MARKET DATA

Emas vs Perak Mulai "Pisah Jalan", Ini Prediksi Harga Selanjutnya

mae,  CNBC Indonesia
08 May 2026 06:55
Emas
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas dan perak melandai setelah muncul laporan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Harga emas sempat menguat di intraday ditopang sinyal kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini meredakan kekhawatiran mengenai inflasi dan suku bunga tinggi berkepanjangan.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (7//5/2026) ditutup di posisi US$ 4685,18 per troy ons. Harganya melandai 0,09%.

Harga emas membaik pada hari ini. Pada Jumat (8//5/2026) pukul 06,36 WIB, arganya naik 0,21% ke US$ 4695 per troy ons.

"Jika gencatan senjata bertahan, perang ini bisa ditinggalkan, dan aktivitas bisnis kembali normal dengan Selat Hormuz terbuka, saya bisa melihat harga emas menembus US$5.000 per ounce," kata Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures, dikutip dari Refinitiv.

"Pasar saat ini hanya memantau situasi di Timur Tengah, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS," tambahnya.

AS dan Iran disebut semakin mendekati kesepakatan sementara untuk menghentikan perang, menurut sejumlah sumber dan pejabat terkait. Teheran saat ini sedang meninjau proposal yang akan menghentikan pertempuran, tetapi belum menyelesaikan isu-isu paling sensitif.


Harga minyak sempat berbalik naik. Seorang pejabat senior Iran mengatakan Iran tidak akan membiarkan AS membuka kembali Selat Hormuz dengan rencana yang tidak realistis.
Kenaikan biaya energi biasanya memicu inflasi.

Dalam situasi seperti itu, para pembuat kebijakan cenderung enggan memangkas suku bunga demi mengendalikan tekanan harga.
Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia itu menjadi kurang menarik di lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.


TD Securities dalam catatannya menyebut harga emas masih berpotensi naik di atas US$5.200 per ounce setelah konflik dan tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak mulai mereda.
"Perubahan arah kebijakan The Fed yang lebih fokus pada pasar tenaga kerja, penurunan imbal hasil obligasi, serta pelemahan dolar AS, ditambah kembali meningkatnya permintaan investor dan bank sentral, dapat memicu kembali tren bullish emas," tulis TD Securities.


Pasar kini menunggu laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis Jumat untuk menilai arah kebijakan moneter The Fed tahun ini.
Data juga menunjukkan bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya selama 18 bulan berturut-turut pada April.

Berbeda denga emas, harga perak masih kencang.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (7//5/2026) ditutup di posisi US$ 78,48 per troy ons. Harganya melesat 1,5%. Artinya, harga perak sudah melesat 7,92% dalam tiga hari terakhi.


Harga perak membaik pada hari ini. Pada Jumat (8//5/2026) pukul 06.39 WIB, harganya melonjak 0,76% ke US$ 79,07 per troy ons.


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Peringatan Keras: Harga Emas Ambruk 4% dalam Sehari, Masih Bisa Naik?


Most Popular
Features