membedakan dirinya dari jutaan orang lain yang mempelajari hal yang sama.
Â
(mae/mae) Addsource on Google