Sempat Babak Belur, Harga Emas Terbang Lagi: Yakin Tembus US$5.000?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik hampir 2% pada Rabu, didorong oleh penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi serta menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, ketidakpastian terkait konflik Timur Tengah masih berlangsung.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (25/3/2026) ditutup di posisi US$ 4505,06 per troy ons atau menguat 0,7%.
Penguatan ini memperpanjang reli emas dengan menguat 2,2% dalam dua hari terakhir.
Penguatan juga membawa emas kembali ke level US$ 4500 per troy ons setelah terjerembab ke level US$ 4400 dalam tiga hari.
Harga emas sedikit melandai pada hari ini. Pada Kamis (26/3/2026) oukul 06.28 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4499,23 per troy ons atau melemah 0,13%.
"Emas saat ini mengalami pemulihan teknikal dan juga didukung oleh optimisme bahwa konflik yang melibatkan Iran mulai mereda, yang turut menekan harga minyak," kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, kepada Reuters.
"Kita masih perlu melihat penurunan lebih lanjut dalam kekhawatiran inflasi sebelum mulai mempertimbangkan kemungkinan pemangkasan suku bunga AS lagi pada tahun ini. Jika itu terjadi, emas berpotensi kembali naik ke US$5.000." imbuhnya.
Harga minyak turun setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) telah mengirim proposal 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang.
Pakistan telah menyampaikan proposal tersebut kepada Iran, dan Pakistan atau Turki berpotensi menjadi lokasi pembicaraan untuk meredakan konflik, menurut seorang pejabat senior Iran kepada Reuters.
Sementara itu, Pentagon dilaporkan berencana mengirim ribuan pasukan lintas udara ke kawasan Teluk guna memberi Presiden Donald Trump lebih banyak opsi untuk memerintahkan serangan darat.
Penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi, sehingga mengurangi kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lama.
Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung menurun dalam lingkungan suku bunga tinggi karena meningkatnya biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Analis di SP Angel menyebut bahwa volatilitas harga emas baru-baru ini mencerminkan lonjakan besar arus investasi spekulatif sepanjang 2025.
"Penurunan harga terbaru menunjukkan keluarnya sebagian besar modal tersebut secara tajam. Namun, kami melihat tren diversifikasi cadangan bank sentral akan terus berlanjut, dengan pemain baru mulai membeli pada 2026." Ujarnya.
Harga emas spot tercatat naik 64% sepanjang tahun lalu dan sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.594,82 per ounce pada 29 Januari. Namun, harga emas justru babak belur setelah perang datang. Harganya anjlok 15% sejak perang meletus pada 28 Februari lalu.
Addsource on Google