Harga Aluminium Rekor Tertinggi 4 Tahun, ANTM - ADMR Dapat Berkah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga aluminium terbang mendekati level tertinggi dalam empat tahun usai Iran menyerang pabrik Aluminium di Abu Dhabi. Hal ini dinilai akan menjadi berkah bagi sederet emiten komoditas ini di RI seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Kenaikan harga alumunium ditengarai kekhawatiran pasokan usai serangan Iran mengenai pabrik aluminium milik Aluminium Bahrain (Alba) dan Emirates Global Aluminium (EGA) di Abu Dhabi pada Sabtu kemarin (28/3/2026).
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi bahwa mereka menembakkan rentetan rudal dan drone ke pabrik aluminium milik Aluminium Bahrain (Alba) dan Emirates Global Aluminium (EGA) di Abu Dhabi.
Iran berdalih bahwa serangan ini merupakan balasan atas tindakan AS dan Israel yang sebelumnya menargetkan fasilitas baja dan universitas di Iran, serta menuduh industri di Teluk memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer Barat.
Dampak dari serangan ini cukup signifikan bagi operasional kedua raksasa aluminium tersebut.
Di UEA, pihak EGA melaporkan kerusakan serius pada situs Al Taweelah yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khalifa Abu Dhabi, dengan enam orang karyawan dilaporkan terluka.
Sementara itu, Alba di Bahrain mengonfirmasi dua karyawannya mengalami luka ringan dan saat ini sedang melakukan penilaian mendalam terhadap kerusakan fasilitas.
Meskipun tidak ada korban jiwa, serangan ini sangat mengganggu proses peleburan (smelting) yang memerlukan stabilitas teknis tinggi, sehingga prosedur pemulihan operasional diprediksi akan memakan waktu yang tidak sebentar.
Secara global, pasar komoditas langsung merespons dengan gejolak harga yang tajam. Harga aluminium di bursa internasional melonjak hingga 6% segera setelah berita serangan tersebut tersebar, menambah kenaikan total sekitar 15% sejak awal tahun.
Adapun pada perdagangan Senin (30/3/2026), harga aluminium naik lagi kisaran 5% menuju posisi US$ 3427.30 per ton, kian mendekati level tertinggi dalam empat tahun.
Foto: Trading economicHarga aluminium |
Para analis pasar memperingatkan bahwa gangguan pasokan dari Timur Tengah, yang merupakan kontributor vital bagi output aluminium dunia, dapat mendorong harga menembus level US$ 4.000 per ton.
Kekhawatiran ini diperparah dengan situasi di Selat Hormuz yang masih sangat tidak stabil, menghambat distribusi logam maupun pengiriman bahan baku ke kawasan tersebut.
Eskalasi ini juga menandai meluasnya konflik fisik ke sektor infrastruktur sipil dan ekonomi di luar zona perang langsung.
Pasukan Pertahanan Bahrain melaporkan telah mencegat puluhan rudal dan drone dalam 24 jam terakhir untuk melindungi keamanan nasional mereka.
Di sisi lain, komunitas internasional termasuk Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Arab mengutuk keras serangan tersebut karena dianggap menargetkan aset ekonomi yang krusial bagi stabilitas global.
Saat ini, upaya mediasi sedang diusahakan melalui pertemuan para menteri luar negeri di Islamabad untuk mencegah perang terbuka yang lebih luas di kawasan Teluk.
ANTM-ADMR Bisa Dapat Berkah
Dari lantai bursa saham Indonesia, ada dua emiten yang dinilai bisa mendapat berkah ketika harga alumunium naik, mereka ada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
ANTM
ANTM berperan di bagian hulu industri aluminium dengan mengelola produksi bijih bauksit dari wilayah tambangnya di Kalimantan Barat.
Saat ini, ANTM juga mulai memperluas perannya ke tahap hilirisasi melalui pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, yang dijalankan bersama Inalum lewat PT Borneo Alumina Indonesia. Fase pertama proyek SGAR telah memasuki tahap operasional dan ditargetkan menghasilkan sekitar 1 juta ton alumina pada tahun 2026.
Tidak berhenti di situ, pada Februari 2026 telah dilakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan SGAR fase kedua dengan nilai investasi sekitar Rp14 triliun. Proyek ini direncanakan mulai beroperasi pada 2028 dan akan meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai 2 juta ton per tahun.
Â
Di sisi lain, ANTM juga tengah menjalankan proses due diligence bersama Inalum terkait opsi pelepasan sebagian kepemilikan atau kerja sama minoritas pada dua tambang bauksitnya. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat integrasi pasokan bahan baku ke proyek SGAR.
ADMR
Selanjutnya ada ADMR yang merupakan bagian dari grup konglomerat Boy Thohir, menjadi salah satu emiten dengan eksposur paling langsung terhadap industri aluminium.
Melalui anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), perusahaan tengah mengembangkan salah satu fasilitas smelter aluminium terbesar di Kawasan Industri Hijau Indonesia yang berlokasi di Kalimantan Utara.
Pada tahap awal pengembangan (fase pertama), smelter ini dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 500.000 ton aluminium ingot per tahun. Salah satu keunggulan utama proyek ini adalah penggunaan energi terbarukan yang bersumber dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Dengan konsep tersebut, aluminium yang dihasilkan dikategorikan sebagai "green aluminium" atau aluminium rendah emisi, yang berpotensi memiliki nilai jual lebih premium di pasar global seiring meningkatnya perhatian terhadap aspek keberlanjutan dan standar ESG.
Secara operasional, smelter aluminium ini mulai beroperasi secara bertahap sejak akhir 2025. Namun kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan diperkirakan belum langsung terlihat pada tahap awal produksi.
Seiring dengan proses ramp-up atau peningkatan kapasitas produksi, dampak kenaikan harga aluminium diperkirakan mulai tercermin pada laporan keuangan ADMR mulai kuartal II hingga kuartal IV tahun 2026.
Sementara itu, kapasitas produksi optimal sebesar 500.000 ton per tahun ditargetkan dapat tercapai pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae) Addsource on Google
Foto: Trading economic