MARKET DATA

Harga Minyak Melonjak Lagi, Dunia Panik Karena Pasokan Mulai Kritis

mae,  CNBC Indonesia
23 May 2026 08:00
Kilang minyak, di Zona Industri Keihin di Kawasaki, selatan Tokyo, Jepang, 17 Maret 2026. ( REUTERS/Issei Kato)
Foto: Kilang minyak, di Zona Industri Keihin di Kawasaki, selatan Tokyo, Jepang, 17 Maret 2026. ( REUTERS/Issei Kato)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kembali merangkak naik karena investor khawatir Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai yang dapat memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026), harga minyak brent ditutup menguat 0,94% ke US$103,54 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,26% menjadi US$96,60 per barel. Kedua kontrak sempat melonjak lebih dari 3% pada awal sesi perdagangan.

Kenaikan kemarin, memutus rekor buruk harga minyak brent yang jatuh 8,5% dan WTI ambruk 11,3% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.

Dalam sepekan, harga minyak brent ambruk 5,24% pekan ini, membalikkan arah penguatan 7,87% pada pekan lalu.

Sementara itu, harga minyak WTI jatuh 6,74%, berbanding terbalik dengan lonjakan 28,03% pada pekan sebelumnya.

"Kita terus dibombardir berbagai headline yang berubah-ubah, sehingga sulit mengikutinya. Sekarang narasinya Iran akan menyerahkan uranium demi pencabutan sanksi. Tapi kabarnya terus berubah sebelum tinta koran mengering," kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip dari Refinitiv.

Sumber diplomatik di Islamabad, Pakistan, mengatakan kepada kantor berita Iran IRNA bahwa kepala angkatan darat Pakistan telah berangkat ke Iran.

Sebelumnya, sumber senior Iran mengatakan bahwa perbedaan dengan AS mulai menyempit, sementara Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut ada "sejumlah sinyal positif" dalam perundingan.

"Ada kemajuan. Saya tidak ingin melebih-lebihkan, tapi juga tidak ingin meremehkannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kita belum sampai ke sana, tapi saya berharap bisa mencapainya," kata Rubio kepada wartawan setelah pertemuan menteri NATO di Swedia.

Rubio juga mengatakan AS terus berkomunikasi dengan Pakistan yang membantu memfasilitasi negosiasi dengan Iran.

Meski demikian, kedua negara masih berselisih mengenai stok uranium Iran dan penguasaan atas Selat Hormuz.

Rubio juga menegaskan AS belum meminta bantuan negara-negara NATO untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan cadangan minyak global menyusut dengan cepat karena arus minyak melalui Selat Hormuz melambat drastis.

"Optimisme terhadap kemungkinan gencatan senjata dalam waktu dekat dan sentimen bearish setiap brent mendekati US$110 membatasi kenaikan harga minyak lebih lanjut," katanya.

Secara terpisah, tim negosiasi Qatar tiba di Teheran pada Jumat dengan koordinasi AS untuk membantu mengamankan kesepakatan damai.

Dunia Khawatir dengan Inflasi Minyak

Enam minggu setelah gencatan senjata rapuh dalam perang AS-Israel melawan Iran, harga energi yang tinggi meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan prospek ekonomi global.

BMI, unit dari Fitch Solutions, menaikkan proyeksi rata-rata harga brent 2026 menjadi US$90 per barel dari sebelumnya US$81,50.
Kenaikan ini mencerminkan defisit pasokan, waktu perbaikan infrastruktur energi Teluk yang rusak, dan periode normalisasi pascakonflik selama enam hingga delapan pekan.

Sebelum perang, sekitar 20% pasokan energi global melewati Selat Hormuz. Konflik saat ini telah menghilangkan sekitar 14 juta barel minyak per hari atau sekitar 14% pasokan global dari pasar, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Kepala perusahaan minyak nasional UEA, ADNOC, mengatakan arus penuh minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan baru pulih pada kuartal pertama atau kedua 2027 bahkan jika konflik berakhir sekarang.

Sementara itu, tujuh negara produsen utama OPEC+ diperkirakan akan menyetujui kenaikan produksi moderat untuk Juli dalam pertemuan 7 Juni mendatang, meski pengiriman minyak beberapa negara masih terganggu akibat perang.

Menurut analis Eurasia Group, risiko eskalasi konflik masih tinggi meskipun upaya diplomatik terus ditingkatkan.

 

Pasalnya, Iran dan AS masih memiliki perbedaan besar dalam negoisasi, terutama terkait tuntutan AS agar Iran sepenuhnya menghentikan program nuklirnya dan menyerahkan 400 kilogram uranium yang diperkaya kepada Washington.

Pelaku pasar juga khawatir terhadap kemungkinan serangan baru terhadap infrastruktur energi Iran yang dapat memperketat pasokan minyak dunia.

Sementara itu, Selat Hormuz masih diblokade Iran.

Semakin lama blokade berlangsung semakin besar kebutuhan untuk menggunakan cadangan minyak.

Kapan Pasokan Pulih?

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency sebelumnya telah memperingatkan pada 13 Mei mengenai penurunan cadangan minyak global ke level "rekor" akibat perang di Timur Tengah yang berkepanjangan.

Ketegangan geopolitik juga terus menopang harga minyak setelah Reuters melaporkan Pakistan mengerahkan 8.000 tentara, satu skuadron jet tempur, dan sistem pertahanan udara ke Arab Saudi untuk membantu Riyadh jika kembali diserang.

IEA dalam laporan bulanan pekan lalu menyebut persediaan minyak global turun sekitar 4 juta barel per hari pada Maret dan April, dan pasar diperkirakan tetap mengalami kekurangan pasokan parah hingga Oktober, bahkan jika konflik berakhir bulan depan.

 

Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak di Teluk Persia telah berkurang sekitar 14,5 juta barel per hari dan gangguan saat ini telah menguras hampir 500 juta barel stok minyak global, yang dapat mencapai 1 miliar barel pada Juni.

Produsen minyak Teluk Persia juga terpaksa memangkas produksi sekitar 6% akibat penutupan Selat Hormuz dan kapasitas penyimpanan lokal yang mulai penuh.

IEA mengatakan lebih dari 80 fasilitas energi rusak selama konflik dan pemulihannya bisa memakan waktu hingga dua tahun.

Namun, faktor negatif bagi harga minyak datang dari OPEC yang disebut masih ingin melanjutkan peningkatan kuota produksi dalam beberapa bulan mendatang. Kelompok tersebut telah menyetujui pemulihan sekitar dua pertiga dari pemangkasan produksi 1,65 juta barel per hari yang dilakukan sejak 2023.

Pada 3 Mei, OPEC+ mengatakan akan menaikkan produksi sebesar 188 ribu barel per hari pada Juni setelah sebelumnya meningkatkan produksi 206 ribu barel per hari pada Mei. Meski demikian, kenaikan produksi kini dinilai sulit terjadi karena produsen Timur Tengah justru dipaksa memangkas produksi akibat perang.

Produksi minyak mentah OPEC pada April turun 420 ribu barel per hari ke level terendah dalam 35 tahun, yakni 20,55 juta barel per hari.

Data Vortexa menunjukkan minyak mentah yang tersimpan di tanker selama minimal tujuh hari naik 2,7% menjadi 105,11 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Mei.

 

Sementara itu, perundingan terbaru yang dimediasi AS di Jenewa untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina berakhir lebih cepat setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menuduh Rusia sengaja memperpanjang perang.

Rusia menyatakan persoalan wilayah masih belum terselesaikan dan kecil kemungkinan tercapai perdamaian jangka panjang sampai tuntutan wilayah Moskow dipenuhi.

Perang Rusia-Ukraina yang berlanjut diperkirakan mempertahankan pembatasan terhadap ekspor minyak Rusia dan mendukung harga minyak tetap tinggi.

Serangan drone dan rudal Ukraina juga menargetkan sedikitnya 30 kilang minyak Rusia dalam 10 bulan terakhir, sehingga membatasi kemampuan ekspor minyak Moskow dan mengurangi pasokan global.

Serangan Ukraina terhadap kilang, terminal ekspor, dan infrastruktur pipa minyak Rusia pada April menurunkan rata-rata kapasitas pengolahan minyak Rusia menjadi 4,69 juta barel per hari, level terendah dalam 16 tahun.

Sanksi AS dan Uni Eropa terhadap perusahaan, infrastruktur, dan kapal tanker Rusia juga menekan ekspor minyak negara tersebut.

Laporan mingguan EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS hingga 15 Mei berada 1,7% di bawah rata-rata musiman lima tahun. Persediaan bensin berada 4,6% di bawah rata-rata lima tahun dan stok distilat 9% lebih rendah dibanding rata-rata musiman.

Produksi minyak AS pada pekan yang berakhir 15 Mei turun 0,1% menjadi 13,702 juta barel per hari, sedikit di bawah rekor tertinggi 13,862 juta barel per hari yang tercapai pada November lalu.

Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak aktif di AS naik lima unit menjadi 415 rig pada pekan yang berakhir 15 Mei, sedikit di atas level terendah 4,25 tahun yang tercatat pada Desember lalu.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular