Perang Kian Ugal-ugalan, Harga Batu Bara Meroket hingga 17%
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas batu bara acuan global terpantau kembali bergairah pada perdagangan terakhir di pekan ini, karena ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasokan terus mendukung sentimen pasar batu bara global.
Pada perdagangan Jumat (6/3/2026) lalu, harga batu bara dunia untuk kontrak yang berakhir April 2026 ditutup melonjak 1,52% di level US$137,3/ton. Sepanjang pekan ini, harga batu bara global melejit 17,45% secara point-to-point.
Gejolak pasar energi terkait perang telah meluas ke sektor batu bara. Permintaan akan pengganti gas telah mendorong harga batubara termal, yang digunakan untuk pembangkit listrik.
Harga energi cenderung bergerak seiring kenaikan harga gas yang juga mengalami kenaikan, karena batu bara dan gas dapat saling menggantikan. Oleh karena itu, ketika Qatar terpaksa menutup fasilitas produksi gas, harga gas spot melonjak dan mendorong harga batubara lebih tinggi.
Jika eskalasi berlanjut, maka hal ini sudah cukup untuk membuat pembangkit listrik dari batubara lebih murah, memberikan insentif ekonomi bagi negara-negara Eropa untuk beralih.
Namun, beberapa pembangkit listrik telah dihentikan secara permanen, seperti Inggris yang menutup pembangkit listrik batu bara terakhirnya pada 2024. Secara keseluruhan, jumlah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara yang tersedia di Eropa telah turun sekitar 40%, menurut perkiraan ICIS, meskipun beberapa mungkin dapat dipulihkan dalam keadaan darurat.
Meski begitu, penawaran ekspor tetap tinggi di negara-negara asal utama, sementara biaya pengiriman dan volatilitas pasar energi menambah tekanan pada harga pengiriman.
Namun, aktivitas pembelian tetap selektif karena banyak konsumen mempertahankan persediaan yang memadai dan lebih memilih untuk memantau perkembangan pasar.
Secara keseluruhan, sentimen tetap waspada, dengan para pelaku pasar mengadopsi pendekatan tunggu dan amati di tengah kesenjangan penawaran dan permintaan yang semakin lebar serta sinyal pasokan yang tidak pasti.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/luc) Addsource on Google