MARKET DATA
Newsletter

Minyak Tumbang, Deal AS-Iran Makin Dekat: RI Bisa Bernapas Lega?

mae,  CNBC Indonesia
25 May 2026 06:20
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
  • Pasar keuangan Indonesia babak belur pada pekan lalu, IHSG dan rupiah ambruk
  • Wall Street mencetak rekor pada perdagangan terakhir pekan lalu
  • Perkembangan perang, data ekonomi, dan Libur Idul Adha akan menjadi penggerak pasar pekan ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia babak belur pada pekan lalu. Bursa saham dan rupiah sama-sama mencetak rekor buruk.

Bursa saham, rupiah dan pasar obligasi diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada pekan pendek ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (22/5/2026), IHSG memang berakhir menguat 1,10% ke 6162,05. Namun, penguatan ini tidak menutup ambruknya bursa saham Indonesia.

Dalam sepekan, IHSG ambruk 8,35% pada pekan lalu.

IHSG juga ambruk delapan bari beruntun pada 5-21 Mei 2026 dengan total pelemahan 15,04%. Jatuhnya IHSG selama delapan hari belum pernah terjadi sejak Agustus 2005 atau hampir 21 tahun terakhir.

Bahkan, selama pandemi Covid-19, IHSG hanya pernah jatuh beruntun paling lama selama tujuh hari yakni pada awal pandemi Maret 202020 dan awal Januari 2021.

Pekan lalu, rata-rata nilai transaksi harian melonjak 16% menjadi Rp21,8 triliun. Sementara volume transaksi naik 2,5% menjadi 36,67 miliar saham, meski frekuensi transaksi turun 6,5% menjadi 2,4 juta kali transaksi.

Kondisi ini mengindikasikan aksi jual besar-besaran masih mendominasi pasar modal domestik.


Sepanjang tahun ini, IHSG sudah ambruk 28,74%. Pelemahan sebesar ini membuat IHSG menjadi indeks terburuk di seluruh dunia.

Jika dihitung sepanjang tahun ini, market cap IHSG sudah menguap Rp 5214 triliun.

Jika menghitung dari titik tertinggi sepanjang masa yakni pada 19 Januari 2026 (9133,87), IHSG sudah ambruk 32,5% sementara market cap sudah menguap Rp 6.005 triliun.

Sepanjang tahun ini, asing juga sudah mencatat net sell sebesar Rp 37,5 triliun.

Dari pasar mata uang, pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (22/5/2026) rupiah ditutup di posisi Rp 17.690/US$1 atau melemah 0,28% per dolar Amerika Serikat (AS).
Sepanjang pekan lalu, rupiah jatuh 1,32%. Artinya, rupiah sudah ambruk delapan pekan beruntun.

Nilai tukar Garuda bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.700 di tengah derasnya arus keluar modal asing dan membengkaknya defisit transaksi berjalan Indonesia.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Neara (SBN) justru melandai ke 6,74%. Imbal hasil yang melandai menandai SBN tengah diborong sehingga harga naik, imbal hasil turun.


Saham-saham di Amerika Serikat ditutup menguat pada Jumat pekan lalu setelah imbal hasil obligasi pemerintah melemah. Kondisi tersebut membuat Wall Street membukukan pekan positif meski volatilitas pasar masih tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 294,04 poin atau 0,58% ke level 50.579,70. Indeks yang berisi 30 saham unggulan itu sempat mencetak rekor tertinggi intraday dan kembali mencatat rekor penutupan baru. Sementara itu, S&P 500 naik 0,37% ke 7.473,47 dan Nasdaq Composite menguat 0,19% ke posisi 26.343,97.

Meski ketiga indeks utama berakhir di zona hijau, penguatan tersebut sempat berkurang dibanding level tertinggi yang dicapai pada awal sesi perdagangan.

"Ini adalah pasar segalanya (everything market). Pasar saat ini tampaknya lebih khawatir kehilangan peluang perdamaian di Timur Tengah dibanding risiko menahan posisi beli selama akhir pekan," kata Kepala Strategi Interactive Brokers Steve Sosnick kepada CNBC International.

Hingga kini belum jelas apakah Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Harga minyak ditutup sedikit lebih tinggi pada Jumat, tetapi masih berada di bawah puncak yang sempat dicapai awal pekan lalu karena pelaku pasar berharap konflik Iran dapat segera menemukan solusi. Minyak mentah Brent naik 0,9% ke US$103,54 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,3% ke US$96,60 per barel.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun hampir 3 basis poin ke sekitar 4,56%, sedangkan yield obligasi tenor 30 tahun turun lebih dari 4 basis poin ke kisaran 5,06%.

Sebelumnya, volatilitas pasar obligasi sempat menekan saham sepanjang pekan lalu. Yield obligasi 30 tahun bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak 2007 sebelum akhirnya turun kembali, sementara yield tenor 10 tahun menyentuh posisi tertinggi dalam lebih dari setahun. Investor khawatir perang AS-Iran berkepanjangan akan menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu tekanan inflasi.

Di sisi lain, saham Qualcomm melonjak hampir 12% pada Jumat dan mencatat kenaikan harian ketiga berturut-turut. Secara mingguan, saham perusahaan semikonduktor tersebut melesat 18,2%.

Secara keseluruhan, indeks S&P 500 menguat 0,9% sepanjang pekan lalu dan mencatat kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak akhir 2023. Dow Jones naik 2,1% dan membukukan pekan lalu positif ketiga dalam empat minggu terakhir. Sementara Nasdaq bertambah 0,5% dan mencatat kenaikan mingguan ketujuh dalam delapan pekan terakhir.

Perdagangan pekan ini akan berlangsung pendek karena ada libur Idul Adha pada Rabu dan Kamis (27-28 Mei 2026). Mengingat pendeknya perdagangan, pelaku pasar mesti mencermati sejumlah sentimen pekan ini.

Sentimen luar negeri masih akan berfokus pada perkembangan perang iran yang akan memasuki bulan ke empat. Dari dalam negeri, kebijakan pemerintah dan data ekonomi akan menjadi salah satu penggerak sentimen. 

1. Perkembangan Perang

Perang Iran akan melewati periode tiga bulan pada pekan ini.

Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan damai untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kedua negara masih berselisih soal stok uranium Iran dan rencana pungutan biaya kapal di jalur strategis tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ada "tanda positif" menuju kesepakatan, tetapi menegaskan AS menolak sistem pungutan di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump juga menegaskan jalur itu harus tetap terbuka dan bebas untuk pelayaran internasional.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, tetapi aktivitas pelayaran nyaris berhenti sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Negosiasi juga masih terhambat isu uranium yang diperkaya. AS meminta Iran menyerahkan stok uranium karena khawatir dipakai untuk senjata nuklir, sementara Iran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan damai.

Trump meminta tim negosiatornya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dan menegaskan blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai perjanjian resmi ditandatangani. Ia juga menghadapi kritik dari sejumlah tokoh Partai Republik seperti Mike Pompeo dan Ted Cruz yang menilai kesepakatan itu terlalu menguntungkan Iran.

2. Dampak Data dan Kebijakan Pemerintah

Pekan lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan besar yakni pembentukan badan ekspor komoditas strategis. Dampak kebijakan ini diperkirakan masih akan menjadi perhatian pelaku pasar pekan ini, terutama karena masih banyak aturan turunan yang belum keluar.

Kebijakan baru ini menjadi perhatian besar pasar karena dikhawatirkan berdampak besar terhadap kinerja perusahaan.

Pemerintah memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya ekspor komoditas strategis Indonesia ke BUMN khusus ekspor, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia alias PT DSI pada 1 Januari 2027, mundur dari sebelumnya 1 September 2026.

Pemerintah akan mulai menerapkan mekanisme ekspor melalui badan khusus mulai bulan depan, dengan masa transisi hingga 31 Desember 2026. Selama periode tersebut, perusahaan masih diperbolehkan menjual langsung kepada pembeli, namun seluruh dokumentasi ekspor wajib melalui badan usaha milik negara (BUMN).

Setelah masa transisi berakhir, pemerintah akan melakukan evaluasi sebelum kebijakan diterapkan penuh mulai Januari 2027. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat pengawasan ekspor, menekan praktik underinvoicing, transfer pricing, hingga mencegah pelarian devisa ke luar negeri.

Pekan lalu, Bank Indonesia juga mengeluarkan data penting yakni Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan.
NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,1 miliar.

Angka ini menjadi catatan yang cukup mengejutkan karena bukan hanya menunjukkan tekanan besar pada sektor eksternal, tetapi juga menjadi defisit terdalam sejak pencatatan data NPI kuartalan yang tersedia di BI sejak 2004.

Transaksi berjalan Indonesia juga kembali mencatat defisit cukup dalam pada kuartal I-2026. Bank Indonesia mencatat, transaksi berjalan mengalami defisit sebesar US$4,0 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dengan posisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 menjadi yang terdalam sejak kuartal IV-2019. Saat itu, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$8,04 miliar.

3. Inflasi PCE Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi pengeluaran pribadi atau PCE untuk periode April pada Kamis (28/5/2026). Inflasi ini merupakan guidance utama The Fed alam menentukan kebijakan suku bunga.

Seperti diketahui, indeks harga PCE Amerika Serikat naik 3,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026, tertinggi sejak Mei 2023 dan sesuai ekspektasi pasar. Secara historis, inflasi PCE AS rata-rata berada di level 3,28% sejak 1960 hingga 2026, dengan rekor tertinggi 11,6% pada Maret 1980 dan terendah minus 1,47% pada Juli 2009.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), indeks harga PCE AS naik 0,7% pada Maret 2026, sejalan dengan perkiraan pasar dan lebih tinggi dibanding kenaikan Februari sebesar 0,4%. Ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Juni 2022.

Kenaikan terutama dipicu lonjakan harga barang sebesar 1,4%, didorong kenaikan harga bensin dan energi lainnya hingga 20,9%. Sementara itu, inflasi sektor jasa meningkat menjadi 0,3% dari sebelumnya 0,2%, terutama akibat kenaikan biaya layanan transportasi.

Adapun indeks inti PCE (core PCE), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,3% setelah meningkat 0,4% pada Februari. Secara tahunan, indeks PCE utama mencapai 3,5%, sedangkan core PCE naik menjadi 3,2%.


4. Pidato Pejabat The Fed

Pejabat Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menghadiri sejumlah agenda penting pekan ini yang akan menjadi perhatian pasar global. Gubernur Lisa D. Cook akan membahas dampak AI terhadap ekonomi dan sistem keuangan di Stanford, sementara Wakil Ketua Philip N. Jefferson berbicara soal perkembangan ekonomi global dan AS di konferensi Bank of Japan di Tokyo.

Pada Jumat (29/5), Wakil Ketua The Fed Michelle W. Bowman dijadwalkan menyampaikan pidato mengenai kebijakan moneter di Islandia. Sementara Minggu (31/5), Gubernur Christopher J. Waller akan membahas stablecoin di Kroasia, dan Jerome H. Powell memberikan pidato dalam acara penghargaan John F. Kennedy Profile in Courage Award di Boston. Pasar juga menantikan sejumlah rilis data suku bunga dan likuiditas AS sepanjang pekan ini.

Pidato The Fed menjadi perhatian pasar karena akan menjadi petunjuk suku bunga ke depan. Terlebih, The Fed memiliki chairman baru Kevin Warsh yang resmi dilantik pada pekan lalu.

5. Harga Minyak Jatuh

Di awal perdagangan pekan ini, Senin (25/5/206) pukul 06.10 WIB, harga minyak mentah acuan global Brent sempat turun hingga 5,2% ke level US$98,12 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$92 per barel.

Trump mengatakan dalam unggahan di media sosial bahwa ia tidak akan "terburu-buru" mencapai kesepakatan, yang menurutnya "bahkan belum sepenuhnya dinegosiasikan." Persetujuan final atas kesepakatan tersebut kemungkinan masih membutuhkan waktu beberapa hari, menurut pejabat senior AS.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan pekan lalu. 

Pada perdagangan terakhir pekan lalu Jumat (22/5/2026), harga minyak brent ditutup menguat 0,94% ke US$103,54 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,26% menjadi US$96,60 per barel. Kedua kontrak sempat melonjak lebih dari 3% pada awal sesi perdagangan.




6. Data China

Dari Asia, China kembali menjadi pusat perhatian pasar komoditas. Investor menunggu data PMI manufaktur resmi NBS dan PMI manufaktur Caixin/RatingDog yang akan dirilis pada Sabtu (30//5/2026).

PMI manufaktur resmi China sebelumnya berada di level 50,3. Angka itu masih menandakan ekspansi walau lajunya mulai melunak. Sementara PMI manufaktur versi swasta melonjak ke 52,2, tertinggi sejak akhir 2020.

Ada detail yang diperhatikan pelaku pasar komoditas: harga input pabrik China naik tajam akibat gangguan rantai pasok dan kenaikan harga minyak. Aktivitas pembelian bahan baku juga meningkat.

Permintaan industri China yang tetap kuat menjadi penyangga penting bagi batu bara, nikel, tembaga, hingga CPO Indonesia.

Pasar juga akan melihat data ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat pada awal Juni. Angka sebelumnya bertahan di 52,7, tertinggi sejak 2022. Namun tekanan biaya produksi mulai naik akibat lonjakan harga energi selama konflik Iran.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Ketua Dewan Ekonomi Nasional memberikan keynote speech dalam "ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy" dengan tema "Navigating Global Uncertainty: Sustaining Growth and Stability in ASEAN" di kantor DEN, Jakarta Pusat

  • Menteri Perdagangan akan meluncurkan Persetujuan Tiper dan Tera Ulang Alat Ukur Pengisi Daya Kendaraan Listrik di pelataran parkir kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melaksanakan Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026 di Balai Kartini, Dana Rote Ballroom, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Ketua Komisi XI DPR, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan (tentatif), dan Ketua DK OJK.

  • Diskusi "Mendorong Hilirisasi Nikel Indonesia menjadi Mesin Pemerataan Nilai Tambah dan Pertumbuhan Industri Hijau" di Jakarta.

  • Talkshow dengan tema "A Decade of Simplifying Indonesia's Healthcare Ecosystem, and Shaping What Comes Next" di Amanaia Resto, Jakarta Selatan.

Berikut agenda korporasi hari ini:

RUPS PT Asiaplast Industries Tbk

RUPS PT Cakra Buana Resources Energi Tbk

RUPS PT Mahaka Media Tbk

RUPS PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk

RUPS PT Merck Tbk

RUPS PT Malindo Feedmill Tbk

RUPS PT Sumber Global Energy Tbk.

RUPS PT Mastersystem Infotama Tbk.

RUPS PT Tata Tiara Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Astra International Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Multi Prima Sejahtera Tbk

Tanggal DPS Dividen Tunai PT Prima Andalan Mandiri Tbk

Tanggal DPS Dividen Tunai PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk

Tanggal ex Dividen Tunai Plaza Indonesia Realty Tbk

Tanggal ex Dividen Tunai PT Medela Potentia Tbk

Tanggal DPS Dividen Tunai PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk

Tanggal DPS Dividen Tunai Ramayana Lestari Sentosa Tbk

Tanggal ex Dividen Tunai PT Chemstar Indonesia Tbk

Tanggal ex Dividen Tunai PT Chemstar Indonesia Tbk

Tanggal ex Dividen Tunai Tigaraksa Satria Tbk

Tanggal ex Dividen Tunai Cita Mineral Investindo Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Wijaya Karya Beton

Tanggal cum Dividen Tunai PT Nusatama Berkah Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Gunung Raja Paksi Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai PT Chandra Asri Pacific Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Ecocare Indo Pasifik Tbk.

Tanggal cum Dividen Saham Wintermar Offshore Marine Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Wintermar Offshore Marine Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:



(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article RI Dihantam 2 Badai Besar: MSCI Depak 18 Saham & Inflasi AS Memanas


Most Popular
Features