MARKET DATA
Newsletter

Global Alert! Kabar Genting dari AS-China hingga RI Warnai Akhir Pekan

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
10 April 2026 06:21
ilustrasi trading
Foto: CNBC INDONESIA
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street kompak menguat karena optimisme trader
  • Perkembangan perang dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin. Bursa saham menguat sementara rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa mengakhiri perdagangan di zona positif pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,39% pada perdagangan hari Kamis (9/4/2026). Indeks naik ke level 7.307,59 atau menguat 28,38 poin. Kenaikan ini terjadi setelah indeks seharian berkutat di zona merah usai melesat tajam pada perdagangan kemarin dengan kenaikan lebih dari 4%.

Sebanyak 374 saham turun, 278 naik, dan 164 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 17,01 triliun, melibatkan 29,05 miliar saham dalam 2,24 juta kali transaksi.

Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan menguat dengan kenaikan paling dalam dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan energi. Adapun sektor dengan pelemahan terbesar kemarin adalah finansial dan properti.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Kamis (9/4/2026), di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,44% ke posisi Rp17.080/US$. Pelemahan ini sekaligus membalikkan arah pergerakan rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya mampu menguat 0,50% ke level Rp17.005/US$.

Sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan, rupiah melemah tipis 0,06% ke level Rp17.015/US$, sebelum akhirnya tertekan lebih dalam hingga mendekati penutupan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah tipis 0,05% ke level 99,078 pada pukul 15.00 WIB.

Pelemahan rupiah pada perdagangan dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi ketidakpastian global meski indeks dolar AS cenderung melemah tipis. Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari laporan terbaru Bank Dunia yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,7%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 4,8% dan juga di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 6,576%pada perdagangan kemarin. Ini adalah kenaikan pertama dalam empat hari terakhir.
Imbal hasil yang naik menandai harga SBN yang tengah melemah karena banyak dijual investor.


Dari pasar saham AS, bursa Wall Street melanjutkan reli pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Saham naik karena trader optimis gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara AS dan Iran dapat dipertahankan.

Indeks S&P 500 naik 0,62% dan ditutup di 6.824,66, sementara Nasdaq Composite menguat 0,83% ke 22.822,42. Dow Jones Industrial Average menanjak 275,88 poin, atau 0,58%, dan berakhir di 48.185,80. Indeks berisi 30 saham tersebut kembali mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun ini, naik 0,25%.

Harga minyak mentah kembali naik pada Kamis. Kontrak berjangka West Texas Intermediate melonjak lebih dari 3% dan ditutup di $97,87 per barel setelah sempat menembus $100. Sementara itu, minyak mentah Brent internasional naik lebih dari 1% dan ditutup di $95,92.

S&P 500 bergerak ke zona hijau dan harga minyak turun dari level tertinggi harian setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa negaranya setuju membuka negosiasi langsung dengan Lebanon.

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sebelumnya menyebut serangan Israel yang berlanjut ke Lebanon sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Indeks S&P juga didukung oleh kenaikan saham Meta Platforms sebesar 2,6% setelah perusahaan tersebut meluncurkan model kecerdasan buatan terbaru. Sektor defensif juga menguat, dengan saham Walmart naik bersama perusahaan utilitas seperti American Electric Power.

Pergerakan ini terjadi setelah tiga indeks utama AS melonjak lebih dari 2% pada sesi Rabu, dengan Dow mencatat hari terbaiknya sejak April 2025 saat Presiden Donald Trump melunakkan sikapnya terhadap tarif awal yang tinggi.

Pada Selasa malam, Trump menyetujui penghentian serangan terhadap Iran. Konflik di Timur Tengah ini telah berlangsung selama lima minggu dan menyebabkan penutupan Selat Hormuz yang sangat penting.

Namun, gencatan senjata "dua arah" tersebut bergantung pada kesediaan Iran untuk membuka kembali selat tersebut. Teheran setuju untuk membuka jalur perairan itu selama dua minggu ke depan selama semua serangan dihentikan, menurut pernyataan Menteri Luar Negeri Iran. Laporan media juga menyebut Israel telah menyetujui gencatan senjata tersebut.

