MARKET DATA

Harga Batu Bara Ambruk 6% Sehari! Bukan Cuma Karena Perang Mereda

mae,  CNBC Indonesia
09 April 2026 07:35
batu bara kapal tongkang
Foto: Detikcom

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ambruk seiring melandainya harga energi setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) menyepakati gencatan senjata.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (8/4/2026) ditutup di posisi US$ 132,45 per ton atau ambruk 6,06%.

Kenaikan ii berbanding terbalik dengan penguatan 1% pada hari sebelumnya.

Harga batu bara langsung ambruk seiring melandainya harga energi.

Harga minyak mentah jatuh 14%, harga gas alam ambruk 5% sementara gas Eropa tersungkur 15% pada perdagangan kemarin. Batu bara adalah komoditas eenrgi substitusi minyak dan gas sehingga harganya saling mempengaruhi.

Harganya jatuh juga karena ada meningkatnya pasokan dan melemahnya permintaan.

Persediaan batu bara termal di pelabuhan India meningkat 3,3% secara mingguan (w-o-w) menjadi 13,53 juta ton (mnt) pada minggu ke-14, dibandingkan 13,10 mnt pada minggu ke-13. Hal ini menunjukkan peningkatan stok yang berlanjut, didukung oleh kedatangan kargo baru di sejumlah pelabuhan pesisir timur dan barat.

Di pantai timur, Paradip naik 8,9% menjadi 1,52 mnt, mempertahankan posisinya sebagai salah satu pelabuhan dengan stok tertinggi. Sementara itu, Krishnapatnam melonjak 53,4% menjadi 0,26 mnt dan Gangavaram naik 36,4% menjadi 0,21 mnt, yang menunjukkan adanya arus masuk kargo baru.

Namun, Dhamra turun tajam 13,8% menjadi 0,88 mnt, sementara Vizag turun 9,8% menjadi 0,67 mnt dan Tuticorin melemah 11,7% menjadi 0,59 mnt, mencerminkan aktivitas pengeluaran stok yang berlanjut.

Kenaikan persediaan mingguan terutama didorong oleh kedatangan kargo baru dan pengisian ulang stok di pelabuhan utama seperti Paradip, Mundra, Magdalla, dan Kandla.

Meski terjadi penurunan di beberapa pelabuhan seperti Dhamra, Vizag, dan Navlakhi, kenaikan total persediaan menunjukkan bahwa kedatangan kargo tetap kuat serta konsumsi dan pengeluaran stok tetap berjalan. Kondisi ini mencerminkan pasar yang relatif seimbang.

Sementara itu, China melaporkan impor batu bara kokas (coking coal) dari Mongolia melanjutkan tren penurunan, terutama karena permintaan yang melemah dari sektor baja.

Permintaan baja melemah karena pabrik baja menahan pembelian bahan baku.

(mae/mae)



Most Popular