MARKET DATA

Harga Batu Bara Loyo Sepekan Ini, CPO Justru Tampil Perkasa!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 April 2026 11:30
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan dua komoditas andalan Indonesia, batu bara dan crude palm oil (CPO), menunjukkan arah yang berbeda sepanjang pekan perdagangan 30 Maret hingga 3 April 2026.

Harga batu bara sempat melonjak di awal pekan, tetapi kemudian berbalik turun dan menutup periode perdagangan lebih rendah dibanding pekan sebelumnya. Sebaliknya, harga CPO justru terus menguat dan menutup pekan di level yang lebih tinggi.

Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini yang tersedia, yakni Kamis (2/4/2026), harga batu bara kontrak NCFMc2 ditutup di US$139,3 per ton. Posisi ini naik tipis 0,14% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya, Rabu (1/4/2026), yang berada di level US$139,1 per ton.

Namun, bila melihat awal pekan, posisi batu bara sebenarnya jauh lebih tinggi. Pada Senin (30/3/2026), harga batu bara ditutup di US$148,6 per ton. Artinya, meski pada penutupan terakhir sempat naik tipis, harga batu bara tetap belum mampu kembali ke level awal pekan.

Kondisi ini membuat harga batu bara secara mingguan tercatat turun 3,16%.

Kenaikan batu bara yang sempat terjadi di awal pekan masih dipengaruhi kekhawatiran pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Sebelumnya, lonjakan harga gas alam cair atau LNG mendorong sebagian utilitas listrik beralih ke batu bara, terutama batu bara dengan kualitas lebih tinggi.

Kondisi itu sempat mengangkat harga batu bara dan membuat pasar energi secara umum bergerak sensitif terhadap perkembangan geopolitik.

Namun, sentimen tersebut tidak cukup kuat untuk menjaga batu bara tetap di level puncaknya.

Pasar tampak mulai melakukan konsolidasi setelah lonjakan tajam di awal pekan. Selain itu, pemerintah juga menetapkan harga batu bara acuan untuk paruh pertama April di level yang masih relatif moderat untuk beberapa kalori, menunjukkan pasar fisik belum sepenuhnya mengalami lonjakan seperti yang sempat tercermin di pergerakan futures.

Berbeda dari batu bara, harga CPO kontrak FCPOc3 justru mengakhiri pekan dengan performa yang lebih solid.

Melansir Refinitiv, pada perdagangan terakhirnya di pekan ini, Jumat (3/4/2026) harga CPO ditutup di 4.839 ringgit per ton atau terapresiasi 1% dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di 4.791 ringgit per ton.

Di awal pekan, tepatnya Senin (30/3/2026), harga CPO ditutup di level 4.772 ringgit per ton. Ini berarti harga CPO tidak hanya bertahan di level tinggi, tetapi juga berhasil menambah penguatan hingga akhir pekan.

Secara mingguan, maka harga CPO tercatat naik 4,49%. Kenaikan ini menunjukkan bahwa CPO memiliki momentum yang lebih kuat dan lebih konsisten dibandingkan batu bara.

Penguatan CPO pekan ini ditopang oleh harapan bahwa stok akhir Maret di Malaysia akan lebih rendah. Ketika pasar memperkirakan persediaan menurun, harga biasanya terdorong naik karena ada kekhawatiran pasokan menjadi lebih ketat.

Selain itu, pasar juga masih mencermati prospek biodiesel, terutama kemungkinan implementasi campuran biodiesel yang lebih agresif di Tanah Air. Ekspektasi ini membuat pelaku pasar menilai permintaan domestik terhadap CPO bisa meningkat, sehingga pasokan untuk pasar ekspor berpotensi lebih terbatas.

Sentimen lain yang ikut menopang harga adalah volatilitas minyak mentah dunia. Saat harga energi global tetap tinggi, CPO menjadi semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel. Kombinasi stok yang diperkirakan menurun, harapan permintaan biodiesel, dan harga energi yang masih tinggi membuat CPO tetap punya tenaga sepanjang pekan ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]


(evw) Add as a preferred
source on Google
Next Article Harga Batu Bara Kacau! Naik-Turun Drastis Bikin Dunia Pusing


Most Popular
Features