MARKET DATA
Newsletter

RI Dihantam 2 Badai Besar: MSCI Depak 18 Saham & Inflasi AS Memanas

mae,  CNBC Indonesia
13 May 2026 06:32
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk berjamaah, bursa saham dan rupiah melemah
  • Wall Street ditutup beragam, saham teknologi berjatuhan
  • Perkembangan perang, rebalancing MSCI dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia lagi-lagi harus babak belur pada perdagangan Selasa. Bursa saham dan rupiah jatuh dalam.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih mendapat tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan pada hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Selasa (12/5/2026) melemah.

Meski sempat bertenaga pada awal pembukaan pasar, yang mana IHSG sempat melaju dengan kuat dan bahkan sempat naik 1%. Akan tetapi pada akhir perdagangan sesi kedua, IHSG berbalik arah dan ambruk ke level6.858,90 atau turun 0,68%.

Asing mencatat net sell sebesar Rp 931,9 miliar pada perdagangan kemarin.


Sebanyak 463 saham melemah,207 menguat dan151 lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp16,29 triliun yang melibatkan 32,97 miliar saham dalam 2,53 juta kali transaksi.


Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi penekan terbesar dengan koreksi mencapai 4,78%, disusul utilitas -2,24% serta teknologi melemah -4,08%.

Dari sisi saham, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi penurunan 24,21 poin indeks. Saham MORA anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) 15% ke level 7.650.

Selanjutnya ada Astra International (ASII) yang menekan indeks7,98 poin, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar7,15 poin, serta PT Barito Renewables EnergyTbk (BREN) sebesar6,64 poin.



Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah terbaru.

Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah intraday di posisi Rp17.525/US$.


Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan kemarin meningkat karena kombinasi faktor eksternal dan domestik.

"Tekanan terhadap rupiah hari ini meningkat karena konflik di Timur Tengah masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian global," ujar Destry, Selasa (12/5/2026).

Dari sisi domestik, Destry mengatakan permintaan dolar AS juga meningkat karena faktor musiman. seperti pembayaran utang luar negeri, pembayaran dividen, serta kebutuhan untuk ibadah haji, turut mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik.



Destry menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 6,737% pada perdagangan Selasa kemarin, tertinggi dalam empat hari terakhir.

Imbal hasil yang naik menandai harga SBN yang tengah turun karena ada aksi jual besar-besaran.

Dari bursa AS, Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 ditutup melemah tertekan oleh penurunan saham-saham teknologi dan lonjakan harga minyak, setelah pelaku pasar merespons data inflasi konsumen Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan pada April.

Indeks S&P 500, turun 0,16% ke level 7.400,96. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 0,71% ke 26.088,20. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average naik 56,09 poin atau 0,11% dan berakhir di 49.760,56.

Saham Micron Technology, yang sehari sebelumnya memimpin reli hingga membawa S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi, berbalik turun 3,6%.

Padahal, saham ini telah melonjak lebih dari 37% dalam sepekan dan sekitar 53% dalam sebulan terakhir seiring reli saham produsen chip memori.

Saham Advanced Micro Devices (AMD) dan Qualcomm juga melemah masing-masing 2% dan 11%. Pada April, AMD sempat melesat lebih dari 74%, sedangkan Qualcomm naik lebih dari 39%.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate melonjak 4,19% dan ditutup di US$102,18 per barel. Minyak Brent Crude naik 3,42% ke US$107,77 per barel.

Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan sehari sebelumnya setelah Presiden Donald Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran yang telah berlangsung sebulan sebagai sesuatu yang "sangat lemah" dan "nyaris kolaps", setelah menolak proposal balasan dari Teheran yang dianggap "tidak dapat diterima" untuk mengakhiri perang.

Dalam proposal terbarunya, Iran menuntut kompensasi perang, kedaulatan penuh atas Strait of Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pencabutan sanksi ekonomi.

Dengan harga energi yang tinggi, investor kini mencermati dampak perang Iran terhadap inflasi dan belanja konsumen, yang masih menyumbang sekitar dua pertiga dari perekonomian AS.

Pada April, Consumer Price Index naik 0,6% secara bulanan, sehingga laju inflasi tahunan mencapai 3,8%.

Kenaikan bulanan ini sesuai ekspektasi, namun lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yaitu 3,7% secara tahunan. Angka tersebut merupakan tingkat inflasi tertinggi sejak Mei 2023.

"Ini memang belum seperti longsoran besar, tetapi pergerakannya naik secara konsisten," kata Thomas Martin, Senior Portfolio Manager di Globalt Investments kepada CNBC International.

Ia menambahkan bahwa inflasi kemungkinan akan terus meningkat selama konflik di Timur Tengah berlanjut dan negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti.

"Ketika harga bensin dan berbagai kebutuhan lain terus naik, semakin banyak konsumen yang akan tertekan. Kondisinya menunjukkan bahwa rumah tangga AS masih akan menghadapi tantangan ke depan," ujarnya.

Hari ini menjadi perdagangan terakhir pada pekan ini sebelum libur panjang peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang akan menjadi penggerak pasar hari ini, baik dari dalam ataupun luar energi,

Sentimen luar negeri akan datang dari perkembangan perang dan data inflasi AS. Rebalancing MSCI akan menjadi penggerak terbesar sentimen hari ini dari dalam negeri.

1. Rebalancing MSCI

Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil tinjauan berkala (semi-annual index review) untuk Mei 2026. Seluruh perubahan komposisi indeks tersebut akan efektif setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan mulai tercermin pada perdagangan 1 Juni 2026.

Rebalancing MSCI selalu menjadi perhatian utama pelaku pasar karena berpotensi memicu perubahan signifikan pada arus dana asing. Pasalnya, banyak manajer investasi global, termasuk reksa dana indeks dan exchange traded fund (ETF), menggunakan indeks MSCI sebagai acuan dalam menyusun portofolio.

Dengan demikian, setiap saham yang masuk berpotensi memperoleh tambahan aliran modal, sedangkan saham yang dikeluarkan cenderung menghadapi tekanan jual jangka pendek akibat aksi penyesuaian portofolio investor pasif.

Enam Saham Big Caps RI Terdepak dari MSCI Standard

Dalam evaluasi kali ini, tidak ada satu pun saham Indonesia yang berhasil masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI justru mengeluarkan enam emiten berkapitalisasi besar dari indeks utama tersebut.

Keenam saham yang resmi terdepak adalah:

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Keluarnya saham-saham tersebut menandakan evaluasi ketat MSCI terhadap faktor kapitalisasi pasar free float, likuiditas, serta keberlanjutan ukuran perusahaan sesuai metodologi indeks global.

AMRT Turun Kelas, Small Cap Juga Dirombak Besar

Di kategori MSCI Global Small Cap Index Indonesia, MSCI hanya menambahkan satu saham, yakni AMRT. Artinya, saham pengelola jaringan minimarket Alfamart tersebut tidak sepenuhnya keluar dari indeks MSCI, melainkan mengalami penurunan klasifikasi dari Global Standard ke Small Cap.

Namun, di luar perpindahan AMRT, MSCI juga menghapus 13 emiten dari indeks Small Cap Indonesia.

Dengan demikian, total terdapat 19 perubahan penghapusan pada indeks MSCI Indonesia. Karena AMRT hanya berpindah kategori, jumlah saham yang benar-benar keluar dari seluruh indeks MSCI mencapai 18 emiten.

Secara historis, perubahan komposisi MSCI kerap memicu lonjakan volume perdagangan dan volatilitas harga saham yang terdampak, terutama menjelang tanggal efektif implementasi.

Saham-saham yang dikeluarkan berpotensi mengalami tekanan jual karena investor institusi global harus menyesuaikan portofolio mereka. Sebaliknya, saham yang tetap bertahan atau memperoleh bobot lebih besar dapat menjadi tujuan aliran modal asing.

2. Perkembangan Perang

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak membutuhkan bantuan Presiden China Xi Jinping untuk mengakhiri perang dengan Iran, meskipun peluang tercapainya perdamaian semakin mengecil.

Trump mengatakan AS akan menyelesaikan konflik "dengan damai atau cara lain." Perang tersebut telah mengganggu jalur pelayaran di Strait of Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Sementara itu, Iran memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz dengan menjalin kerja sama dengan Iraq dan Pakistan untuk menyalurkan minyak dan LNG. Negara lain juga dikabarkan mempertimbangkan langkah serupa.

Trump dijadwalkan membahas konflik ini dengan Xi Jinping pekan ini. Washington menuntut Iran menghentikan program nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz, sedangkan Teheran menuntut kompensasi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian konflik di seluruh kawasan.

Menyusul ketidakpastian perang, harga minyak kembali melonjak. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate melonjak 4,19% dan ditutup di US$102,18 per barel. Minyak Brent Crude naik 3,42% ke US$107,77 per barel.

Kenaikan ini berimbas juga pada lonjakan indeks dolar. Indeks dolar ditutup di 98, 298 pada perdagangan kemarin, dari 97,955 pada perdagangan sebelumnya.

Kenaikan indeks ini menandai investor tengah memburu dolar AS dan menjual instrument non-dolar. Kondisi ini bisa memicu outflow dari Indonesia dan menekan rupiah.

3. Inflasi Amerika Melonjak

Inflasi Amerika Serikat naik lebih tinggi dari perkiraan pada April 2026, dipicu terutama oleh lonjakan harga energi. Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, sedikit di atas ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan makanan dan energi naik 0,4% bulanan dan 2,8% tahunan, masih jauh di atas target 2% Federal Reserve.

Inflasi tahunan yang menembus 3,8% adalah yang tertinggi sejak Mei 2023.

Kenaikan harga energi sebesar 3,8% menyumbang lebih dari 40% dari total inflasi, dengan harga bensin melonjak 28,4% dibanding tahun lalu. Harga pangan juga naik 0,5%, sedangkan biaya perumahan, pakaian, tiket pesawat, dan furnitur turut mengalami kenaikan. Di sisi lain, harga kendaraan baru dan biaya layanan kesehatan justru sedikit menurun.

Data ini juga menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Upah riil rata-rata per jam turun 0,5% pada April dan 0,3% dibandingkan setahun sebelumnya, yang berarti inflasi kembali menggerus kenaikan pendapatan pekerja.

Setelah laporan dirilis, pasar meningkatkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi sekitar 30% hingga akhir tahun. Meski demikian, ekonomi AS masih dinilai cukup tangguh, didukung belanja konsumen yang tetap kuat, laba perusahaan yang solid, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 3,7%.

4. Royalti Ditunda, Penerimaan Besar Tak Jadi Masuk

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku akan mendapatkan potensi penerimaan yang berlimpah dari hasil kebijakan kenaikan tarif royalti komoditas tambang seperti batu bara hingga nikel.
Mulanya, kebijakan itu kata Purbaya akan berlaku pada Juni 2026. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memutuskan untuk menunda kebijakan itu sampai batas waktu yang belum ditentukan.

"Kalau angka yang baru diterapkan, income saya akan meningkat dengan signifikan tanpa menciptakan keributan. Tapi itu tergantung Pak Bahlil nanti berapa hitungannya. Saya tunggu dari Pak Bahlil," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

"Tapi hitungan kita sejujurnya lebih tinggi dibandingkan kalau kita terapkan langkah-langkah yang sebelumnya," tegasnya.

Ketika dikonfirmasi seberapa besar nilai potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari royalti komoditas tambang itu, Purbaya mengatakan bisa mencapai lebih dari Rp 200 triliun. "Yang disebutkan sih lebih," ungkapnya.

Meski begitu, ia menegaskan, keputusan penundaan itu sepenuhnya ada di tangan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, sehingga Kementerian Keuangan akan mengikuti. Namun, ia berencana mengusulkan kebijakan yang baru untuk mengompensasi potensi penerimaan yang tak jadi terpungut itu.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Presiden menghadiri acara penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara, serta penguasaan kembali kawasan hutan yang digelar di Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Keuangan

  • Badan Komunikasi Pemerintah akan menyelenggarakan konferensi pers terkait sejumlah program pemerintah di Auditorium Kantor Bakom RI, Jalan Veteran III, Gambir, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Pertanian.

  • Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Menteri Perdagangan melakukan inspeksi mendadak di Pasar Palmerah, Jakarta Barat

  • Konferensi pers kolaborasi strategis Klook, Garuda Indonesia dan InJourney dalam menghadirkan pengalaman pariwisata terintegrasi di Hotel The Langham Jakarta, Senayan, Jakarta Selatan

  • Online media briefing DBS Group Research dengan narasumber Senior Economist and Executive Director & DBS Group Research

  • Konferensi Pers Pemusnahan Rupiah Palsu Hasil Klarifikasi Bank Indonesia di Ruang Chandra, Gedung Kebun Sirih, Kompleks Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat.

Berikut agenda korporasi hari ini:

RUPS PT Wijaya Karya Beton

RUPS PT Gunung Raja Paksi Tbk.

RUPS PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

RUPS PT Nusatama Berkah Tbk

RUPS PT Wintermar Offshore Marine Tbk

RUPS PT Ecocare Indo Pasifik Tbk.

RUPS PT Multipolar Tbk

RUPS PT Chandra Asri Pacific Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Yulie Sekuritas Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Pembangunan Jaya Ancol Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Astra Agro Lestari Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Astra Graphia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bank CIMB Niaga Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bank Maybank Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Mulia Boga Raya Tbk

Tanggal DPS Dividen Tunai PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk.

Tanggal DPS Dividen Tunai PT Multi Spunindo Jaya Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai PT Indosat Tbk

Tanggal ex Dividen Tunai PT PAM Mineral Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]


Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Hari Menegangkan: Pertumbuhan Ekonomi Dirilis, Purbaya-OJK Buka Suara


Most Popular
Features