Siaga 1! Gejolak Drama MSCI & Gencatan Senjata Iran AS di Ujung Tanduk
- Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, bursa saham dan rupiah ambruk
- Wall street kompak menguat ditopang saham teknologi
- Perkembangan perang, MSCI dan data ekonomi dalam negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali babak belur pada perdagangan Senin (10/5/2026). Bursa saham melemah dan rupiah ambruk.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin kemarin (10/5/2026) melemah 0,92% ke 6905,62. IHSG sudah ambruk 3,74% dalam dua hari terakhir.
Sepanjang perdagangan, tercatat 251 saham menguat, 442 saham melemah, dan 125 saham stagnan. Aktivitas transaksi terbilang ramai dengan volume mencapai 41,5 miliar saham, nilai transaksi sebesar Rp20,5 triliun, serta frekuensi perdagangan 2,8 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat sebesar Rp12.283 triliun.
Asing masih mencatat net sell sebesar Rp 751,2 miliar rupiah.
Mayoritas indeks sektoral bergerak di zona merah, hanya sektor infrastruktur yang mampu bertahan di area positif.
Di tengah tekanan indeks, sejumlah saham justru mencatatkan lonjakan signifikan. Saham PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) melesat 34,67% ke Rp202, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) naik 34,62% ke Rp140, dan PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) menguat 34,16% ke Rp216.
Namun tekanan juga cukup dalam pada beberapa saham, dengan PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) terkoreksi 15% ke Rp340, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) turun 14,91% ke Rp388, serta PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP) melemah 14,90% ke Rp2.970.
Dari pasar mata uang,nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan pertama pekan ini di zona merah atau terdepresiasi 0,26% ke posisi Rp17.405/US$.
Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan kemarin terjadi di tengah penguatan dolar AS. Permintaan terhadap dolar kembali meningkat seiring naiknya kebutuhan terhadap aset safe haven.
Sentimen tersebut dipicu oleh belum adanya titik terang dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama 10 pekan.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 6,638% pada Senin kemarin. Posisi ini adalah yang terendah sejak 21 April 2026.
Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN tengah naik karena dibeli investor.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Bursa menguat didorong oleh saham-saham teknologi utama, meskipun harga minyak turut menguat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang.
Indeks S&P naik 0,19% dan ditutup di level 7.412,84, sementara Nasdaq Composite menguat tipis 0,1% ke 26.274,13. Kedua indeks sempat mencetak rekor tertinggi intraday baru selama sesi perdagangan dan akhirnya ditutup pada level tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 95,31 poin, atau 0,19%, ke 49.704,47.
Iran mengirimkan proposal baru kepada para negosiator AS yang berfokus pada upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Tawaran balasan tersebut menekankan perlunya menghentikan perang di semua front serta mencabut sanksi terhadap Teheran.
Trump mengatakan dalam unggahan di Truth Social pada Minggu bahwa ia tidak menyukai tanggapan Iran, dan menyebutnya sebagai "SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!"
Gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan antara AS dan Iran kini berada dalam kondisi sangat rapuh, menurut Trump, yang juga mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa kesepakatan tersebut "luar biasa lemah".
Kontrak berjangka minyak naik setelah perkembangan tersebut. Minyak mentah West Texas Intermediate AS melonjak 2,78% dan ditutup pada US$98,07 per barel, sementara minyak mentah Brent Crude naik 2,88% ke US$104,20 per barel.
"Boom sektor teknologi terlalu kuat sehingga kenaikan harga energi tidak terlalu memengaruhi ekonomi maupun pasar saham AS. Semua orang tampaknya mulai mengabaikan situasi di Timur Tengah," kata Jay Hatfield, pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors, kepada CNBC International.
Hatfield memperkirakan pasar kemungkinan akan bergerak cenderung datar dalam beberapa bulan ke depan selama ketidakpastian akibat perang Iran masih berlangsung. Namun, tekanan tersebut dinilai tertutupi oleh ledakan pertumbuhan sektor teknologi yang disebutnya sebagai sesuatu yang "belum pernah terjadi sebelumnya."
Saham Micron Technology naik 6,5% pada Senin, menopang pasar seiring berlanjutnya reli saham produsen chip memori. Sementara itu, NVIDIA, yang menjadi primadona di sektor kecerdasan buatan (AI), melonjak hampir 2%.
"Pasar ini tidak ingin turun karena boom teknologi," tambahnya.
Pergerakan tersebut terjadi setelah S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melonjak lebih dari 2% dan 4% sepanjang pekan lalu.
Kedua indeks mencatat enam pekan berturut-turut mengalami kenaikan-yang pertama sejak 2024 dan menutup perdagangan Jumat pada rekor tertinggi sepanjang masa. Dow Jones juga naik 0,2% dalam sepekan, menandai lima minggu kenaikan dalam enam minggu terakhir.
Pelaku pasar perlu memperhatikan sejumlah sentiment pasar hari ini baik dari dalam ataupun luar negeri.
Dari luar negeri, sentiment terbesar akan datang adri erkembangan perang sementara dari dalam negeri datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
1. Perkembangan Perang
Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini "di ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri perang.
Iran menuntut penghentian konflik di semua front, termasuk di Lebanon, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya. Teheran juga menegaskan kendalinya atas Strait of Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Trump menyebut respons Iran "sama sekali tidak dapat diterima" dan mengatakan gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April kini sangat rapuh. Iran menegaskan tuntutannya sah, sementara Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons setiap agresi.
Kebuntuan ini mendorong harga minyak Brent Crude naik lebih dari 3% ke atas US$104 per barel. Arus kapal melalui Selat Hormuz menyusut drastis, memaksa produsen memangkas ekspor dan menekan pasokan global.
Di saat yang sama, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China. Di dalam negeri, dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan secara jelas tujuan perang tersebut.
Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada Rabu, dengan isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama.
2. MSCI
Agenda krusial hari ini adalah siklus rebalancing indeks MSCI. Berdasarkan pengumuman resmi MSCI tertanggal 20 April 2026, lembaga indeks global tersebut memberikan tanggapan atas reformasi transparansi pasar modal yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
MSCI tidak akan melakukan migrasi naik (upward migration) untuk sekuritas dari segmen Small Cap ke Standard. Kebijakan yang paling signifikan adalah keputusan MSCI untuk menghapus atau men-delete sekuritas yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia masuk dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC).
MSCI juga akan menggunakan data pengungkapan pemegang saham 1% untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan. Evaluasi lebih lanjut terhadap reformasi ini dijadwalkan akan dikomunikasikan kembali dalam Market Accessibility Review pada Juni 2026 mendatang.
Reformasi tersebut mencakup peningkatan keterbukaan pemegang saham di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan batas minimal free float menjadi 15%.
MSCI saat ini sedang mengevaluasi ruang lingkup serta efektivitas dari sumber data baru ini dalam penentuan estimasi saham beredar publik atau free float secara lebih luas.
Untuk tinjauan indeks Mei 2026, MSCI menetapkan perlakuan interim khusus bagi efek asal Indonesia untuk membatasi risiko investabilitas. MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak akan melakukan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
OJK mengantisipasi potensi gejolak di pasar modal menjelang pengumuman hasil tinjauan indeks global MSCI Inc.
Regulator menilai penyesuaian indeks tersebut dapat memicu tekanan jangka pendek, tetapi diyakini akan membawa manfaat besar bagi pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil rebalancing MSCI yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Menurutnya, MSCI sebelumnya telah melakukan freeze sehingga tidak ada saham baru yang masuk, namun sejumlah saham lama berpotensi dikeluarkan dari indeks.
"Besok kita tunggu. Namanya rebalancing index, tentu ada kemungkinan saham-saham disesuaikan," ujar perempuan yang akrab disapa Kiki itu saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (11/5/2026).
Kiki menegaskan, reformasi dan penguatan integritas pasar yang dilakukan regulator memang dapat memunculkan tekanan sementara. Namun, langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia.
"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain, tapi Insya Allah long term gain," katanya.
OJK juga berharap Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori emerging market pada evaluasi MSCI berikutnya pada Juni mendatang, dan tidak diturunkan menjadi frontier market.
Menurut Kiki, pengaruh lembaga indeks dan pemeringkat global terhadap pasar keuangan Indonesia sangat besar. Hal itu terbukti ketika pengumuman MSCI pada awal 2026 memicu gejolak di pasar saham, yang kemudian diikuti oleh penyesuaian outlook dari Moody's Corporation dan Fitch Ratings.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir tak khawatir mengenai pengumuman besok, menurutnya Bursa Indonesia juga sudah melakukan penerapan yang diminta sebelumnya.
"Kita tunggu aja besok. Seharusnya kan semua sudah dimasukkan juga, saya udah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan. Insyaallah besok baik lah," kata Pandu, di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pangan, Senin (11/5/2026).
Menurutnya penurunan Indeks yang terjadi kemarin juga bukan berkaitan dengan sentimen kepatutan pihak bursa dan regulator dalam negeri terhadap apa yang diminta MSCI.
"Hari ini kan lihat kan ada perubahan juga, saya rasa bukan menyangkut soal MSCI kok. Hari ini lebih banyak soal (sentimen) rupiah dan segala macem," katanya.
3. Konsumen RI Masih Optimis Tapi Ekspektasi Jatuh
Bank Indonesia merilis data Survei Konsumen edisi maret 2026 Senin kemarin. Keyakinan konsumen Indonesia pada April 2026 masih berada di zona optimistis. Namun, ada sinyal yang perlu dicermati karena ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan kembali melemah.
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang dirilis Senin (11/5/2026), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 tercatat sebesar 123,0. Angka ini naik tipis dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 122,9.
Keyakinan konsumen pada April terutama ditopang oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik menjadi 116,5, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 sebesar 115,4.
Dengan posisi tersebut, konsumen Indonesia secara umum masih optimistis karena IKK masih berada di atas level 100. Dalam survei BI, indeks di atas 100 menunjukkan konsumen berada dalam zona optimis.
Namun, kenaikan tipis IKK belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan yang merata. Sebab, komponen ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan justru kembali turun.
Di balik IKK yang masih terjaga, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada April 2026 turun ke level 129,6. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 130,4.
Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) turun dari 137,7 pada Maret 2026 menjadi 136,9 pada April 2026. Artinya, harapan konsumen terhadap peningkatan penghasilan dalam enam bulan ke depan sedikit melandai.
4. Saling Silang Pendapat Royalti Tambang Purbaya vs Bahlil
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan aturan penyesuaian tarif royalti perusahaan tambang, seperti batu bara dan nikel, akan mulai berlaku pada awal Juni 2026.
Purbaya mengatakan aturan ini sudah didiskusikan dengan Presiden Prabowo dan akan dirilis peraturan presiden (PP)-nya segera.
"Mungkin mulai berlaku awal Juni. Kalau saya nggak salah, betul nggak Juni? Juni," kata Purbaya kepada pewarta, Senin (11/5/2026).
Purbaya belum bisa merinci komoditas yang akan dikenakan penyesuaian tarif. Namun, dia mengungkapkan kemungkinan besar semua barang tambang akan dikenakan penyesuaian tarif.
"Nanti lihat ya kalau bea keluar. Tapi kalau menurut itu sih, across the board kata Pak bahlil waktu saya ketemu dia kemarin. Across the board itu semua barang tambang," ujarnya.
Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang merancang revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP Yang Berlaku pada Kementerian ESDM.
Dalam materi yang dibahas, aturan tersebut nantinya akan menetapkan penyesuaian tarif royalti untuk berbagai komoditas minerba seperti tembaga, emas, perak, bijih nikel, serta timah.
Aturan soal royalti ini nantinya keluar sejalan dengan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) serta aturan Bea Keluar Batu Bara dan Nikel, yakni Juni 2026.
"Kalau ini kayaknya Juni deh. Tergantung ini, tergantung berapa cepat PP-nya diproses. Tapi diskusi sudah selesai," katanya.
Berbeda dengan Purbaya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan usulan kenaikan tarif royalti untuk komoditas mineral, termasuk emas, tembaga, nikel, hingga timah masih sebatas tahap uji publik. Sehingga belum menjadi keputusan final pemerintah dan harus ditunda.
Bahlil mengakui bahwa beberapa hari terakhir pihaknya memang melakukan exercise dan sosialisasi terkait rencana perubahan tarif royalti. Hak ini dilakukan untuk menjaring masukan dari para pelaku usaha sebelum aturan resmi diterbitkan.
"Jadi gini, saya ingin mengatakan bahwa beberapa hari lalu teman-teman tim melakukan exercise. Amanat undang-undang itu adalah setiap peraturan yang akan kita buat diawali dengan exercise dan sosialisasi untuk mendapatkan feedback dari pelaku," katanya ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Bahlil lantas membeberkan pemerintah telah menerima berbagai tanggapan dari pengusaha maupun publik terkait rencana tersebut. Oleh sebab itu, Bahlil akan mengevaluasi kembali formulasi kebijakan agar tidak memberatkan pelaku usaha.
"Dan saya setelah mendengar masukan dari publik dan teman-teman pengusaha juga saya dapat masukan, maka ini saya pikir saya akan pending untuk membangun formulasi yang baik, yang saling menguntungkan. Negara untung dan pengusaha harus untung," tegas Bahlil.
Ia pun memastikan pemerintah akan menunda pembahasan lebih lanjut untuk mencari formulasi yang dianggap lebih tepat bagi seluruh pihak. Hal ini sekaligus menjawab apakah aturan ini akan diberlakukan pada Juni mendatang.
5. Penjualan Mobil Meledak
Penjualan mobil nasional mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat lesu pada periode Lebaran. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat distribusi mobil dari pabrik ke dealer atau wholesales mencapai 80.776 unit pada April 2026. Angka itu melonjak 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 52.108 unit.
Lonjakan tersebut sekaligus membalikkan kondisi pada Maret lalu ketika pasar otomotif terpukul akibat panjangnya masa libur Idulfitri. Pada bulan Maret lalu, penjualan mobil tercatat turun 13,8% dibanding bulan sebelumnya karena aktivitas pembelian masyarakat dan distribusi kendaraan melambat.
Secara bulanan, penjualan wholesales April tumbuh 31,8% dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 61.271 unit.
Sementara penjualan ritel atau distribusi dari dealer ke konsumen juga ikut membaik menjadi 75.730 unit, naik 13,7% dibanding bulan sebelumnya sebanyak 66.595 unit.
Pemerintah memutuskan untuk memberikan insentif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) atau pajak 0%. Insentif tersebut terbagi menjadi tiga tahap yang akan dievaluasi per tiga bulan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Bukan hanya dibanding bulan sebelumnya, penjualan ritel juga mencatat pertumbuhan tahunan yang cukup kuat. Retail sales April 2026 naik 30,2% dibandingkan April tahun lalu.
Hal ini membuat penjualan mobil nasional sepanjang Januari-April 2026 ikut terkerek. Dalam empat bulan pertama tahun ini, total wholesales mencapai 289.787 unit atau tumbuh 12,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 257.647 unit.
Dari sisi retail sales, penjualan kumulatif mencapai 287.581 unit atau naik 6,9% dibandingkan capaian Januari-April 2025 yang sebesar 268.940 unit.
Gaikindo sendiri menargetkan penjualan mobil nasional sepanjang 2026 mencapai 850.000 unit. Target tersebut naik sekitar 5,8% dibanding realisasi penjualan sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 803.687 unit.
6. Inflasi China Melonjak
Harga di tingkat pabrik (factory-gate) China terus pulih pada April, sementara inflasi konsumen naik secara moderat, menurut data resmi pada Senin.
Indeks harga produsen (PPI), yang mengukur harga di tingkat pabrik, melanjutkan tren ekspansinya untuk bulan kedua dengan kenaikan 2,8% secara tahunan pada April 2026, naik 2,3 poin persentase dari Maret 2026. Pada Maret, indeks ini kembali tumbuh setelah 41 bulan berturut-turut mengalami penurunan.
Data Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan harga di sektor pertambangan dan pengolahan logam non-besi naik 38,9% secara tahunan pada April, sementara sektor peleburan dan pengolahan logam non-besi naik 22,5%. Kedua sektor ini menyumbang sekitar 1,58 poin persentase terhadap pertumbuhan PPI.
Menurut NBS, kenaikan PPI terutama didorong oleh naiknya harga komoditas global serta meningkatnya permintaan di sejumlah industri domestik, termasuk sektor yang terkait dengan kebutuhan komputasi yang berkembang pesat.
Selain itu, persaingan di pasar domestik menjadi lebih tertata, dengan harga di beberapa industri naik atau mengalami penurunan yang lebih kecil, seiring upaya pemerintah mengurangi persaingan berlebihan.
Secara bulanan, PPI naik 1,7% pada April, meningkat 0,7 poin persentase dari bulan sebelumnya.
Sementara itu, indeks harga konsumen (CPI) China naik 1,2% secara tahunan pada April, lebih tinggi dibanding 1,0% pada Maret.
Harga barang konsumsi industri naik 3,5% secara tahunan, menjadi penyumbang utama kenaikan CPI dengan kontribusi sekitar 1,06 poin persentase. Sebaliknya, harga pangan turun 1,6%, dengan harga daging babi anjlok 15,2% dan menjadi salah satu penekan utama inflasi.
Secara bulanan, CPI naik 0,3% pada April, berbalik dari penurunan 0,7% pada Maret, terutama didorong kenaikan harga energi dan jasa perjalanan.
Secara kumulatif, inflasi konsumen China pada empat bulan pertama 2026 naik 0,9% dibanding tahun sebelumnya.
7.Penjualan Eceran Indonesia
Pada hari ini, Selasa (12/5/2026), BI akan merilis data penjualan eceran Indonesia untuk periode Maret 2026.
Pada Februari 2026, penjualan eceran mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 6,5%, yang merupakan laju tercepat sejak Maret 2024 akibat kuatnya belanja rumah tangga selama Ramadan.
Pertumbuhan ini dipimpin oleh sektor suku cadang dan aksesori otomotif yang melonjak 13,1%, sektor makanan, minuman, dan tembakau sebesar 8,8%, serta pakaian sebesar 4,9%. Barang budaya dan rekreasi juga berekspansi 10,1%.
8. Inflasi Amerika
Pada Selasa pekan ini, fokus utama global akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat untuk April 2026. Pada Maret, tingkat inflasi tahunan melonjak menjadi 3,3%, menandai level tertinggi sejak Mei 2024.
Kenaikan ini utamanya didorong oleh lonjakan biaya energi sebesar 12.5%, dengan harga bensin meroket 18,9% dan bahan bakar minyak melambung 44,2% sebagai dampak dari perang dengan Iran.
Bersamaan dengan inflasi umum, data inflasi inti Amerika Serikat yang mengecualikan komponen makanan dan energi juga akan dirilis untuk periode April 2026. Pada Maret 2026, inflasi inti tercatat naik secara moderat ke level 2,6%.
Inflasi masih tergolong tinggi untuk layanan yang tidak termasuk layanan energi di angka 3%, mencakup biaya tempat tinggal sebesar 3%, layanan transportasi 4,1%, dan layanan perawatan medis 3,7%.
Pada Rabu pekan ini, AS akan merilis data indeks harga produsen (PPI) April 2026. Pada Maret 2026, PPI tercatat inflasi 4% (YoY) dan 0,5% (secara bulanan).
..
Berikut agenda ekonomi hari ini:
-
JLL Indonesia Media Briefing di kantor JLL Indonesia, Jakart
-
Press Conference Online Kinerja Triwulan I-2026 PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk
-
International Seminar on Debottlenecking Channel di Gedung Dhanapala, kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menkeu
-
Pertemuan bilateral Menteri Luar Negeri Indonesia dan Menteri Luar Negeri Singapura di Gedung Pancasila, kantor Kemlu RI, Jakarta Pusat.\
- AS akan mengumumkan data inflasi April 2026
- Bank Indonesia akan mengumumkan data penjualan eceran Maret 2026
Berikut agenda korporasi hari ini:
RUPS PT Chemstar Indonesia Tbk
RUPS PT Millennium Pharmacon International Tbk
RUPS PT Segar Kumala Indonesia Tbk
RUPS PT Campina Ice Cream Industry Tbk.
RUPS PT Medela Potentia Tbk
RUPS PT Plaza Indonesia Realty Tbk
RUPS PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk
RUPS PT Tempo Inti Media Tbk
RUPS PT Siloam International Hospitals Tbk.
RUPS PT Cita Mineral Investindo Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Central Omega Resources Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Selamat Sempurna Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Multipolar Technology Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Lippo General Insurance Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Sarimelati Kencana Tbk.
Tanggal ex Dividen Tunai PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai ABM Investama Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai PT Multi Spunindo Jaya Tbk.
Tanggal cum Dividen Tunai PT PAM Mineral Tbk
Berikut data ekonomi dan indikator ekonomi terbaru:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Investor Waspada: Hari Ini Ada Pidato Trump & Serbuan Data Amerika