MARKET DATA

Saatnya RI Ekspansif, Inggris Bisa Jadi Gerbang Peluang Baru

mae,  CNBC Indonesia
18 May 2026 07:15
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto berbincang di Downing Street di pusat kota London, Selasa, 20/1/2026.
Foto: Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto berbincang di Downing Street di pusat kota London, Selasa, 20/1/2026. JUSTIN TALLIS/Pool via REUTERS

Bagi Inggris, Indonesia juga belum menjadi mitra dagang utama. Indonesia menempati posisi ke-55 dalam daftar mitra Inggris dan menyumbang 0,2% dari total perdagangan Inggris. Indonesia merupakan pasar ekspor Inggris ke-54.

Data BPS menunjukkan lima komoditas ekspor RI ke Inggris masih alas kaki, kayu, hingga kopi dan mainan.

Yang menarik, dalam setahun terakhir ada jeumah barang yang mengalami lonjakan ekspor yakni gabus hingga mutiara.

Sementara itu produk yang paling banyak diimpor Indonesia dari Inggris di antaranya peralatan mekanis, mesin, kendaraan hingga produk farmasi.

Perkembangan investasi Inggris di Indonesia justru menunjukkan kondisi yang lebih baik.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKMP), nilai investasi Inggris di Indonesia pada 2019 masih tercatat US$ 142,1 juta dengan total proyek 757. Inggris menempati posisi le-20 dalam daftar pemodal asing di Indonesia.

Jumlah tersebut sempat melonjak US$ 628,3 juta pada 2022 sebelum turun pada 2025 menjadi US$ 488,1 juta.

Potensi Besar Tapi Belum Tergali

Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN dengan pertumbuhan konsisten 5% dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, dominasi usia produktif, dan urbanisasi yang terus meningkat, Indonesia memiliki pasar besar dengan potensi pertumbuhan kelas menengah yang masih luas.

Pertumbuhan kelas menengah yang cepat serta daya beli yang terus membaik juga meningkatkan kebutuhan akan kesehatan hingga pendidikan. Kondisi ini membuka peluang masuknya negara lain untuk memasok barang hingga jasa di kedua sektor tersebut.

Di sisi lain, Inggris menawarkan Developing Countries Trading Scheme (DCTS). Skema ini memberi kemudahan berupa penghapusan atau penurunan tarif untuk berbagai produk dari negara berkembang, sehingga membuat barang ekspor lebih kompetitif di pasar Inggris.

Bagi Indonesia, peluang ini cukup menarik karena Inggris merupakan pasar besar dengan daya beli tinggi. Konsumen di sana dikenal mencari produk berkualitas serta berkelanjutan, terutama untuk komoditas pertanian seperti kopi, rempah-rempah, cabai, hingga produk hortikultura.

Tak hanya itu, Inggris juga dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan global dengan volume impor besar.

Pasca Brexit, Inggris juga lebih aktif membuat kebijakan dagang independen melalui berbagai perjanjian ekonomi yang lebih praktis dan fleksibel.

Hal ini berbeda dengan Uni Eropa di mana syarat perdagangan yang ditawarkan lebih sulit dengan melibatkan banyak isu mulai dari kuota hingga keberlanjutan.

Kendati memiliki potensi yang sama-sama besar, hubungan dagang keduanya tidak berkembang pesat karena sejumlah alasan. Di antaranya adalah:
Meski memiliki potensi besar, perdagangan antara Indonesia dan United Kingdom masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya:

1. Standar dan regulasi yang ketat.

Inggris menerapkan standar mutu, keamanan pangan, kesehatan, hingga sertifikasi lingkungan yang mirip dengan European Union. Sejumlah produk juga masih dikenakan skema Tariff Rate Quota (TRQ), yakni kuota impor dengan tarif tertentu.

2. Biaya logistik tinggi dan jarak pengiriman jauh

Biaya logistik tinggi dan jarak pengiriman jauh menjadi hambatan tersendiri. Pengiriman barang dari Indonesia ke Inggris membutuhkan waktu lebih lama dan ongkos lebih besar dibanding pasar Asia.

3. Regulasi ESG

Inggris dan Eropa semakin menuntut produk yang ramah lingkungan, rendah emisi, bebas deforestasi, serta sejalan dengan komitmen Paris Agreement.

4. Struktur ekspor RI
Tantangan berikutnya datang dari struktur ekspor RI yang masih didominasi komoditas mentah atau setengah jadi. Sementara pasar Inggris cenderung membutuhkan produk bernilai tambah tinggi, berteknologi, serta memiliki branding kuat.

Lebih dari 50% ekspor RI masih didominasi komoditas mulai dari batu bara, minyak sawit mentah, hingga nikel.
Dengan struktur komoditas ini, ekspor RI sangat terkonsentrasi ke negara-negara yang membutuhkan komoditas mentah seperti China dan India.

negara tujuan ekspor IndonesiaFoto: BPS

5. Tarif Tinggi
Baik Indonesia maupun Inggris masih memberlakukan tarif tinggi, terutama untuk sejumlah produk. Indonesia bahkan menerapkan tarif impor sangat tinggi yakni 150% kepada sejumlah produk asal Inggris yakni minuman beralkohol.

Sejumlah produk yang banyak diimpor dari Inggris juga masih diberlakukan tarif tinggi seperti kendaraan (HS 87) yakni 41%. Produk ekspor Indonesia dengan tarif impor tertinggi adalah Daging dan bagian lain dari paus, lumba-lumba, serta pesut (131%).

Tarif tinggi ini bisa menggerus permintaan impor padahal ada banyak produk yang memang dibutuhkan Indonesia, seperti kendaraan.

Meski hubungan dagang antara Indonesia dan Inggris terus berkembang, potensi kerja sama ekonomi kedua negara masih jauh dari optimal.

Dengan kekuatan Indonesia sebagai pasar besar dan pusat sumber daya strategis, serta keunggulan Inggris di bidang keuangan, teknologi, pendidikan, dan jasa profesional, ruang untuk meningkatkan perdagangan dan investasi masih sangat luas.

Jika didukung oleh kebijakan yang lebih proaktif, penyederhanaan regulasi, dan penguatan kemitraan bisnis, hubungan ekonomi Indonesia-Inggris berpeluang tumbuh jauh lebih besar dan menjadi salah satu pilar penting kerja sama bilateral di masa depan.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google




Most Popular
Features