MARKET DATA

Defisit Menganga! Neraca Pembayaran RI Terburuk dalam Sejarah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 May 2026 15:00
10 Provinsi dengan Mesin Ekonomi Paling Raksasa di RI
Foto: Infografis/ 10 Provinsi dengan Mesin Ekonomi Paling Raksasa di RI / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) baru saja mencatatkan defisit terbesar sepanjang sejarah, setidaknya dalam catatan yang ada yakni sejak 2004.

Bank Indonesia (BI) dalam laporan terbarunya mengumumkan NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,1 miliar.

Angka ini menjadi catatan yang cukup mengejutkan karena bukan hanya menunjukkan tekanan besar pada sektor eksternal, tetapi juga menjadi defisit terdalam sejak pencatatan data NPI kuartalan yang tersedia di BI sejak 2004.

Defisit tersebut berbanding terbalik dengan posisi kuartal sebelumnya.

Pada kuartal IV-2025, NPI masih mencatat surplus US$6,1 miliar. Bila dibandingkan dengan kuartal I-2025, tekanan yang terjadi juga jauh lebih dalam.

Pada kuartal I-2025, NPI tercatat defisit US$787 juta. Dengan demikian, defisit NPI pada awal tahun ini membengkak lebih dari 11 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Memburuknya NPI tersebut dipengaruhi oleh transaksi berjalan yang kembali mencatat defisit, seiring menurunnya surplus neraca perdagangan barang serta masih berlanjutnya defisit neraca jasa.

Di saat yang sama, transaksi modal dan finansial juga berbalik defisit, terutama karena investasi lainnya mencatat tekanan besar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Transaksi Berjalan Defisit Terbesar Sejak 2019

Transaksi berjalan Indonesia kembali mencatat defisit cukup dalam pada kuartal I-2026. Bank Indonesia mencatat, transaksi berjalan mengalami defisit sebesar US$4,0 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit ini melebar dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar US$2,47 miliar atau sekitar 0,7% dari PDB. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tekanannya juga jauh lebih besar. Pada kuartal I-2025, transaksi berjalan hanya mencatat defisit sekitar US$200 juta atau 0,1% dari PDB.

Dengan posisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 menjadi yang terdalam sejak kuartal IV-2019. Saat itu, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$8,04 miliar.

Melebarnya defisit transaksi berjalan menjadi salah satu penyebab utama memburuknya NPI pada awal 2026.

Sebagai catatan, transaksi berjalan mencerminkan arus devisa dari ekspor-impor barang dan jasa, serta aliran pendapatan antarnegara. Jika transaksi berjalan defisit, artinya kebutuhan devisa untuk pembayaran ke luar negeri lebih besar dibandingkan devisa yang masuk dari aktivitas ekonomi riil.

Bank Indonesia menjelaskan, tekanan pada transaksi berjalan terjadi di tengah surplus neraca perdagangan barang yang menurun. Neraca perdagangan barang memang masih surplus US$8,0 miliar pada kuartal I-2026, tetapi lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2025 yang mencapai US$10,2 miliar.

Surplus neraca perdagangan nonmigas juga menyusut. Pada kuartal I-2026, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus US$13,3 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus kuartal sebelumnya yang sebesar US$16,0 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara.

Sementara itu, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit US$5,3 miliar pada kuartal I-2026. Angka ini sebenarnya membaik dibandingkan kuartal IV-2025 yang defisit US$5,7 miliar, di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga.

Sementara itu, neraca jasa seperti biasa masih mencatat defisit. Pada kuartal I-2026, defisit neraca jasa mencapai US$4,6 miliar.

Angka ini memang lebih baik dibandingkan kuartal IV-2025 yang defisit US$5,3 miliar, tetapi tetap menunjukkan bahwa Indonesia masih lebih banyak membayar jasa ke luar negeri dibandingkan menerima pembayaran jasa dari luar negeri.

Transaksi Finansial Ikut Defisit, Investasi Lainnya Jadi Biang Kerok

Tekanan terhadap NPI kuartal I-2026 tidak hanya datang dari transaksi berjalan. Transaksi finansial juga ikut mencatat defisit cukup besar.

Pada kuartal I-2026, transaksi finansial Indonesia tercatat defisit US$4,9 miliar. Kondisi ini berbalik dari kuartal IV-2025 yang masih mencatat surplus US$8,8 miliar.

Sebagai catatan, transaksi finansial merupakan komponen NPI yang mencatat arus masuk dan keluar modal maupun investasi. Di dalamnya terdapat investasi langsung, investasi portofolio, derivatif finansial, serta investasi lainnya seperti pinjaman, simpanan, dan transaksi keuangan lain.

Menariknya, defisit transaksi finansial pada kuartal I-2026 bukan disebabkan oleh investasi langsung maupun investasi portofolio. Dua komponen ini masih mencatat nilai positif.

Investasi langsung masih surplus US$2,0 miliar, sementara investasi portofolio juga masih mencatat surplus US$730 juta meskipun keduanya mengalami penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun demikian, masih ada arus modal yang masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk investasi jangka panjang maupun investasi di instrumen keuangan seperti saham dan surat utang.

Namun, tekanan besar datang dari komponen investasi lainnya.

Pada kuartal I-2026, investasi lainnya mencatat defisit hingga US$7,8 miliar. Inilah yang membuat transaksi finansial defisit.

Secara sederhana, investasi lainnya mencakup transaksi keuangan seperti pinjaman, simpanan, kredit perdagangan, serta kewajiban dan aset keuangan lain antara Indonesia dan luar negeri. Ketika pos ini defisit besar, artinya ada tekanan keluar dari sisi transaksi keuangan di luar investasi langsung dan portofolio.

Kondisi ini membuat tekanan terhadap NPI menjadi lebih berat. Sebab, dalam kondisi normal, transaksi finansial kerap menjadi penopang ketika transaksi berjalan mengalami defisit.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular