Inggris Kebanjiran Sarjana Tapi Banyak Gelar Danggap Kurang Berguna
Jakarta, CNBC Indonesia - Selama lebih dari satu dekade, Inggris menjual satu gagasan besar kepada generasi mudanya bahwa kuliah adalah jalur aman menuju hidup yang lebih baik.
Tarif kuliah dinaikkan tiga kali lipat pada 2012, tetapi minat masuk universitas tetap deras. Anak muda tetap datang, aula kampus tetap penuh, dan ijazah terus dicetak.
Melansir The Economist pada 2024, sekitar 60% anak muda Inggris memiliki kualifikasi pendidikan pasca-sekolah menengah. Saat biaya kuliah dinaikkan dulu, angkanya masih 48%.
Inggris kini masuk jajaran negara kaya dengan tingkat partisipasi pendidikan tinggi tertinggi di dunia.
Namun suasana mulai berubah. Negeri yang lama mendorong ekspansi universitas kini mempertanyakan apakah terlalu banyak mahasiswa masuk kampus.
Sorotan muncul setelah isu utang mahasiswa kembali memanas. Partai Konservatif mengusulkan pengurangan sekitar 100.000 mahasiswa baru per tahun. Sebagai gambaran, sebanyak 652.525 warga Inggris memulai program sarjana pada 2024.
Foto: The EconomistInggris, estimasi imbal hasil bersih seumur hidup bagi kas negara dari pendidikan tinggi per mahasiswa berdasarkan jurusan, harga tahun 2018. |
Semakin banyak mahasiswa meminjam dana kuliah, semakin besar beban sistem pinjaman pendidikan.
Bila jumlah peserta ditekan, pemerintah berharap ruang fiskal terbuka untuk meringankan bunga utang lulusan lama.
Ada dua perdebatan yang muncul. jalur pertama menyangkut kualitas penerimaan mahasiswa. Kompetisi antar kampus membuat standar masuk dinilai makin longgar. Pada 2024, lebih dari 10% mahasiswa baru program sarjana penuh waktu diterima tanpa A-Level atau kualifikasi setara. Sepuluh tahun lalu porsinya sekitar 3%.
Sekitar seperempat mahasiswa dari kelompok tersebut gagal menyelesaikan studi. Angka itu dua kali lipat rata-rata nasional. Kampus menerima lebih banyak mahasiswa, tetapi sebagian keluar dengan utang dan tanpa gelar.
Â
Perdebatan kedua menyentuh isu yang lebih sensitif, nilai ekonomi jurusan kuliah.
Institute for Fiscal Studies pada 2020 menggabungkan data pendidikan dan pendapatan, lalu menghitung dampak seumur hidup lulusan. Hasilnya tajam. Sekitar seperlima lulusan secara finansial diperkirakan akan lebih untung bila tidak masuk universitas sama sekali.
Temuan itu banyak muncul pada jurusan seni kreatif, pertanian, dan bahasa Inggris. Seni kreatif sendiri dipilih sekitar 7% mahasiswa sarjana.
Bagi sebagian lulusan, kenaikan pendapatan setelah wisuda terlalu kecil untuk menutup biaya kuliah dan bunga pinjaman.
Di Inggris, sisa utang mahasiswa yang belum lunas dapat dihapus setelah 30 tahun. Artinya, bila pendapatan lulusan rendah, tagihan akhirnya berpindah ke negara.
Sebuah studi pada 2019 memperkirakan lulusan seni kreatif rata-rata hanya mampu membayar kembali sekitar seperempat dari pinjaman mereka.
Maka debat hari ini terkait apakah universitas tetap menjadi mesin mobilitas sosial, atau telah berubah menjadi jalur mahal dengan hasil yang timpang.
Inggris sedang menghitung ulang nilai sebuah ijazah, dan hitungannya tidak selalu imbang.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb)
Foto: The Economist