MARKET DATA

Harga Emas di Ujung Tanduk: Turun Bentar atau Mau Jatuh ke Jurang?

mae,  CNBC Indonesia
18 May 2026 06:45
Harga Emas di Ujung Tanduk: Turun Bentar atau Mau Jatuh ke Jurang?

Jakarta, CNBC Indonesia - Usai babak belur pada perdagangan kemarin, harga emas dan perak memasuki fase yang sangat menantang.

Kombinasi inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih panas, lonjakan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, hingga memudarnya harapan pemangkasan suku bunga Federal Reserve menjadi faktor utama yang menekan harga pada pekan lalu.

Merujuk data Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$4.538,01 per troy ons pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Harga ini anjlok 2,40% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Secara mingguan, harga emas juga melemah tajam 3,74% pada pekan lalu atau terburuk sejak pekan kedua Maret 2026.

Pada hari ini, Senin (18/5/2026), harga emas mulai membaik. Pada Senin pukul 06.29 WIB, harga emas dibanderol US$ 45349,36 per troy ons atau menguat 0,25%.

Proyeksi harga emas kini pun semakin buram.

Jika sebelumnya emas melesat karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, kini narasi tersebut nyaris lenyap setelah tiga data inflasi AS berturut-turut keluar lebih tinggi dari perkiraan.

Kondisi ini memaksa pelaku pasar membongkar posisi bullish mereka. Emas yang sempat menjadi primadona safe haven kini menghadapi tekanan berat dari melonjaknya yield obligasi AS dan dolar yang semakin perkasa.

Secara teknikal, emas saat ini bergerak dalam fase konsolidasi. Harga tertahan di area resistance US$4.710-US$4.730 per troy ons, sementara support penting berada di kisaran US$4.670 hingga US$4.640.

Jika resistance berhasil ditembus, emas berpeluang kembali menguji level US$4.740-US$4.770. Namun, jika support jebol, harga dapat tergelincir ke US$4.600 per troy ons.

 

Level yang paling diperhatikan pelaku pasar adalah US$4.481,78, yakni sekitar 20% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.602,23. Jika emas ditutup di bawah level ini, secara teknikal logam mulia tersebut resmi masuk ke wilayah bear market.

Menurut analisis Traders Union, prospek jangka pendek emas masih moderat positif selama support utama bertahan. Namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena pasar terus menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Dari sisi fundamental, pasar logam mulia juga dipengaruhi kebijakan India yang memperketat impor perak demi menjaga cadangan devisa dan menekan arus keluar dolar AS.

Kebijakan tersebut, bersama konflik geopolitik antara AS dan Iran, membuat pasar emas dan perak diperkirakan tetap bergerak liar dalam beberapa hari ke depan.

 

Harga minyak yang melonjak 8%-10% dalam sepekan dan bertahan di atas US$100 per barel turut memperburuk situasi. Ketidakjelasan perdamaian AS-Iran dan gangguan di Strait of Hormuz meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang pada akhirnya memperkecil peluang pemangkasan suku bunga.

Pekan ini, investor akan fokus pada data ekonomi China, indeks PMI, data perumahan AS, klaim pengangguran mingguan, serta risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Seluruh data tersebut akan menjadi penentu arah baru bagi emas.

Dengan kombinasi inflasi tinggi, yield obligasi yang terus naik, harga minyak di atas US$100 per barel, dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pasar emas diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil. Bagi investor, fase ini menjadi ujian penting yakni apakah emas hanya sedang terkoreksi, atau justru mulai memasuki tren bearish yang lebih dalam.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Harga perak juga akan diuji setelah babak belur pekan lalu,

Merujuk data Refinitiv, harga perak ditutup di posisi US$75,95 per troy ons pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Secara mingguan, harga emas juga melemah tajam 5,44% pada pekan lalu.

Pada hari ini, Senin (18/5/2026), harga perak mulai naik. Pada Senin pukul 06.35 WIB, harga perak dibanderol US$ 76,75 per troy ons atau menguat 1,05%.



Most Popular
Features