MARKET DATA

Gula Nasional Lagi Disorot, Kinerja Emitennya Tetap Manis?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 April 2026 15:50
Ilustrasi gula. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi gula. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri gula di Indonesia saat ini memiliki rekam jejak historis dan struktural yang kompleks. Pada masa sebelum kemerdekaan, Indonesia pernah menduduki posisi sebagai produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba.

Namun, status tersebut kini bergeser secara drastis, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat ketergantungan impor gula yang sangat tinggi.

Perubahan fundamental ini salah satunya dipicu oleh kebijakan ekonomi masa lalu, termasuk adopsi rekomendasi pasar bebas dari International Monetary Fund (IMF) yang meniadakan kebijakan larangan dan pembatasan bagi komoditas domestik.

Ketiadaan perlindungan yang memadai pada masa itu membuka ruang bagi produk impor untuk masuk secara masif dan mengubah struktur tata niaga gula nasional hingga saat ini.

Industri gula dalam negeri tengah disorot setelah Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menyoroti derasnya impor gula yang dinilai tidak terkendali dan berdampak pada industri dalam negeri.

"Tahun ini, Sugar Co membukukan rugi Rp 680 miliar akibat daripada harga yang memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula yang tidak terkontrol," kata Dony.

Ia menjelaskan, masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi membuat harga gula lokal tertekan dan industri sulit berkembang. Menurutnya, kondisi ini berpotensi terus menekan industri gula nasional jika tidak segera dibenahi.

Dony juga menyinggung langkah intervensi pemerintah yang telah dilakukan, namun dinilai belum efektif memperbaiki pasar.

"Saya dengan Pak Mentan (Menteri Pertanian Amran Sulaiman) sudah berkali-kali, sebetulnya kita melakukan subsidi ke dalam pasar untuk mengambil seluruh gula dari masyarakat sebesar Rp1,5 triliun. Tetapi itu juga tidak memberikan dampak yang signifikan," ujarnya.

Melansir Badan Pusat Statistik (BPS) produksi gula nasional meningkat, pada 2024 mencapai 2,46 juta ton, naik dari 2,23 juta ton pada 2023. Kenaikan ini ditopang oleh ekspansi areal tebu yang mencapai 520.823 hektare, lebih tinggi dari 489.338 hektare pada tahun sebelumnya.

Sumber pertumbuhan terbesar datang dari perkebunan rakyat, dengan produksi mencapai 1,61 juta ton, atau sekitar dua pertiga dari total nasional.

Struktur produksi gula Indonesia memang bertumpu pada petani. Dalam satu dekade terakhir, kontribusi perkebunan rakyat konsisten dominan. Pada 2014, produksi rakyat berada di angka 1,37 juta ton.

Angka itu tetap bertahan tinggi hingga 2024. Perkebunan besar negara dan swasta justru cenderung stagnan, bahkan menurun dibanding satu dekade lalu.

Paradoks Produksi dan Arus Impor

Kondisi industri gula saat ini diwarnai oleh situasi yang berlawanan arah antara kapasitas hulu dan stabilitas pasar hilir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi gula nasional sejatinya menunjukkan tren peningkatan.

Perluasan areal panen tebu menjadi faktor pendorong utama tumbuhnya kapasitas produksi domestik. Meskipun terjadi peningkatan pasokan dari dalam negeri, volume impor gula masih mencatatkan angka yang substansial setiap tahunnya guna memenuhi total kebutuhan nasional sekitar 5,3 juta ton per tahunnya.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terukur mengenai pergerakan impor gula nasional, berikut adalah data komparatif terkait impor gula Indonesia:

Tantangan Distribusi dan Rembesan Gula Rafinasi

Ketidakseimbangan struktur pasar di atas semakin diperberat oleh kelemahan pada jalur distribusi. Tantangan utama yang menekan stabilitas harga komoditas lokal adalah indikasi kebocoran distribusi gula rafinasi yang berbahan baku raw sugar impor.

Produk yang secara regulasi dialokasikan secara ketat untuk sektor industri pengolahan ini diketahui merembes masuk ke pasar konsumsi rumah tangga dalam skala yang masif.

Rembesan pasokan ini mengakibatkan gula kristal putih produksi lokal, yang mayoritas disokong oleh petani tebu, sulit terserap secara optimal oleh pasar.

Akibatnya, harga jual komoditas tertekan dan memicu kerugian di berbagai lini, mulai dari penurunan pendapatan petani hingga kerugian ratusan miliar rupiah yang dicatatkan oleh entitas korporasi BUMN di sektor pergulaan.

Sebagai langkah mitigasi dan perbaikan struktural, pemerintah tengah memberlakukan pengetatan regulasi impor, konsolidasi holding pangan, serta implementasi program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu secara masif dengan target pencapaian swasembada gula konsumsi selambat-lambatnya pada tahun 2027.

Kinerja PT Aman Agrindo Tbk (GULA) di Tengah Volatilitas Pasar

Tekanan harga dan ketidakpastian tata niaga ini secara langsung mempengaruhi realisasi kinerja keuangan emiten di sektor pergulaan, salah satunya adalah PT Aman Agrindo Tbk (GULA).

Sebagai entitas bisnis yang berfokus pada kegiatan perdagangan gula pasir, gula cair, serta operasional perkebunan tebu skala menengah, kelangsungan bisnis perseroan sangat bergantung pada stabilitas harga di pasar domestik.

Kehadiran produk rafinasi impor yang mengisi pangsa pasar ritel menciptakan iklim persaingan harga yang sangat ketat bagi lini bisnis perdagangan perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2024, perusahaan perlu menerapkan penyesuaian strategi demi menjaga tingkat profitabilitas operasional.

Pendapatan perseroan mayoritas dikontribusikan oleh aktivitas perdagangan pada segmen gula, sementara pendapatan dari penjualan panen tebu murni tercatat di angka Rp 4,03 miliar. Total volume penjualan komoditas hasil perkebunan internal, yakni tebu, mencapai 238,02 ton selama satu tahun periode berjalan.

Daya Tahan Model Bisnis PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA)

Pada spektrum yang berbeda, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menampilkan profil operasional yang lebih tangguh melalui penerapan struktur bisnis yang terintegrasi penuh.

Perseroan mengelola rantai pasok dari sektor hulu ke hilir secara mandiri, yang mencakup operasional perkebunan tebu hingga pengelolaan pabrik pengolahan produk akhir.

Model bisnis terintegrasi ini memberikan fleksibilitas bagi manajemen dalam mengontrol beban produksi dan meminimalisasi paparan risiko dari fluktuasi harga bahan baku eksternal.

Meski didukung oleh ketahanan operasional internal yang baik, arah kinerja TBLA tetap dipengaruhi oleh kebijakan makro terkait tata niaga impor gula.

Realisasi kinerja keuangan perseroan pada tahun 2024 menunjukkan hasil yang solid, di mana lini produksi gula menyumbang porsi yang sangat signifikan terhadap total konsolidasi pendapatan grup.

Volume produksi gula perseroan sepanjang tahun tersebut menyentuh angka 260.000 ton, menempatkannya sebagai salah satu produsen gula dengan kapasitas produksi yang stabil.

Untuk mengilustrasikan perbandingan kinerja keuangan antara kedua entitas bisnis tersebut di tengah dinamika industri saat ini, berikut adalah tabel komparasi berdasarkan laporan tahunan periode 2024:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular