MARKET DATA
Newsletter

Pasar Dibayangi Kabar Genting dari AS, Data Cadev & Revisi RBB Bank

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
08 May 2026 06:26
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)

Dari pasar saham Amerika, bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Wall Street melemah setelah sempat mencetak rekor tertinggi intraday baru sepanjang masa.

Indeks S&P turun 0,38% dan ditutup di level 7.337,11, tertekan oleh pelemahan saham Amazon (-1,4%) serta saham semikonduktor seperti Broadcom dan Micron Technology.
Indeks Nasdaq Composite turun 0,13% dan berakhir di 25.806,20. Indeks yang didominasi saham teknologi itu juga sempat mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sesi perdagangan.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average kehilangan 313,62 poin atau 0,63% ke posisi 49.596,97.

Harga minyak memangkas pelemahan terdalamnya setelah sebelumnya sempat diperdagangkan jauh di bawah US$100 per barel pada sesi tersebut.
Kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 0,28% ke US$94,81 per barel, sedangkan kontrak minyak mentah Brent turun 1,19% menjadi US$100,06 per barel.

Saham-saham sebenarnya menguat pada Rabu, sementara harga minyak mendingin setelah Axios melaporkan AS dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan Gedung Putih meyakini pihaknya hampir mencapai nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin, yang tidak hanya bertujuan mengakhiri perang tetapi juga membangun kerangka pembicaraan nuklir yang lebih rinci.


Juru bicara kementerian luar negeri Iran mengatakan Iran sedang mengevaluasi proposal resolusi dari AS.
Namun, media pemerintah Iran pada Kamis melaporkan bahwa Teheran belum mengambil keputusan akhir dan belum memberikan tanggapan resmi kepada Washington.


Seorang pejabat senior Iran mengatakan negara di Timur Tengah itu tidak akan membiarkan AS membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz dengan rencana yang tidak realistis.
Pejabat itu juga mengatakan Iran tidak akan membiarkan AS keluar dari konflik tanpa membayar kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan di negara tersebut.


Ross Mayfield, strategist investasi di Baird mengaakan selain harapan investor terhadap meredanya ketegangan di Timur Tengah, musim laporan keuangan yang sangat kuat juga membantu mendorong pasar saham, ditambah permintaan yang tampaknya tak ada habisnya serta momentum di balik perdagangan saham AI.
"Kita sangat cepat berubah dari situasi 'semua orang bearish' menjadi 'wah, semua orang bullish lagi,'" katanya.


"Pasar mungkin sudah terlalu jenuh beli menjelang periode musiman yang biasanya lebih lemah, tetapi itu hanya gangguan kecil, bukan hambatan besar. Pasar saat ini seperti sedang menuju skenario melt-up, kecuali ada kejadian tak terduga." Imbuhnya.


Di antara saham yang mencatat kenaikan terbesar pada Kamis adalah Fortinet yang melonjak 20% setelah perusahaan menaikkan proyeksi tagihan (billings) tahunan penuh. Sementara itu, saham Peloton melesat hampir 9% setelah pendapatan kuartal ketiganya melampaui ekspektasi pasar.

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features