MARKET DATA

Warga RI Doyan Liburan ke Luar Negeri & Umroh, Neraca Jasa Kebakaran

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
25 February 2026 13:05
Infografis, Negara dengan Paspor Terkuat  di Dunia 2024
Foto: Infografis/ Paspor Terkuat/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Plesiran ke luar negeri masyarakat Indonesia menjadi salah satu faktor yang ikut menekan neraca perdagangan jasa.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2025 mencatat transaksi berjalan Indonesia pada 2025 defisit sebesar US$1,45 miliar atau sekitar Rp 24,35 triliun (US$1= Rp 16.795).  Angka ini membaik dibandingkan periode sebelumnya, yang mencatat defisit hingga US$8,5 miliar. 

Sebagai catatan, neraca transaksi berjalan Indonesia lebih sering berada dalam kondisi defisit ketimbang surplus.

Hal ini kerap disebut sebagai "hantu" bagi fundamental ekonomi karena mencerminkan kebutuhan pembiayaan dari luar negeri dan dapat mengurangi daya tarik di mata investor.

Transaksi berjalan terdiri dari neraca perdagangan barang dan neraca jasa. Jika dirinci lebih jauh, salah satu sumber tekanan yang sebenarnya bukan hal baru adalah defisit pada neraca jasa.

Indonesia memang hampir selalu mencatat defisit neraca jasa. Sepanjang 2025, defisit neraca jasa tercatat sebesar US$19,8 miliar, naik US$1,4 miliar dibandingkan 2024 yang sebesar US$18,4 miliar.

Impor Jasa Perjalanan Menjadi Salah satu Penyebabnya

Salah satu komponen yang mendorong defisit neraca jasa adalah besarnya impor jasa perjalanan.

Impor jasa perjalanan mencerminkan pengeluaran warga Indonesia saat bepergian ke luar negeri. Pengeluaran ini mencakup seperti biaya akomodasi, makan minum, transportasi, hingga belanja yang terkait langsung dengan aktivitas perjalanan.

Data Bank Indonesia mencatat pada 2025, impor pembayaran jasa perjalanan warga Indonesia mencapai US$13,79 miliar atau setara dengan Rp231,47 triliun (asumsi kurs Rp16.785/US$) dan sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Nilai tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat US$13,45 miliar.

Sebagai catatan, data pembayaran jasa perjalanan warga Indonesia ke luar negeri dicatat sebagai negatif/defisit impor.

Kenaikan ini juga sejalan dengan meningkatnya jumlah perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sepanjang 2025 jumlah perjalanan wisatawan nasional mencapai 9,16 juta perjalanan. Angka ini naik 2,45% dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar 8,95 juta perjalanan.

Data BPS juga memperlihatkan ke mana saja warga Indonesia paling sering pergi saat liburan ke luar negeri. Sepanjang 2025, tiga tujuan teratas masih didominasi negara dekat dan tujuan ibadah.

Malaysia menjadi yang paling besar dengan porsi 29,25%, disusul Arab Saudi 18,05%, lalu Singapura 13,41%. Malaysia dan Singapura jadi favorit bukan tanpa alasan. Jaraknya dekat, pilihan penerbangan yang banyak, dan durasi perjalanan bisa singkat sehingga pas untuk liburan cepat.

Sementara itu, tingginya frekuensi warga Indonesia ke Arab Saudi tak lepas dari tujuan untuk menunaikan ibadah umroh maupun ibadah haji.

Sebagaimana diketahui, musim haji pada 2025 berlangsung pada Mei hingga Juni, dengan total kuota haji Indonesia mencapai 221.000 jemaah, sehingga arus perjalanan ke Arab Saudi ikut meningkat pada periode tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular