Cukup Sudah Jadi "Kurban" Market, Investor IHSG Juga Ingin Bahagia
Pasar keuangan Indonesia hari ini diperkirakan akan banyak dibayangi sentimen wait and see mengingat adanya libur panjang Idul Adha. Pasar keuangan akan ditutup pada Rabu dan Kamis sebelum dibuka lagi pada Jumat.
Mengingat pendeknya perdagangan pada pekan ini, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentiman baik dari dalam ataupun luar negeri, terutama perkembangan perang.
1. Deal AS-Iran Mendekat, Harga Minyak Jatuh
Negosiasi AS-Iran di Doha untuk mengakhiri perang tiga bulan mulai menunjukkan kemajuan, termasuk pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu nuklir Iran. Namun, Washington dan Teheran masih belum yakin kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat.
Optimisme pasar membuat harga minyak anjlok, dengan Brent turun 7% ke US$96,14 per barel dan WTI melemah lebih dari 6% ke US$90,30 per barel.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tetapi memperingatkan AS bisa kembali menyerang jika negosiasi gagal. Sementara itu, Menlu AS Marco Rubio menegaskan diplomasi masih menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, Israel tetap meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon, sementara Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di kawasan Teluk Persia. Ketegangan kawasan sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
2. Inflasi PCE Amerika Serikat
Kendati pelaku pasar keuangan Indonesia tutup pada Kamis tetapi pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang terjadid i luar negeri, termasuk dari AS.
Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi pengeluaran pribadi atau PCE untuk periode April pada Kamis (28/5/2026). Inflasi ini merupakan guidance utama The Fed alam menentukan kebijakan suku bunga.
Seperti diketahui, indeks harga PCE Amerika Serikat naik 3,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026, tertinggi sejak Mei 2023 dan sesuai ekspektasi pasar. Secara historis, inflasi PCE AS rata-rata berada di level 3,28% sejak 1960 hingga 2026, dengan rekor tertinggi 11,6% pada Maret 1980 dan terendah minus 1,47% pada Juli 2009.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), indeks harga PCE AS naik 0,7% pada Maret 2026, sejalan dengan perkiraan pasar dan lebih tinggi dibanding kenaikan Februari sebesar 0,4%. Ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Juni 2022.
Kenaikan terutama dipicu lonjakan harga barang sebesar 1,4%, didorong kenaikan harga bensin dan energi lainnya hingga 20,9%. Sementara itu, inflasi sektor jasa meningkat menjadi 0,3% dari sebelumnya 0,2%, terutama akibat kenaikan biaya layanan transportasi.
Adapun indeks inti PCE (core PCE), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,3% setelah meningkat 0,4% pada Februari. Secara tahunan, indeks PCE utama mencapai 3,5%, sedangkan core PCE naik menjadi 3,2%.
3. IHSG Sudah Bangkit?
IHSG tengah dalam tren positif dengan menguat dua hari beruntun. Penguatan ini menjadi kabar baik karena sebelumnya IHSG sudah ambruk delapan hari beruntun. Rekor buruk ini terakhir terjadi pada Agustus 005 atau hampir 21 tahun yang lalu.
IHSG ambruk 10,8% sepanjang bulan ini dan kemungkinan akan mengakhiri Mei dengan pelemahan. Artinya, IHSG sudah ambruk selama lima bulan beruntun. Sepanjang tahun ini, tak sekalipun IHSG mencatatkan penguatan bulanan.
IHSG juga lebih kerap merah dibandingkan berakhir do zona hijau. Sepanjang perdagangan 2026, IHSG melemah sebanyak 50 kali dan menguat hanya 40 kali.
IHSG juga sudah jatuh 28,2% sepanjang 2026 yang membuatnya menjadi indeks saham terburuk di dunia.
Catatan buruk IHSG tak hanya itu, indeks sudah jatuh 32% jika dilihat dari titik tertingginya apda 19 Januari 2026 ( 9133). Jatuhnya IHSG ini hanya berlangsung tak kurang dari lima bulan. IHSG juga ambruk dipicu beragam sentiment negatif mulai dari perang, rebalancing MSCI, downgrade outlook rating hingga kekhawatiran mengenai fiskal.
IHSG bahkan mengalami trading halt pada 28-29 Januari 2026 setelah sejumlah petinggi bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mundur.
Ambruknya IHSG ini tentu saja berdampak besar terhadap tingkat keuntungan/kerugian investor. Dengan banyaknya investor yang ada di IHSG maka dampaknya ke ekonomi Indonesia akan lebih besar.
4. Libur Panjang Idul Adha
Menjelang Idul Adha, roda ekonomi Indonesia biasanya ikut bergerak lebih kencang. Momentum hari raya kurban bukan hanya berdampak pada aktivitas ibadah, tetapi juga memicu lonjakan perputaran uang di berbagai sektor, mulai dari peternakan hingga konsumsi rumah tangga.
Permintaan hewan kurban seperti sapi, kambing, dan domba melonjak signifikan dalam beberapa pekan sebelum Idul Adha. Kondisi ini menjadi angin segar bagi peternak lokal, pedagang hewan, distributor pakan ternak, hingga jasa transportasi pengiriman ternak. Tak heran, harga hewan kurban juga cenderung naik akibat tingginya permintaan masyarakat.
Perputaran dana kurban pun nilainya tidak kecil. Uang yang berasal dari masyarakat, perusahaan, hingga lembaga sosial diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah secara nasional. Efek bergandanya ikut terasa di pasar tradisional, UMKM makanan, jasa logistik, hingga pedagang perlengkapan kurban.
Tak hanya itu, konsumsi rumah tangga biasanya ikut meningkat menjelang Idul Adha. Belanja masyarakat naik untuk kebutuhan makanan, pakaian, transportasi, hingga wisata lokal. Meski skalanya tidak sebesar Lebaran, momentum ini tetap memberi dorongan terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Di sisi lain, distribusi daging kurban juga memberi dampak sosial yang besar. Pembagian daging kepada masyarakat membantu meningkatkan konsumsi protein sekaligus meringankan beban pengeluaran pangan, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.
(mae/mae) Addsource on Google