Trump Bersih-Bersih Partai Republik, Pembangkang Bakal Ditendang
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah tekanan inflasi, kenaikan harga bahan bakar, dan perang, Donald Trump dinilai belum memiliki strategi jelas untuk menghadapi pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada November mendatang.
Sejumlah strategis Partai Republik bahkan menyebut fokus utama Trump saat ini bukan menyerang Partai Demokrat, melainkan membersihkan lawan-lawan internal di tubuh Partai Republik sendiri.
Trump disebut lebih sibuk membalas politisi Republik yang pernah menentangnya, termasuk senator dan anggota kongres dari wilayah konservatif yang selama ini dianggap aman bagi partai.
Trump Fokus Balas Dendam Politik
Melansir dari The Economist, pengamat politik di Washington menilai Gedung Putih kini lebih fokus pada dua agenda utama yaitu, mendorong perubahan peta distrik pemilu agar lebih menguntungkan Partai Republik, serta menjatuhkan petahana Republik yang dianggap tidak loyal kepada Trump.
Strategi pertama dinilai berpotensi membantu Partai Republik pada pemilu November mendatang. Namun strategi kedua justru dianggap bisa melemahkan partai dalam jangka panjang karena menguras energi dan dana internal.
Dua nama yang kini menjadi target utama Trump adalah Bill Cassidy dari Louisiana dan Thomas Massie dari Kentucky.
Meski berasal dari kubu politik yang berbeda di Partai Republik, keduanya sama-sama menghadapi pemilihan pendahuluan terberat dalam karier politik mereka setelah dianggap menentang Trump.
Bill Cassidy Diserang karena Dukung Pemakzulan Trump
Kasus Cassidy bermula dari keputusannya mendukung pemakzulan Trump setelah kerusuhan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Saat itu Cassidy menyebut penyerbuan Capitol sebagai tindakan makar dan menilai Trump turut memicu massa.
Sejak Trump kembali terpilih, Cassidy disebut berusaha memperbaiki hubungan dengan presiden. Meski dikenal sebagai dokter dan ketua komite kesehatan Senat yang skeptis terhadap gerakan anti-vaksin, Cassidy bahkan mendukung pengangkatan Robert F. Kennedy Jr. ke kabinet.
Namun langkah itu belum cukup. Trump tetap mendukung penantang Cassidy, yakni Julia Letlow, anggota Kongres yang dianggap lebih loyal terhadap agenda Trump.
Kini Cassidy menghadapi persaingan ketat dalam pemilihan pendahuluan yang diperkirakan menghabiskan lebih dari US$20 juta dana politik.
Cassidy Ubah Strategi demi Bertahan dari Tekanan Trump
Dalam berbagai kampanye, Cassidy mencoba menampilkan diri sebagai politisi yang fokus pada masa depan Louisiana dibanding konflik politik masa lalu.
Ia bahkan mengubah slogan kampanyenya menjadi "Louisiana First", bukan "America First" yang identik dengan Trump. Cassidy juga menegaskan dirinya kini mendukung agenda Trump 100%.
Namun perubahan aturan pemilu di Louisiana dinilai membuat posisi Cassidy semakin sulit. Sistem baru mempersempit partisipasi pemilih hanya untuk anggota partai masing-masing, yang berpotensi menguntungkan pemilih konservatif garis keras.
Untuk mengatasi itu, Cassidy mencoba menarik dukungan pemilih independen dan Demokrat moderat. Tetapi sejumlah pengamat menilai langkah tersebut sulit berhasil karena banyak pemilih Demokrat menganggap Cassidy telah meninggalkan prinsip politiknya demi bertahan di Partai Republik.
Thomas Massie Jadi Target karena Kritik Trump
Berbeda dengan Cassidy, Thomas Massie dikenal sebagai politisi konservatif independen yang memang sering berseberangan dengan elite Partai Republik.
Anggota Kongres asal Kentucky itu merupakan lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan membangun citra sebagai politikus anti-establishment.
Trump disebut murka setelah Massie mendorong pembukaan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein, yang pernah memiliki hubungan dengan Trump di masa lalu.
Selain itu, Massie juga menolak rancangan undang-undang anggaran besar Partai Republik karena dianggap memperbesar defisit negara. Ia bahkan mengusulkan pembatasan kewenangan presiden untuk menyerang Iran tanpa persetujuan Kongres.
Trump Gelontorkan Dana Besar untuk Menjatuhkan Massie
Sebagai balasan, Trump mendukung mantan kandidat senator negara bagian, Ed Gallrein, untuk menantang Massie.Â
Trump bahkan datang langsung berkampanye di Kentucky dan menyebut Massie sebagai "bencana total" bagi Partai Republik.
Pertarungan politik tersebut kini menjadi salah satu pemilihan pendahuluan DPR AS termahal dalam sejarah. Donor besar Trump disebut telah menggelontorkan lebih dari US$14 juta untuk menyerang Massie.
Salah satu iklan kampanye yang viral bahkan menggunakan teknologi AI untuk menggambarkan Massie sebagai pengkhianat yang bersekutu dengan dua politisi Demokrat progresif, Alexandria Ocasio-Cortez dan Ilhan Omar.
Strategi Trump Dinilai Berisiko bagi Partai Republik
Sejumlah strategis Partai Republik mulai mempertanyakan langkah Trump yang dianggap terlalu fokus pada dendam politik pribadi dibanding agenda ekonomi. Mereka menilai pemilih independen pendukung Trump mulai frustrasi karena presiden lebih sering membahas rival politik dibanding persoalan harga kebutuhan pokok dan inflasi.
Selain itu, dana besar yang dihabiskan untuk menjatuhkan sesama politisi Republik dinilai bisa melemahkan kemampuan partai menghadapi Demokrat di distrik-distrik kompetitif.
Meski begitu, Partai Republik masih memiliki waktu sebelum pemilu umum berlangsung. Namun pengamat memperingatkan bahwa jika pola "balas dendam politik" terus mendominasi strategi Trump, konsolidasi internal partai bisa semakin sulit dilakukan menjelang pertarungan nasional berikutnya.
Â
(mae/mae) Addsource on Google