MARKET DATA

Terduga Under Invoicing, 2 Raksasa Sawit Lapor Keuangan di Singapura

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
29 May 2026 14:10
Kebun Sawit milik Sampoerna Agro. (Dok sampoerna agro)
Foto: Kebun Sawit milik Sampoerna Agro. (Dok sampoerna agro)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan ada 10 perusahaan sawit yang terdeteksi oleh sistem Kementerian Keuangan melakukan tindakan underinvoicing dan transfer pricing terhadap ekspor Crude Palm Oil (CPO).

Sepuluh perusahaan tersebut termasuk Wilmar International Limited, Musim Mas Group, PT Salim Ivomas Pratama Tbk dan Golden Agri-Resources.

Pihak Kementerian Keuangan mendeteksi adanya indikasi praktik underinvoicing dan transfer pricing terhadap aktivitas ekspor CPO dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Wilmar serta afiliasi Sinar Mas (Golden Agri-Resources) menjadi sorotan utama yang memiliki lahan operasional di Indonesia dengan perusahaan holding di Singapura.

Langkah penegakan aturan ini dipastikan tidak ditujukan untuk menutup kegiatan operasional perusahaan, melainkan berfokus pada upaya menuntut penyelesaian transparansi penjelasan ekspor yang belum sesuai berdasarkan data transaksi historis selama beberapa tahun ke belakang yang didapatkan oleh pemerintah.

Berikut laporan keuangan Wilmar, Golden Agri-Resources yang merupakan holding dari PT Sinar Mas Agro Tbk (SMAR). 

Kineja keuangan Wilmar dan Golden Asri dilaporkan di Singapura sementara SMAR di Bursa Efek Indonesia.

Menelaah struktur laporan keuangan kuartal pertama 2026, entitas induk di pasar global secara serempak memperlihatkan anomali antara pertumbuhan volume pendapatan dengan kemampuan mencetak laba.

Wilmar International Limited membukukan lonjakan pendapatan sebesar 21,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 353,25 triliun.

Kendati perolehan pendapatannya meningkat drastis, laba bersih perusahaan justru tertekan cukup dalam sebesar 22,8% menjadi Rp 4,75 triliun. Kondisi ini secara langsung menggerus tingkat Net Profit Margin (NPM) Wilmar dari 2,12% pada awal 2025 menjadi 1,34% pada kuartal pertama 2026.

Pola tekanan operasional serupa juga dialami oleh entitas induk Golden Agri-Resources Ltd. Perusahaan meraup pertumbuhan pendapatan sebesar 6,0% menjadi Rp 57,81 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Walaupun mencatatkan pertumbuhan penjualan, laba bersih Golden Agri justru terkoreksi tajam sebesar 20,0% menjadi Rp 786,81 miliar. Koreksi ini pada akhirnya menekan margin laba bersih perusahaan ke level 1,36%.

Di sisi lain, pergerakan fundamental yang bertolak belakang secara ekstrem justru diperlihatkan oleh PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) selaku entitas afiliasi domestik Golden Agri-Resources.

Secara nominal, SMAR melaporkan kontraksi pendapatan tipis sebesar 2,0% menjadi Rp 20,73 triliun. Penurunan dari sisi penjualan ini nyatanya tidak menghalangi perusahaan untuk mencetak efisiensi operasional yang sangat agresif. Laba bersih SMAR melesat luar biasa hingga 518,1% menyentuh angka Rp 829,50 miliar.

Ledakan profitabilitas di level anak usaha ini mendorong ekspansi marjin laba bersih secara masif, melompat dari 0,63% pada awal 2025 menjadi 4,00% pada kuartal pertama 2026.

Dinamika anomali berupa penyusutan tajam laba entitas induk di luar negeri yang diiringi oleh lonjakan eksponensial laba anak usaha di dalam negeri ini memberikan sebuah konteks yang relevan.

Fluktuasi margin dan disparitas perolehan laba di antara yurisdiksi yang berbeda ini menjadi salah satu pemicu utama mengapa otoritas fiskal kini tengah menaruh pengawasan ketat terhadap celah indikasi transfer pricing di industri CPO nasional.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular