MARKET DATA

Dubai Tak Lagi Aman, Ini Destinasi Baru Crazy Rich Buat Habisin Duit

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
19 May 2026 16:40
Penumpang menunggu penerbangan setelah hujan badai melanda Dubai yang menyebabkan penundaan di Bandara Internasional Dubai, di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (17/4/2024). (REUTERS/Rula Rouhana)
Foto: Penumpang menunggu penerbangan setelah hujan badai melanda Dubai yang menyebabkan penundaan di Bandara Internasional Dubai, di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (17/4/2024). (REUTERS/Rula Rouhana)

Jakarta, CNBC Indonesia- Gurun yang selama dua dekade dipasarkan sebagai surga pajak kini mulai terasa berbeda. Dubai masih punya gedung tertinggi, pantai mewah, sekolah internasional, dan gaya hidup bebas pajak yang sulit ditandingi kota lain.

Namun sejak konflik Iran memanas setelah serangan Amerika Serikat dan Israel beberapa bulan lalu, faktor keamanan tiba-tiba masuk ke dalam kalkulasi para ekspatriat kaya dunia.

Bagi kelompok ultra-kaya, rasa aman adalah aset. Ketika rudal dan drone mulai menghantui kawasan Teluk, logika perpindahan modal ikut berubah.

Orang-orang yang sebelumnya memburu Dubai karena stabilitas dan fleksibilitas finansial kini mulai menyusun rute keluar.

 

Laporan The Economist menyebut sebagian ekspatriat telah terbang ke Eropa dan Amerika Serikat menggunakan penerbangan terakhir yang tersedia. Sebagian lain memilih jalur darat menuju Muscat di Oman demi mencari pintu keluar alternatif. Pada awal konflik, banyak yang menganggap perpindahan ini hanya sementara. Namun perang yang berlarut mengubah pola pikir. Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi "kapan kembali", melainkan "pindah ke mana".

Uni Emirat Arab sebenarnya masih relatif aman dibanding kawasan konflik lain di Timur Tengah. Mayoritas serangan berhasil dicegat sistem pertahanan udara. Akan tetapi, psikologi investor bekerja berbeda. Satu ancaman terhadap hotel, apartemen, atau fasilitas vital sudah cukup untuk mengubah keputusan relokasi.

Dubai selama ini berdiri di atas fondasi yang unik. Pajak penghasilan nyaris nol. Regulasi longgar. Arus modal bergerak cepat. Warga kaya dari Rusia, China, India, Eropa, hingga Timur Tengah bisa berkumpul tanpa banyak pertanyaan mengenai asal kekayaan mereka. Kota ini menjadi titik temu para banker Barat, taipan properti Arab, konglomerat India, sampai miliarder kripto asal China.

Sebelum perang pecah, diperkirakan ada sekitar 3 juta hingga 4 juta ekspatriat kaya dan keluarganya tinggal di UEA dari total populasi sekitar 12 juta jiwa. Lebih dari 240 ribu di antaranya masuk kategori jutawan. Sebagian besar terkonsentrasi di Dubai.

 

Henley & Partners, firma penasihat migrasi global, mencatat permintaan konsultasi dari penduduk UEA terkait perpindahan ke negara lain melonjak lebih dari 40% dalam beberapa pekan terakhir. Artinya, perpindahan ini sudah bergerak dari kepanikan sesaat menuju strategi jangka panjang.

Fenomena tersebut memunculkan persaingan baru antarnegara. Kini semakin banyak negara menawarkan residency by investment atau jalur tinggal permanen bagi orang kaya asing. Malta, Selandia Baru, Turki, Maladewa, hingga Argentina mulai berlomba menawarkan paket pajak rendah, keamanan tinggi, dan akses investasi.

Turki menjadi salah satu yang agresif. Pemerintah negara itu baru mengusulkan pembebasan pajak penghasilan luar negeri dan capital gain selama 20 tahun bagi sebagian warga asing. Sejumlah investor disebut langsung membeli properti demi memperoleh kewarganegaraan Turki.

Namun destinasi yang paling sering muncul dalam arus perpindahan baru ini adalah Milan.

Kota mode Italia itu kini berubah menjadi magnet baru bagi ekspatriat kaya yang keluar dari Dubai. Firma hukum Withers mengaku melihat kenaikan perpindahan penduduk kaya menuju Milan dalam beberapa bulan terakhir. Sotheby's International Realty bahkan menyebut minat pembelian properti dari warga Teluk melonjak tajam dibanding tahun lalu.

Awalnya banyak permintaan hanya berupa sewa jangka pendek. Kini arah pembicaraan berubah menjadi investasi permanen dan relokasi keluarga.

Milan menawarkan kombinasi yang dicari kelompok kaya global: akses bisnis Eropa, jaringan finansial, sekolah internasional, dan rezim pajak yang relatif bersahabat. Italia selama beberapa tahun terakhir memang memberikan insentif bagi pendatang kaya. Mereka cukup membayar pajak flat sekitar €300 ribu per tahun untuk seluruh pendapatan luar negeri.

Bagi trader hedge fund dan manajer investasi, angka tersebut masih jauh lebih menarik dibanding skema pajak progresif di banyak negara Eropa lain. Beberapa hedge fund Amerika seperti Millennium Management bahkan membuka operasi di Milan demi memanfaatkan rezim tersebut.

Skema tinggal di Italia juga dibuat fleksibel. Warga Uni Eropa dapat pindah dengan mudah. Sementara warga non-Eropa bisa memperoleh izin tinggal dengan investasi mulai dari €250 ribu pada startup Italia atau €500 ribu pada perusahaan yang lebih besar. Ada pula opsi membeli obligasi pemerintah senilai €2 juta atau berdonasi €1 juta kepada lembaga amal Italia.

Selain Milan, Singapura kembali naik kelas dalam radar orang kaya Asia.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, Dubai sempat mengalahkan Singapura dalam perebutan miliarder India dan China. Dubai dianggap lebih glamor, lebih santai, dan lebih terbuka terhadap arus modal besar. Singapura terlihat terlalu ketat dan terlalu steril.

Situasi geopolitik kini membalik persepsi itu.

Singapura mendapat keuntungan dari reputasi lama mereka, pemerintahan efisien, sistem hukum stabil, pusat manajemen kekayaan matang, dan risiko keamanan rendah. OCBC dan sejumlah bank besar Singapura disebut mengalami kenaikan arus dana dari Dubai. Impor emas Singapura dari UEA bahkan dilaporkan melonjak empat kali lipat sejak Januari.

Firma hukum Bayfront Law mencatat lonjakan permintaan konsultasi sekitar 30% dalam dua bulan terakhir. Banyak klien lama mereka dari China mulai mempertimbangkan keluar dari Timur Tengah. Orang kaya India juga kembali melirik Singapura sebagai basis keluarga dan investasi.

Mukesh Ambani, orang terkaya India, sebenarnya sudah membuka family office di Singapura sejak 2022. Kini langkah serupa mulai dilihat sebagai template baru bagi konglomerat Asia.

Meski demikian, Milan dan Singapura tetap belum mampu menggantikan Dubai sepenuhnya.

Eropa memiliki sensitivitas politik yang jauh lebih tinggi terhadap oligarki Rusia selama perang Ukraina berlangsung. Ada pula kekhawatiran perubahan pemerintahan di Italia dapat menghapus rezim pajak flat untuk orang kaya asing. Bahkan pemerintah saat ini sudah menaikkan tarif pajak tersebut dibanding skema awal.

Singapura pun memiliki tantangan sendiri. Pajak penghasilan mencapai 24%. Pajak pembelian properti untuk warga asing sangat mahal. Pemerintah juga memperketat pengawasan keuangan pasca skandal pencucian uang US$3 miliar pada 2023.

Banyak investor yang terbiasa dengan fleksibilitas Dubai mulai merasa sistem Singapura terlalu invasif. Otoritas setempat memperketat lisensi perusahaan kripto dan membuka akses aparat terhadap data pajak serta bea cukai. Lingkungan finansial yang dulu terasa nyaman bagi sebagian pemilik modal kini berubah jauh lebih ketat.

 

Karena itu, sebagian analis percaya kekayaan berbasis kripto kemungkinan tetap bertahan di Timur Tengah. Dubai masih menawarkan sesuatu yang sulit direplikasi negara lain: kombinasi pajak rendah, gaya hidup mewah, akses bisnis global, dan regulasi yang lebih lentur.

Namun perang mengubah satu hal penting, persepsi risiko.

Dalam dunia kekayaan global, persepsi sering bergerak lebih cepat dibanding fakta di lapangan. Rudal yang gagal mencapai target tetap bisa memicu perpindahan miliaran dolar

Ketika rasa aman mulai retak, orang kaya dunia punya satu kebiasaan lama untuk mencari oasis baru sebelum badai benar-benar datang.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular