MARKET DATA

Harga Minyak Tiba-Tiba Memanas Lagi, Israel Jadi Biang Kerok

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
01 June 2026 08:15
Pemandangan dari drone yang memperlihatkan pompa minyak dan anjungan pengeboran di selatan Midland, Texas, AS, 11 Juni 2025. (REUTERS/Eli Hartman/File Foto)
Foto: Pemandangan dari drone yang memperlihatkan pompa minyak dan anjungan pengeboran di selatan Midland, Texas, AS, 11 Juni 2025. (REUTERS/Eli Hartman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Melansir data Refinitiv pada perdagangan Senin (1/6/2026) pukul 07.45 WIB, harga minyak mentah dunia mencatatkan penguatan yang signifikan.

Harga minyak mentah Brent terpantau melesat ke level US$93,15 per barel, mencatatkan kenaikan kuat setelah pekan sebelumnya sempat mengalami tekanan hingga 10%.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak menguat secara substansial ke posisi US$89,62 per barel.

Lonjakan harga komoditas energi yang melampaui 2% ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas, sehingga menepis ekspektasi pasar akan adanya penyelesaian konflik secara damai dalam waktu dekat.

Eskalasi Konflik Bergeser ke Lebanon

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini memasuki fase yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap pasar. Konflik yang sebelumnya berpusat pada ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini secara nyata bergeser menjadi konfrontasi terbuka antara Israel dan Lebanon.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi telah menginstruksikan militernya untuk memperluas manuver darat ke wilayah Lebanon selatan, mengabaikan kerangka gencatan senjata yang telah didiskusikan lebih dari enam pekan lalu. Langkah agresif ini ditujukan untuk menekan infrastruktur militer dan kekuatan kelompok Hizbullah.

Dalam operasi darat terbarunya, pasukan Israel dilaporkan telah merebut Kastel Beaufort yang strategis dan terus bergerak lebih jauh ke arah utara menuju Sungai Zaharani.

Operasi militer yang kian intensif ini praktis memupus harapan akan keberhasilan perundingan damai yang dimediasi oleh Washington, terutama setelah perwakilan kedua belah pihak gagal memformulasikan kesepakatan akhir pada akhir pekan lalu.

Ancaman Pasokan di Selat Hormuz

Eskalasi pertempuran ini secara langsung memberikan ancaman terhadap stabilitas rantai pasokan energi global. Kekhawatiran para pelaku pasar tidak hanya bersumber dari peperangan darat di Lebanon, melainkan juga meningkatnya risiko keamanan di jalur maritim.

Terdapat sejumlah laporan mengenai potensi penambahan ranjau laut di kawasan Selat Hormuz, jalur perairan krusial yang menjadi urat nadi bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembersihan dan normalisasi rute pelayaran strategis ini akan memakan waktu yang cukup lama, bahkan jika kesepakatan politik antara pihak-pihak yang bertikai pada akhirnya tercapai.

Kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah ini menjadi sentimen utama yang mengendalikan arah pasar minyak, hingga mampu mengesampingkan rilis data ekonomi dari China yang menunjukkan perlambatan aktivitas manufaktur pada akhir pekan lalu.

Imbas pada Harga BBM Domestik

Dinamika harga minyak mentah global dan fluktuasi pasar energi dunia ini tentu menjadi indikator penentu kebijakan energi di dalam negeri.

Merespons pergerakan pasar tersebut, PT Pertamina Patra Niaga resmi menerapkan penyesuaian harga untuk sejumlah produk bahan bakar minyak nonsubsidi yang berlaku efektif mulai 1 Juni 2026.

Penyesuaian ini merupakan langkah rutin yang memperhitungkan tren harga energi internasional serta formula harga yang ditetapkan pemerintah guna menjaga keberlanjutan distribusi nasional.

Untuk kategori bahan bakar diesel, Pertamina menetapkan penurunan harga jual. Harga Dexlite (CN 51) diturunkan menjadi Rp23.000 per liter dari harga sebelumnya Rp26.000 per liter.

Sejalan dengan itu, Pertamina Dex (CN 53) juga mengalami penurunan dari Rp27.900 per liter menjadi Rp24.800 per liter. Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan efisiensi operasional bagi sektor logistik dan transportasi nasional.

Di sisi lain, harga BBM jenis bensin beroktan tinggi yakni Pertamax Turbo (RON 98) disesuaikan naik menjadi Rp20.750 per liter dari sebelumnya Rp19.900 per liter.

Sementara itu, untuk harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) dipastikan tetap atau tidak mengalami perubahan, masing-masing berada di angka Rp12.300 dan Rp12.900 per liter.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular