MARKET DATA

5 Negara dengan Harga LPG Termurah & Termahal di Dunia

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia
22 April 2026 10:50
Infografis: Subsidi LPG 2018 Capai Rp 64 T
Foto: Infografis/Subsidi LPG 2018 Capai Rp 64 T/Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga LPG global menunjukkan perbedaan harga yang tajam antarnegara. Per 13 April 2026, rata-rata harga LPG dunia tercatat sekitar US$0,91 per liter atau Rp 15.597 (US$1= Rp 17.140).

Negara-negara maju umumnya menghadapi harga lebih tinggi, sementara negara berkembang serta produsen dan eksportir gas menikmati harga yang relatif lebih murah.

Perbedaan ini bukan berasal dari harga bahan baku, melainkan dari kebijakan domestik masing-masing negara, mulai dari struktur pajak hingga besaran subsidi energi. Meski seluruh negara mengacu pada harga gas alam di pasar internasional, penerapan pajak dan subsidi membuat harga eceran LPG sangat bervariasi.

Negara dengan Harga LPG Termurah

Melansir dari Global Petrol Prices, Sejumlah negara tercatat memiliki harga LPG yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata global. Aljazair menjadi negara dengan harga termurah, yakni hanya US$0,091 per liter atau Rp 1.542 , diikuti Angola sebesar US$0,109 per liter.

Sementara itu, Arab Saudi mencatat harga US$0,290 per liter, disusul Rusia sebesar US$0,409 per liter dan Azerbaijan US$0,412 per liter.

Rendahnya harga LPG di negara-negara tersebut tidak terlepas dari posisi mereka sebagai produsen dan eksportir gas alam, yang memungkinkan biaya produksi lebih rendah serta dukungan subsidi energi dari pemerintah.

Negara dengan Harga LPG Termahal

Namun, sejumlah negara mencatat harga LPG yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Yunani menjadi negara dengan harga termahal yakni mencapai US$1,611 per liter atau Rp 27.424 per liter  diikuti Israel sebesar US$1,595 per liter.

Selanjutnya, Jerman mencatat harga US$1,405 per liter, Swiss US$1,393 per liter, dan Kroasia sebesar US$1,388 per liter. Tingginya harga LPG di negara-negara ini umumnya dipengaruhi oleh minimnya produksi domestik serta kebijakan pajak energi yang relatif tinggi.

Selain itu, keterbatasan subsidi dan ketergantungan pada impor energi membuat harga LPG lebih sensitif terhadap dinamika pasar global, sehingga berdampak langsung pada harga eceran di tingkat konsumen.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular