MARKET DATA
Newsletter

Badai Sentimen Datang, IHSG & Rupiah Terancam Tersungkur Terus?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
04 May 2026 06:35
Minyak Mentah
Foto: The Economist
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk berjamaah pada akhir pekan lalu, rupiah dan IHSG jatuh dalam
  • Wall Street berakhir beragam tetapi secara bulanan menguat
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri serta perkembangan perang masih akan menjadi penggerak pasar pekan ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan lalu.  Rupiah dan pasar saham sama-sama ambruk di tengah masih tingginya ketidakpastian global.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini dan sepanjang ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen proyeksi pasar hari ini dan sepanjang ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam pada perdagangan terakhir pekan lalu, Kamis (30/4/2026). IHSG ditutup di 6.956,80, turun 144 poin (-2,03%) dan menjadi titik terendah IHSG sepanjang tahun 2026. Bahkan, sejak awal tahun IHSG tercatat telah terkoreksi nyaris 20%.

Hanya 133 saham menguat, 576 saham melemah, dan 105 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 21,88 triliun dengan volume perdagangan sekitar 48,20 miliar saham dalam lebih dari 2,66 juta kali transaksi.

Asing mencatat net sell sebesar Rp 1,49 triliun sehingga dalam sepekan total dana asing keluar menembus Rp 8,56 triliun.

Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh infrastruktur, barang baku dan energi.

Bergeser ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Seiring respons pasar global terhadap keputusan bank sentral AS (The Fed) yang kembali menahan suku bunga.

Melansir Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.305/US$ atau terdepresiasi 0,17%. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah baru rupiah sepanjang masa.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen dolar AS yang masih kuat di pasar global.

Dolar AS sempat naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan setelah The Fed memberi sinyal yang lebih hawkish dan harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun.

Harga minyak Brent naik ke level tertingginya sejak Maret 2022. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan setelah muncul laporan bahwa AS tengah mempertimbangkan aksi militer terhadap Iran untuk memecah kebuntuan dalam negosiasi gencatan senjata.

Sentimen tersebut datang bersamaan dengan keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga. Ketua The Fed Jerome Powell menutup delapan tahun masa kepemimpinannya dengan mempertahankan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melemah ke 6,829% pada Kamis pekan lalu, dari 6,95% pada hari sebelumnya. Melandainya imbal hasil menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.

Reli pasar saham Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan kembali diuji pada pekan ini seiring investor mencermati gelombang baru laporan kinerja emiten serta data ketenagakerjaan terbaru. Hal ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak dan sikap bank sentral yang semakin agresif.

Indeks utama Wall Street pada akhir pekan lalu ditutup beragam setelah bangkit tajam sepanjang April dari kekhawatiran dampak ekonomi perang Timur Tengah. Kinerja laba perusahaan yang kuat menjadi penopang utama optimisme pasar, sekaligus meredam berbagai tekanan eksternal.

Indeks S&P 500 naik 0,29% dan ditutup di level 7.230,12.

Sementara itu,Nasdaq Com

posite menguat 0,89% hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 25.114,44. Kedua indeks tersebut sama-sama mencetak rekor penutupan baru.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru melemah 152,87 poin atau 0,31% ke posisi 49.499,27.

Indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2020. Sepanjang April, S&P 500 melonjak lebih dari 10%, sementara Nasdaq melesat lebih dari 15%, dan keduanya melanjutkan kenaikan di awal Mei.

Namun, di balik reli tersebut, mulai muncul tarik-menarik sentimen.

"Di satu sisi kita melihat lonjakan laba perusahaan, tapi di sisi lain ada tekanan dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi," ujar Angelo Kourkafas dari Edward Jones, dikutip dari Refinitiv.Ia menilai pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi setelah reli kuat sepanjang April.

Harga minyak sempat melonjak tajam, dengan Brent menembus US$120 per barel sebelum akhirnya terkoreksi.

Lonjakan ini dipicu konflik AS-Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan global. Meski sempat ada harapan dari gencatan senjata, ketegangan yang masih berlangsung membuat pasar tetap waspada.

"Setiap hari yang berlalu, risiko ekonomi semakin besar," kata Jeff Buchbinder dari LPL Financial.

Dia mengingatkan, jika harga minyak tetap di atas US$120 dalam beberapa bulan ke depan, dampaknya terhadap ekonomi global bisa jauh lebih serius.

Musim Laporan Keuangan Memanas

Lebih dari 100 perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini. Secara keseluruhan, laba emiten diperkirakan melonjak 27,8% pada kuartal I-2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi pertumbuhan tercepat sejak akhir 2021.

Sejumlah raksasa teknologi sebelumnya telah merilis kinerja dengan hasil beragam.

 

Saham Alphabet melonjak berkat pertumbuhan kuat bisnis cloud, sementara Microsoft dan Meta Platforms justru melemah setelah hasil yang kurang memuaskan pasar.

Pekan ini, perhatian akan tertuju pada laporan dari Palantir Technologies, The Walt Disney Company, serta McDonald's.

Selain itu, kinerja Advanced Micro Devices (AMD) juga menjadi sorotan utama. Saham AMD telah melonjak lebih dari 80% sejak akhir Maret, seiring euforia sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan.

"Ini sektor yang mendominasi pergerakan pasar saat ini. Setiap data baru akan sangat krusial," ujar Michael O'Rourke dari JonesTrading.

Data Tenaga Kerja Jadi Kunci, Harapan Pemangkasan Bunga Memudar

Selain laporan keuangan, investor juga menanti data ketenagakerjaan AS untuk April yang akan dirilis 8 Mei. Ekonom memperkirakan penambahan 60.000 lapangan kerja.

Angka ini melambat dari 178.000 pada Maret, namun lebih baik dibanding penurunan tajam pada Februari.

"Pasar tenaga kerja memang melambat, tapi masih cukup bertahan," kata Buchbinder.

Data ini menjadi krusial di tengah memudarnya harapan pemangkasan suku bunga. Rapat terbaru Federal Reserve menunjukkan perpecahan internal, dengan sejumlah pejabat menilai risiko inflasi masih tinggi dan bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga.

 

Sikap hawkish tersebut, ditambah lonjakan harga minyak, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi dalam sebulan. Yield obligasi tenor 10 tahun tercatat di kisaran 4,38%.

Kenaikan yield ini berpotensi menjadi ancaman bagi pasar saham, karena meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan dunia usaha.

"Jika yield 10 tahun menembus 4,5%, investor akan mulai mempertanyakan valuasi saham," ujar Kourkafas.

Pekan ini dibuka dengan serangkaian rilis data yang langsung menyentuh denyut utama pasar inflasi domestik, neraca dagang, hingga indikator tenaga kerja Amerika Serikat.
Arah pergerakan aset berisiko akan sangat bergantung pada apakah tekanan harga mereda dan apakah ekonomi global masih cukup kuat menahan suku bunga tinggi.

Di saat yang sama, harga energi yang masih tinggi dan gangguan rantai pasok global menjaga tekanan biaya tetap hidup. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian dari data yang masuk satu per satu.

Berikut agenda ekonomi sepanjang pekan ini:

Perkembangan Perang

residen Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa Amerika Serikat akan mencoba "membebaskan" kapal-kapal kargo yang terjebak akibat penutupan Selat Hormuz sejak perang dengan Iran dimulai.

Upaya tersebut, yang oleh Trump dalam unggahannya di Truth Social disebut sebagai "Project Freedom", dijadwalkan dimulai pada Senin. Presiden menyatakan bahwa operasi ini hanya difokuskan untuk mengevakuasi kapal sipil dari negara-negara yang tidak terlibat konflik, agar dapat kembali beroperasi secara normal.

"Saya telah meminta perwakilan saya untuk memberi tahu mereka bahwa kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengeluarkan kapal dan awaknya dengan aman dari selat tersebut," ujar Trump. "Dalam semua kasus, mereka menyatakan tidak akan kembali sampai wilayah itu aman untuk navigasi."

Trump tidak merinci bagaimana AS akan menjalankan operasi tersebut, termasuk peran militer AS di dalamnya. Belum jelas pula apakah Iran akan mengizinkan operasi ini tanpa gangguan di tengah konflik yang masih berlangsung, serta kapan selat tersebut akan kembali dibuka untuk pelayaran normal.

Gedung Putih dan Department of Defense belum memberikan tanggapan atas permintaan informasi lebih lanjut.

Sejak perang pecah, Selat Hormuz sebagian besar tidak dapat dilalui, membuat banyak kapal kargo terjebak dan mengganggu rantai pasok global. Sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia melewati jalur ini, sehingga penutupan tersebut mendorong lonjakan harga minyak dan bensin, termasuk di AS.

Upaya terbaru ini tampaknya bukan untuk memulihkan kebebasan navigasi sepenuhnya, melainkan hanya memungkinkan kapal-kapal yang terjebak untuk keluar dengan aman. Iran dilaporkan menghambat pelayaran dengan menembaki kapal yang mencoba melintas serta menempatkan ranjau di jalur tersebut.

Neraca Perdagangan dan Inflasi Indonesia

Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis data inflasi dan neraca perdagangan Maret pada Senin (4/5). Inflasi Indonesia diperkirakan naik secara bulanan pada April 2026, salah satunya karena ada lonjakan harga BBM non-subsidi.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 akan mengalami inflasi 0,43% secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan median inflasi tahunan 2,72% (year-on-year/yoy).

Sementara itu, inflasi inti pada April 2026 diperkirakan berada di level 2,40% yoy.

Sebagai catatan, pada Maret 2026 Indonesia mengalami inflasi 0,41% (mtm), sementara secara tahunan inflasi tercatat 3,48% (yoy) dan inflasi inti mencapai 2,63% (yoy).

Kepala ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan kenaikan inflasi bulanan disumbang beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, gandum, kedelai, dan cabai merah.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi (Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite) juga mengalami kenaikan.

"Pelemahan rupiah turut mendorong kenaikan inflasi impor. Sementara itu, seiring penurunan harga emas dunia, harga emas dan perhiasan mengalami penurunan pada bulan Maret," tutur Juniman, kepada CNBC Indonesia.

Sebagai catatan, pemerintah menaikkan sejumlah harga BBM non-subsidi per 18 April 2026. Harga Pertamax Turbo melonjak 48,1% dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter.

Tak hanya itu, Dexlite juga naik 66,2% dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter. Sementara Pertamina Dex naik 64,8% dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.900 per liter.

Sementara iitu data BPS menunjukkan pada Februari 2026, surplus tercatat sebesar US$1,28 miliar, turun tajam dari US$3,09 miliar pada periode yang sama tahun lalu dan berada di bawah ekspektasi pasar.

Pergerakan ini dipicu oleh impor yang tumbuh 10,85% secara tahunan menjadi US$20,89 miliar, sementara ekspor hanya naik 1,01%. Kenaikan ekspor ditopang oleh lemak dan minyak nabati serta mesin listrik, sementara ekspor migas tertekan akibat penurunan tajam minyak mentah.

Jika pola ini berlanjut, ruang surplus berpotensi tetap tipis. Kondisi tersebut akan memengaruhi persepsi terhadap kekuatan eksternal Indonesia, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan impor yang masih tinggi.

PMI Manufaktur RI

Hari ini, S&P Global juga akan mengumumkan aktivitas manufaktur Indonesia pada April 2026. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global bulan lalu menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,1 pada Maret 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau delapan bulan terakhir.

Kendati melandai, PMI Indonesia masih dalam fase ekspansif selama delapan bulan beruntun.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

PMI ambruk karena terjadii penurunan baik pada volume produksi maupun pesanan baru sepanjang Maret.

Data Maret menunjukkan adanya penurunan kembali pada tingkat produksi setelah empat bulan berturut-turut mengalami pertumbuhan dan lonjakan signifikan pada Februari.




Cadangan Devisa

Bank Indonesia akan mengumumkan data cadangan devisa April pada Jumat (8/5/2026). Cadangan devisa ini diperkirakan akan turun karena operasi moneter yang dilakukan BI pada April 2026 untuk menahan kejatuhan rupiah.

Sebagai catatan, cadangan devisa (cadev) Indonesia tersisa US$ 148,2 miliar pada Maret 2026, merosot sekitar US$ 3,7 miliar dibanding catatan bulan sebelumnya US$ 151,9 miliar.

Factory Orders dan Sinyal Industri AS

Dari Amerika Serikat, data factory orders Maret akan dirilis pada Senin malam waktu Indonesia. Pada Februari, indikator ini stagnan setelah sebelumnya tumbuh 0,4%.


Kondisi tersebut menggambarkan sektor manufaktur yang mulai kehilangan momentum. Permintaan yang melemah dapat berdampak pada produksi dan investasi, terutama ketika biaya pembiayaan masih tinggi.

Jika kontraksi berlanjut, pasar akan mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap daya tahan ekonomi AS di kuartal kedua.

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 pada Selasa (5/5/2026). Data ini sangat penting dalam melihat sejauh mana ketahanan ekonomi Tanah Air menghadapi guncangan global di awal tahun.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 diperkirakan masih tinggi karena dampak Lebaran dan Ramadan serta libur panjang.

Sebagai catatan, Ramadan adalah puncak konsumsi di Indonesia. Pada kuartal I-2025, ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% secara year-on-year (yoy), melambat dari periode yang sama tahun sebelumnya dan mencatat kontraksi 0,98% dibandingkan kuartal IV-2024 (q-to-q).

ISM Services dan JOLTS


Memasuki Selasa (5/5), dua indikator penting dari sektor jasa dan tenaga kerja akan dirilis. ISM Services PMI Maret berada di level 54, turun dari 56,1 pada Februari. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas bisnis dan penyerapan tenaga kerja.

Di saat yang sama, indeks harga dalam survei tersebut justru naik ke level tertinggi sejak 2022, didorong oleh kenaikan biaya energi dan gangguan logistik.

Untuk pasar tenaga kerja, lowongan kerja turun menjadi 6,882 juta pada Februari. Penurunan terjadi di berbagai sektor dan wilayah, mengindikasikan permintaan tenaga kerja mulai melandai.

Kombinasi perlambatan aktivitas dan tekanan biaya akan menjadi faktor penting dalam membaca arah inflasi ke depan.

Non-Farm Payrolls dan Tingkat Pengangguran AS


Menjelang akhir pekan, fokus pasar akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat (8/5). Pada Maret, ekonomi AS menambah 178 ribu lapangan kerja, jauh di atas ekspektasi.

Kenaikan terutama terjadi di sektor kesehatan, konstruksi, dan transportasi. Di sisi lain, sektor pemerintahan federal dan aktivitas keuangan mencatat penurunan.

Tingkat pengangguran berada di 4,3%, dengan partisipasi angkatan kerja yang sedikit menurun. Data terbaru akan menentukan apakah pasar tenaga kerja masih cukup kuat atau mulai kehilangan tenaga.

Hasil yang terlalu kuat berpotensi menjaga tekanan suku bunga tetap tinggi. Sebaliknya, pelemahan signifikan akan membuka ruang penyesuaian ekspektasi kebijakan.

Kepercayaan Konsumen AS

Indeks sentimen konsumen awal Mei juga akan dirilis pada hari yang sama yakni Jumat. Pada April, indeks berada di 49,8, mencerminkan keyakinan yang masih rendah.

Perubahan kecil pada indikator ini sering kali berdampak besar terhadap ekspektasi konsumsi, yang menjadi tulang punggung ekonomi AS.


Data Perdagangan China

Menutup pekan ini,  China akan merilis data perdagangan April pada Sabtu (9/5). Pada Maret, surplus perdagangan turun ke US$51,13 miliar, level terendah dalam lebih dari setahun.

Ekspor hanya tumbuh 2,5% akibat faktor musiman dan basis tinggi tahun lalu. Di sisi lain, impor melonjak 27,8% dan mencatat rekor tertinggi, didorong oleh kebutuhan bahan baku dan pembelian teknologi.

Lonjakan impor mencerminkan upaya mengamankan pasokan di tengah gangguan global. Namun, perlambatan ekspor tetap menjadi catatan penting bagi prospek permintaan global.

rilis terbaru akan menjadi penutup pekan yang menentukan arah sentimen, terutama bagi pasar komoditas dan negara dengan ketergantungan ekspor tinggi.


Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • BPS akan mengumumkan data inflasi dan neraca dagang
  • S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur RI dan sejumlah negara
  • Kick-Off Meeting Infrastruktur

    Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di Ballroom Gedung Mina Bahari, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat.\

  • Konferensi pers Menteri Koordinator Bidang Pangan terkait perkembangan pengadaan Sumber Daya Manusia Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat. Turut hadir Kepala BP BUMN

  • Konferensi pers Menteri Koordinator Bidang Pangan terkait penandatanganan MoU Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) antara Danantara dengan pemerintah daerah di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat. Turut hadir Kepala BP BUMN.

Berikut agenda korporasi pada hari ini:

  • Tanggal ex HMETD PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk
  • RUPS PT Acset Indonusa Tbk
  • RUPS PT PAM Mineral Tbk
  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bank OCBC NISP Tbk
  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Matahari Department Store Tbk
  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Mulia Boga Raya Tbk
  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Adiwarna Anugerah Abadi Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai Astra International Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai Kedawung Setia Industrial Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai PT Prodia Widyahusada Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai PT Bank SMBC Indonesia Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Sinar Terang Mandiri Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Chitose Internasional Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Medikaloka Hermina Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai Central Omega Resources Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Trisula Textile Industries Tbk
  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Pertamina Geothermal Energy Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai Trisula International Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai PT Medikaloka Hermina Tbk.



Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.


(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article IHSG Menggila, Rupiah Kapan Menyala?


Most Popular
Features