Meski demikian, lalu lintas di selat tersebut belum sepenuhnya pulih sejak pengumuman kesepakatan, karena hanya sebagian kapal kargo curah yang mengangkut barang kering, bukan minyak yang melintasi jalur strategis tersebut.

Pasukan militer AS akan tetap ditempatkan di dalam dan sekitar Iran hingga Teheran sepenuhnya mematuhi kesepakatan yang sebenarnya, kata Trump pada Rabu, seraya memperingatkan bahwa setiap pelanggaran akan memicu respons militer yang lebih besar dari sebelumnya.

"Fakta bahwa gencatan senjata ada dan kedua pihak menyetujuinya memberi investor keyakinan bahwa situasi ini pada akhirnya akan terselesaikan dalam jangka panjang," ujar Rick Wedell, kepala investasi di RFG Advisory, dikutip dari CNBC International.

Namun demikian, semakin lama selat tersebut tetap ditutup, semakin sulit untuk memulihkan semuanya, dan semakin lama kondisi ini akan berlangsung.

Pasar keuangan Indonesia akan menutup perdagangan pekan ini pada hari ini. Pelaku pasar perlu mempertimbangkan sejumlah sentimen yang berkembang mulai dari perang hingga data ekonomi.

Perkembangan Perang

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Kamis mengatakan bahwa ia tengah mengupayakan pembicaraan langsung dengan Beirut, sehari setelah gelombang pemboman terburuk dalam perang menewaskan lebih dari 300 orang di Lebanon dan menempatkan gencatan senjata AS-Iran yang diinisiasi oleh Donald Trump dalam bahaya.

Presiden AS tersebut mengumumkan gencatan senjata dalam konflik Iran yang telah berlangsung selama enam minggu pada Selasa malam, hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu di mana ia sebelumnya mengancam akan menghancurkan seluruh peradaban Iran.

Di Pakistan, pihak berwenang tengah mempersiapkan putaran pertama pembicaraan AS-Iran dengan memberlakukan pengamanan ketat di sejumlah wilayah ibu kota, Islamabad.

Namun, belum ada tanda bahwa Iran akan mencabut blokade hampir total di Strait of Hormuz, yang telah menyebabkan gangguan terburuk dalam sejarah terhadap pasokan energi global. Iran menyebut serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon sebagai hambatan utama.

Dalam pernyataan yang bernada menantang, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa Iran akan "tegas membalas" kematian ayahnya, Ali Khamenei, serta para "syuhada" negara tersebut, dan "akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru."

Pernyataan tersebut, yang dikaitkan dengan Khamenei, dibacakan di televisi negara. Ia belum pernah terlihat di publik sejak mengambil alih kepemimpinan dari ayahnya yang tewas pada hari pertama perang.

"Kami tidak akan membiarkan para agresor kriminal yang menyerang negara kami lolos tanpa hukuman. Kami pasti akan menuntut kompensasi atas setiap kerusakan yang ditimbulkan," ujarnya dalam pernyataan tersebut.

Dalam 24 jam pertama sejak gencatan senjata, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal kargo curah yang melintasi selat tersebut, yang biasanya dilalui sekitar 140 kapal per hari sebelum perang dan mencakup sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Trump mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa aliran minyak akan segera kembali normal, meskipun ia tidak memberikan rincian mengenai langkah yang akan diambil AS.
"Karena saya, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir dan, dalam waktu sangat dekat, Anda akan melihat minyak kembali mengalir, dengan atau tanpa bantuan Iran-dan bagi saya, itu tidak menjadi masalah," ujarnya, dikutip dari Reuters.

Personal Consumption Expenditures AS

Data inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) atau indeks pengeluaran konsumen AS yang menjadi indikator inflasi yang paling diperhatikan The Fed.

Pada rilis terbaru untuk Februari 2026, inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik 0,4% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan, menunjukkan tekanan harga yang masih relatif stabil dibanding bulan sebelumnya.

Sementara itu, core PCE, yang mengecualikan komponen makanan dan energi juga naik 0,4% secara bulanan dan 3,0% secara tahunan. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan Januari yang berada di 3,1%, menandakan adanya indikasi moderasi inflasi inti, meski belum signifikan.

Di sisi aktivitas ekonomi, konsumsi masyarakat justru menunjukkan akselerasi. Belanja konsumen (PCE) naik 0,5% secara bulanan, didorong oleh peningkatan pengeluaran barang dan jasa. Namun, di saat yang sama, pendapatan pribadi justru turun 0,1%, mencerminkan adanya tekanan pada daya beli, terutama dari penurunan dividen dan transfer pemerintah.

Kombinasi inflasi yang masih bertahan dan konsumsi yang tetap kuat ini menjadi sinyal penting bagi pasar. Jika tren ini berlanjut, ruang bagi bank sentral AS untuk segera memangkas suku bunga bisa tetap terbatas.

Dampaknya, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed akan cenderung lebih berhati-hati, dengan potensi implikasi pada pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, serta arah aset berisiko global.

Klaim Pengangguran

Masih dari Paman Sam,  klaim pengangguran awal di AS naik 16.000 menjadi 219.000 pada pekan yang berakhir di 4 April 2026.

Meski demikian, angka tersebut tetap berada jauh di bawah rata-rata pada paruh kedua tahun sebelumnya.

Klaim berkelanjutan yang menjadi indikator jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan turun 38.000 menjadi 1.794.000, level terendah dalam hampir dua tahun terakhir.

Rilis terbaru ini kembali mencerminkan pasar tenaga kerja yang solid, dengan tingkat pemutusan kerja yang rendah dan pemutusan bersih yang tetap terkendali, meskipun muncul sinyal perlambatan dalam pertumbuhan angkatan kerja.

Ekonomi AS

Ekonomi Amerika Serikat tumbuh pada laju tahunan sebesar 0,5% pada kuartal IV 2025, direvisi turun dari estimasi kedua sebesar 0,7% dan dari pembacaan awal sebesar 1,4%. Revisi ini terutama disebabkan oleh penurunan pada komponen investasi.

Belanja konsumen melambat lebih dari perkiraan (1,9% vs 2% pada estimasi sebelumnya), seiring melemahnya pembelian baik barang (0,3%) maupun jasa (2,7%).

Investasi tetap juga meningkat lebih rendah dari ekspektasi (1,5% vs 1,6%), terutama akibat penurunan tajam pada investasi struktur (-6,5%.

Di sektor eksternal, ekspor turun 3,2%, mendekati estimasi penurunan 3,3%, sekaligus menjadi kontraksi terbesar sejak kuartal II 2023

Impor juga turun, namun sedikit lebih kecil dari perkiraan (-1,0% vs -1,1%).

Sementara itu, belanja dan investasi pemerintah mengalami kontraksi tajam (-5,6% vs -5,8%), yang mengurangi sekitar 0,99 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, akibat penutupan pemerintahan (government shutdown).

Secara keseluruhan, sepanjang 2025 ekonomi AS tumbuh sebesar 2,1%.

 

Indeks Keyakinan Konsumen

Selain itu, dari dalam negeri - pelaku pasar juga akan menunggu rilis Survei Konsumen Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat (10/4/2026). Dari survei ini, perhatian utama pasar akan tertuju pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) karena data tersebut memberi gambaran mengenai persepsi rumah tangga terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka ke depan.

Pada rilis terakhir, Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan keyakinan konsumen pada Februari 2026 tetap kuat. Hal ini tercermin dari IKK Februari 2026 yang berada di level 125,2. Angka itu memang lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 127,2, tetapi masih menunjukkan konsumen tetap optimistis karena indeks bertahan di atas level 100.





Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik menjadi 115,9 dari 115,1 pada Januari. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masih berada di level optimistis sebesar 134,4, meski turun dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan rumah tangga masih cukup percaya diri, walaupun mulai ada sedikit penurunan ekspektasi ke depan.

Karena itu, rilis Maret 2026 akan dicermati untuk melihat apakah optimisme konsumen masih terjaga atau mulai tertekan. Data ini penting karena keyakinan konsumen kerap menjadi petunjuk awal mengenai arah konsumsi rumah tangga, padahal konsumsi merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika IKK melemah, pasar bisa membaca adanya kehati-hatian yang lebih besar di tingkat rumah tangga.

Inflasi China

Dari China, pasar akan menanti rilis inflasi Maret 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat, 10 April 2026 pukul 08.30 WIB. Kalender resmi National Bureau of Statistics (NBS) China menunjukkan laporan CPI bulanan dirilis pada 10 April 2026 pukul 09.30 waktu Beijing, atau setara 08.30 WIB.

Pada rilis terakhir, inflasi konsumen China untuk Februari 2026 tercatat naik 1,3% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 0,2% pada Januari. Secara bulanan, CPI naik 1,0%, sementara inflasi inti tercatat 1,8%. Kenaikan tersebut antara lain didorong lonjakan permintaan selama libur Tahun Baru Imlek.




Data Maret akan dicermati untuk melihat apakah tekanan harga di China masih bertahan atau mulai mereda setelah efek musiman liburan berlalu. Ini penting karena China merupakan salah satu motor utama ekonomi dunia. Arah inflasi di negara tersebut dapat memberi sinyal mengenai kekuatan permintaan domestik, tekanan biaya, dan ruang kebijakan lanjutan dari otoritas setempat.

Inflasi AS

Sentimen penting berikutnya datang dari data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) Maret 2026, yang dijadwalkan dirilis pada Jumat, 10 April 2026 pukul 19.30 WIB.

Pada rilis terakhir, inflasi AS untuk Februari 2026 tercatat naik 0,5% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan.

Sementara itu, inflasi inti atau core CPI tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Angka ini menunjukkan tekanan harga di AS pada Februari masih relatif terkendali, meski belum sepenuhnya reda.


Untuk data Maret, pasar memperkirakan inflasi akan melonjak cukup tajam, terutama didorong kenaikan harga energi yang terkait konflik Iran. CPI Maret diperkirakan naik 0,9% secara bulanan, dengan inflasi tahunan diproyeksikan mencapai 3,4%, tertinggi sejak April 2024. Sementara itu, core inflation diperkirakan naik menjadi 2,7% dari 2,5%.

Karena itu, data ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Jika inflasi AS memanas lebih tinggi dari perkiraan, pasar bisa menilai The Fed akan semakin sulit menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi ini biasanya akan menopang dolar AS dan menambah tekanan bagi aset berisiko, termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah.



Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia
  • Inflasi AS
  • Kunjungan Presiden ke Kejaksaan Agung terkait Penyerahan Denda Administratif dan Penyelamatan Keuangan Negara serta Penguasaan Kembali Kawasan Hutan Tahap VI di kantor pusat Kejagung, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Keuangan

  • Pencatatan perdana saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk. di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan. 



Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • RUPS PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

    RUPS PT Sekuritas Indonesia Tbk

    RUPS PT Woori Finance Indonesia Tbk

    RUPS PT Dua Putra Utama Makmur Tbk.

    Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Hasnur Internasional Shipping Tbk

    Tanggal DPS Dividen Tunai PT Dana Brata Luhur Tbk.

    Tanggal ex Saham Bonus Bank Mega Tbk

    Tanggal ex Dividen Tunai Bank Mega Tbk

    Tanggal DPS Dividen Tunai PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk

    Tanggal ex Dividen Tunai PT Bank Danamon Indonesia Tbk



Berikut indikator ekonomi Indonesia terkini:




CNBC Indonesia Riset

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



(emb/emb) Next Article Empat Hari Perdagangan, Banyak Bom Sentimen Mengintai Pasar RI


Most Popular
Features