MARKET DATA

Ini Ramalan Terbaru Harga Emas & Perak, Bikin Kecewa?

mae,  CNBC Indonesia
04 May 2026 07:01
Emas
Foto: Pexels/Steinberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini di tengah masih banyaknya ketidakpastian global.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada hari ini, Senin (4/5/2026) pukul 06.50 WIB ada di posisi US$ 4613,18 per troy ons atau melemah 0,01%.

Pada akhir pekan lalu, harga emas ditutup melemah 0,17% ke US$ 4613,62. Dalam sepekan, harga emas jatuh 2,02%.

Sentimen logam mulia dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan makroekonomi.

"Fokus pekan depan akan tetap pada perkembangan pembicaraan damai antara AS dan Iran, serta dampaknya terhadap minyak, emas, dan pasar keuangan secara luas," ujar Pranav Mer dari JM Financial Services, kepada FX Market.

Bagaimana Harga Emas Pekan Ini?

Survei terbaru menunjukkan bahwa prospek harga emas pekan ini cenderung beragam, meskipun kecenderungan optimistis sedikit lebih dominan seiring membaiknya sentimen pasar.

Menurut survei Kitco News, dari 16 analis Wall Street yang berpartisipasi, sebanyak 8 orang (setara 50%) memprediksi harga emas akan naik pekan ini. Sementara itu, 5 analis (31%) menilai logam mulia tersebut berpotensi turun, dan 3 sisanya memperkirakan harga akan bergerak sideways.

Perkembangan ini mencerminkan tarik-menarik antara harapan pemulihan dan tekanan yang masih ada dari kebijakan moneter.

Di kalangan investor individu, hasil survei online dengan 79 responden juga menunjukkan pandangan serupa. Sebanyak 36 orang (46%) memperkirakan harga emas akan naik pekan ini, sementara 24 orang (30%) memprediksi penurunan.

Sisanya, yakni 24%, berpendapat bahwa harga emas akan bergerak dalam kisaran sempit. Secara umum, meskipun tren positif masih mendominasi, sentimen pasar tetap cukup berhati-hati.

Terkait prospek lebih spesifik, Marc Chandler, Managing Director di Bannockburn Global Forex, mengatakan bahwa emas menghadapi risiko koreksi jangka pendek.

Menurutnya, momentum pemulihan dari area US$4.510 per ons telah melemah karena harga gagal bertahan di level US$4.647 per ons.

"Logam mulia ini berpotensi menguji kembali area US$4.495 per ons. Jika level ini ditembus, harga emas bisa melanjutkan penurunan ke kisaran US$4.400 per ons," ujarnya.

Dari perspektif makroekonomi, Adam Button, Head of Currency Strategy di ForexLive, menilai bahwa tren kebijakan "hawkish" bank sentral menjadi tekanan bagi emas.

Menurutnya, ekspektasi suku bunga global telah meningkat signifikan dibandingkan dua bulan lalu, sehingga mempersempit peluang pelonggaran kebijakan moneter.

Hal ini berarti biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih tinggi, sehingga membatasi potensi kenaikan harga logam mulia tersebut.

Selain itu, fluktuasi harga minyak dan tekanan inflasi terus membuat bank sentral bersikap hati-hati, yang pada akhirnya meningkatkan ketidakstabilan di pasar emas.

Secara keseluruhan, pada pekan ini harga emas diperkirakan akan terus bergerak fluktuatif dalam rentang yang cukup lebar, dengan arah tren yang belum jelas karena faktor pendukung dan penekan masih saling berkelindan.

Harga perak diperkirakan akan sulit terbang meskipun sudah membaik.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada hari ini, Senin (4/5/2026) pukul 06.56 WIB ada di posisi US$ 75,72 per troy ons atau menguat 0,51%.

Pada akhir pekan lalu, Jumat (1/5/2026) harga emas ditutup menguat 2,2% ke US$ 75,34. Dalam sepekan, harga perak melemah 0,44%.

Bank investasi global UBS menilai potensi kenaikan harga perak dalam 12 bulan ke depan relatif terbatas, meskipun prospek jangka menengah masih menunjukkan arah positif.

Dalam proyeksi terbarunya, UBS memperkirakan harga perak akan bergerak stabil di kisaran US$85 per ons. Harga bahkan berpeluang naik hingga mendekati US$100 per ons pada pertengahan 2026, sebelum kembali melemah ke sekitar US$85 pada 2027.

Artinya, meskipun ada peluang kenaikan, potensi imbal hasil dalam jangka pendek dinilai kurang menarik bagi investor.

Volatilitas Tinggi, Risiko Meningkat

UBS juga menyoroti tingginya volatilitas perak yang menjadi perhatian utama pasar.

Dalam jangka pendek (1-3 bulan), volatilitas perak tercatat mencapai sekitar 100%. Sementara itu, proyeksi ke depan masih berada di level tinggi, yakni 70-80%, bahkan disebut sebanding atau lebih tinggi dibandingkan Bitcoin.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perak saat ini bukan lagi aset yang stabil, melainkan lebih bersifat spekulatif bahkan lebih berisiko dibanding emas sebagai safe haven tradisional.

Geopolitik Hanya Picu Lonjakan Sementara

Lonjakan harga perak sebelumnya sempat dipicu oleh konflik AS-Iran yang mendorong harga mendekati US$100 per ons. Namun, reli tersebut tidak bertahan lama dan harga kembali turun di bawah US$85.

UBS menilai bahwa dampak geopolitik terhadap logam mulia cenderung bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk menopang tren kenaikan jangka panjang.

 

 


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Pesta 7 Hari 7 Malam Berakhir, Harga Emas Jatuh Karena Bandar Bingung


Most Popular
Features