MARKET DATA

Suku Bunga Global: Australia Pilih Naik, Rusia Turun, RI Ikut Mana?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 May 2026 11:15
Dunia Ramai-Ramai Pangkas Bunga Secara Agresif: Turki Paling Gila!
Foto: Infografis/Dunia Ramai-Ramai Pangkas Bunga Secara Agresif: Turki Paling Gila!/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI-Rate) hari ini, Rabu (20/5/2026), tren suku bunga negara lain ikut menarik untuk dicermati. Sebab, arah kebijakan bank sentral global bisa memberi gambaran apakah dunia masih berada dalam fase suku bunga tinggi, mulai melonggarkan kebijakan, atau justru kembali mengetat.

BI Rate saat ini berada di level 4,75%, tetapi peluang kenaikan suku bunga mulai menguat.

Berdasarkan polling CNBC Indonesia, dari 15 lembaga/institusi yang berpartisipasi, sebanyak sembilan lembaga memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%. Sementara enam lembaga lainnya memproyeksikan BI masih akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.

Artinya, mayoritas pelaku pasar kini melihat kenaikan suku bunga sebagai skenario utama pada RDG kali ini. Tekanan rupiah yang semakin berat, ditambah risiko eksternal yang masih tinggi, membuat ruang BI untuk kembali menahan suku bunga menjadi lebih terbatas.

Melansir Trading Economics, tren suku bunga acuan sejumlah negara masih menahan. Dari 19 negara dan kawasan yang terpantau, sebagian besar bank sentral belum mengubah suku bunganya dari periode sebelumnya.

Hanya Australia yang tercatat menaikkan suku bunga. Sementara itu, Singapura, Meksiko, Brasil, dan Rusia justru memangkas suku bunga. Sisanya, termasuk Indonesia, masih mempertahankan suku bunga acuan di level sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan arah kebijakan moneter global belum bergerak satu arah. Sebagian besar bank sentral masih berhati-hati, sementara sebagian lainnya mulai membuka ruang pelonggaran.

Berikut daftar tren suku bunga acuan sejumlah negara:

Dari daftar tersebut, sebanyak 14 negara dan kawasan masih menahan suku bunga. Kelompok ini mencakup Swiss, Jepang, kawasan Euro, Kanada, Korea Selatan, China, Inggris, Amerika Serikat, Arab Saudi, Indonesia, India, Afrika Selatan, Argentina, dan Turki.

Australia menjadi satu-satunya negara yang menaikkan suku bunga, dari 4,10% menjadi 4,35%, atau naik 25 basis poin.

Sementara itu, empat negara tercatat memangkas suku bunga. Penurunan paling besar terjadi di Rusia, dari 15,00% menjadi 14,50%, atau turun 50 basis poin.

Brasil dan Meksiko sama-sama memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, sedangkan Singapura mencatat penurunan lebih tipis, yakni 5 basis poin.

Tren ini memberi gambaran bahwa bank sentral global masih bergerak hati-hati. Tekanan inflasi, arah dolar Amerika Serikat, harga energi, hingga kondisi nilai tukar masih menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Bagi Tanah Air, keputusan BI hari ini akan menjadi penting untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan. Pasar akan mencermati apakah BI tetap menahan suku bunga, atau memberi sinyal kebijakan yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular