MARKET DATA

Data Bicara: Rupiah Bisa Bangkit Rp500 Usai Jatuh, Butuh Berapa Hari?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 June 2026 10:30
Terendah Sepanjang Masa, Ini 10 titik Paling Kelam Rupiah
Foto: Infografis/Terendah Sepanjang Masa, Ini 10 titik Paling Kelam Rupiah/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kondisi rupiah yang sedang tertekan dan terus menembus level psikologis baru, kita dapat melihat sisi lain dari pergerakan mata uang Garuda secara historis.

Sebab, tekanan rupiah yang dalam tidak selalu berarti mata uang Garuda tidak bisa kembali menguat. Dalam beberapa momen sebelumnya, rupiah pernah melemah melewati level-level penting, tetapi kemudian mampu berbalik arah setelah tekanan pasar mulai mereda.

Kondisi ini seiring dengan tekanan terhadap rupiah yang semakin dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026). Rupiah resmi menembus level psikologis baru Rp18.000/US$.

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Posisi ini menjadi level terlemah rupiah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren tekanan rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Setelah sebelumnya menembus Rp17.000/US$, rupiah kemudian melemah ke atas Rp17.500/US$, dan kini resmi berada di atas Rp18.000/US$.

Kondisi rupiah yang terus menembus level psikologis tentu membuat pasar waspada. Namun, jika melihat data historis, tekanan seperti ini bukan hal yang benar-benar baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, rupiah juga pernah melemah menembus level penting, mulai dari Rp14.500/US$, Rp15.000/US$, Rp15.500/US$, hingga Rp16.000/US$. Menariknya, dalam sejumlah momen, rupiah mampu kembali menguat lebih dari Rp500/US$ setelah tekanan tersebut.

Berdasarkan data penutupan rupiah, dalam empat momen di luar periode 2020, rupiah membutuhkan waktu sekitar 51 hari hingga 126 hari untuk kembali menguat lebih dari Rp500/US$ setelah menembus level psikologisnya.

Saat Rupiah Jebol Rp15.000/US$ pada 2018

Salah satu momen tekanan rupiah terjadi pada 2018. Saat itu, rupiah menembus level psikologis Rp15.000/US$ pada 2 Oktober 2018. Rupiah ditutup di level Rp15.040/US$.

Tekanan rupiah pada saat itu banyak dipengaruhi oleh faktor global. Dolar AS sedang kuat karena bank sentral AS (The Fed) tengah masuk dalam posisi hawkish atau mengetatkan suku bunga. Ketika suku bunga AS naik, aset berbasis dolar menjadi lebih menarik, sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan.

Namun dari domestik, kala itu pasar sedang mencermati defisit transaksi berjalan Indonesia yang melebar. Sepanjang 2018, defisit transaksi berjalan tercatat sekitar US$31,1 miliar atau 2,98% terhadap PDB.

Kondisi ini membuat kebutuhan valuta asing cukup besar, sehingga tekanan terhadap rupiah ikut meningkat.

Bank Indonesia kemudian merespons dengan kebijakan moneter yang cukup agresif.

Sepanjang 2018, BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 175 basis poin, dari 4,25% menjadi 6,00%. Kenaikan tersebut dilakukan untuk menjaga daya tarik aset rupiah, menahan tekanan nilai tukar.

Rupiah akhirnya kembali terapresiasi. pada 26 November 2018, rupiah berhasil ditutup di Rp14.470/US$. Artinya rupiah berhasil kembali menguat lebih dari 500 perak per dolar dan membutuhkan waktu 55 hari kalender untuk kembali kebawah level psikologisnya di Rp15.000/US$.

Dari Rp14.500 ke Rp13.999, Rupiah Pulih Cepat pada 2019

Momen berikutnya terjadi pada 22 Mei 2019. Rupiah saat itu menembus Rp14.500/US$ dan ditutup di level Rp14.520/US$.

Tekanan rupiah pada kali ini masih datang dari faktor global dan domestik. Dari sisi global, perang dagang antara AS dan China membuat investor lebih berhati-hati masuk ke aset negara berkembang.

Ketika ketidakpastian global meningkat, investor biasanya cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, lebih mudah tertekan.

Namun, tekanan kemudian mulai mereda. Pasar mulai melihat peluang bahwa arah kebijakan moneter AS bisa lebih longgar. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah membuat dolar AS tidak sekuat sebelumnya, sehingga memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.

Rupiah kembali menguat ke bawah Rp14.000/US$ pada 12 Juli 2019, tepatnya di Rp13.999/US$. Dengan begitu, rupiah membutuhkan waktu 51 hari untuk pulih lebih dari Rp500/US$.

The Fed Agresif, Rupiah Jebol Rp15.500

Pada 20 Oktober 2022, rupiah kembali menembus level psikologis. Kali ini, rupiah melemah ke atas Rp15.500/US$ dan ditutup di Rp15.570/US$.

Rupiah kala itu membutuhkan waktu 96 hari untuk akhirnya mampu berbalik menguat, bahkan rupiah berhasil menutup perdagangan di bawah level Rp15.000/US$ tepatnya di Rp14.885/US$ pada penutupan perdagangan 24 Januari 2023.

Tekanan pada 2022 banyak datang dari faktor eksternal. Saat itu, The Fed menaikkan suku bunga secara agresif untuk meredam inflasi tinggi di AS. Inflasi tersebut ikut dipicu oleh lonjakan harga komoditas global, terutama energi dan pangan, setelah perang Rusia-Ukraina pecah pada awal 2022.

Kenaikan harga komoditas membuat tekanan inflasi di banyak negara meningkat. Untuk menahannya, The Fed menaikkan suku bunga dengan cepat. Dampaknya, dolar AS menguat tajam dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bank Indonesia pun juga ikut menaikkan suku bunga untuk menjaga inflasi serta stabilitas rupiah. Langkah ini membantu menjaga daya tarik aset rupiah di tengah tekanan global yang cukup berat.

Namun, di sisi lain, lonjakan harga komoditas juga memberi keuntungan bagi Indonesia. Sebagai negara eksportir komoditas, Indonesia ikut mendapatkan windfall dari kenaikan harga komoditas global, terutama batu bara.

Kenaikan harga batu bara dan sejumlah komoditas ekspor lainnya membuat kinerja ekspor Indonesia terdongkrak. Sepanjang 2022, surplus perdagangan indonesia mencapai US$54,54 miliar.

Surplus besar ini menjadi salah satu bantalan bagi rupiah karena pasokan valuta asing dari ekspor ikut menguat.

Rupiah Tembus Rp16.000

Momen berikutnya pernah terjadi pada April 2024. Saat itu, rupiah menembus Rp16.000/US$ dan ditutup di level Rp16.170/US$ pada penutupan 16 April 2024.

Pelemahan rupiah pada ini juga dipengaruhi oleh tekanan eksternal. Dolar AS masih kuat karena ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mundur. Selain itu, tensi geopolitik global juga membuat investor lebih hati-hati masuk ke aset negara berkembang.

Bank Indonesia kemudian merespons dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada April 2024. Kenaikan suku bunga ini diarahkan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali.

Rupiah baru kembali menguat lebih dari Rp500/US$ pada 20 Agustus 2024, ketika ditutup di Rp15.430/US$. Penguatan rupiah pada periode tersebut terbantu oleh pelemahan dolar AS, meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, serta membaiknya sentimen terhadap aset negara berkembang.

Dalam episode ini, pemulihan rupiah memakan waktu paling lama di antara periode penguatan lainnya, yakni 126 hari.

Kini Rupiah Tembus Rp18.000/US$, Masih Bisa Balik Menguat?

Kini, rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah resmi menembus level psikologis baru Rp18.000/US$.

Jika melihat sejarah, kondisi rupiah yang menembus level psikologis memang tidak selalu berarti tekanan akan berlangsung permanen. Dalam beberapa momen sebelumnya, rupiah masih mampu berbalik menguat setelah menembus level pentingnya.

Namun, pemulihan rupiah tentu tidak datang begitu saja. Penguatan biasanya membutuhkan kombinasi faktor, mulai dari meredanya tekanan dolar AS, membaiknya sentimen global, masuknya kembali aliran modal asing, hingga respons kebijakan dari Bank Indonesia dan pemerintah.

Untuk pelemahan kali ini, Bank Indonesia melihat tekanan rupiah masih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali meningkat. Kondisi ini menghambat prospek damai, membuat harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, serta mendorong arus dana keluar dari negara berkembang.

Selain faktor global, tekanan juga datang dari kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang masih besar. Kebutuhan tersebut berkaitan dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," kata Destry dalam pesan singkat kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/6/2026).

Untuk meredam tekanan tersebut, BI memastikan akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi. Langkah ini dilakukan agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya.

Destry menjelaskan intervensi dilakukan melalui beberapa instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward atau NDF di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara atau SBN di pasar sekunder.

BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market agar tetap menarik aliran modal masuk ke aset domestik. Selain itu, koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan untuk menjaga pasokan serta permintaan valas di pasar.

Tidak hanya melalui intervensi, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction atau LCT. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menekan risiko volatilitas nilai tukar.

Dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan telah mengucurkan dana Rp8 triliun untuk stabilisasi pasar obligasi.

Langkah ini dilakukan untuk membantu BI menjaga stabilitas rupiah, salah satunya dengan membeli kembali atau buyback Surat Utang Negara yang dilepas investor asing.

Respons pemerintah dan BI menjadi penting karena pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar valas.

Jika berlangsung lama, tekanan rupiah juga bisa merembet ke beban pembayaran utang valas, harga impor, subsidi energi, hingga persepsi investor terhadap stabilitas fiskal Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular