MARKET DATA
Fundamental Pundit

Dunia Berubah Total Setelah 1 Bulan Perang: Siapa Tertawa & Menangis?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
31 March 2026 09:40
Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)
Foto: Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik yang bermula dari eskalasi konflik di Timur Tengah kini telah memasuki sebulan pertama, membawa dampak yang signifikan terhadap stabilitas pasar keuangan global.

Setelah perang meletus pada 28 Februari 2026 dan sejak awal Maret 2026, para pelaku pasar merespons tingginya tingkat ketidakpastian terkait kelancaran rantai pasok logistik internasional, terutama pada sektor pemenuhan energi.

Kondisi makroekonomi ini memicu fenomena perpindahan arus modal yang cukup masif dari aset-aset berisiko di negara berkembang menuju instrumen yang dinilai memberikan tingkat keamanan lebih tinggi.

Situasi ini sangat dipengaruhi oleh proyeksi pasar bahwa gangguan pada jalur perdagangan strategis di Timur Tengah akan melambungkan biaya operasional industri dan kembali memicu tekanan inflasi global.

Akibatnya, sentimen risk-off menekan nilai tukar mata uang serta indeks bursa saham di kawasan Asia, sementara instrumen komoditas energi justru mencatatkan lonjakan nilai. Berikut adalah tinjauan kinerja berbagai kelas aset selama satu bulan terakhir.

Eskalasi Harga Minyak Mentah Dunia

Pasar energi global menjadi sektor yang paling responsif terhadap ketidakpastian geopolitik saat ini. Pergerakan harga minyak mentah dunia mencatatkan tren kenaikan yang sangat agresif dan persisten sepanjang bulan Maret 2026.

Berdasarkan data perdagangan, harga minyak patokan global jenis Brent yang pada awal bulan masih berada di kisaran US$ 72,48 per barel, mengalami lonjakan tajam hingga menyentuh level US$ 116,6 per barel pada penghujung bulan.

Pola pergerakan linier yang sama juga terekam pada minyak jenis West Texas Intermediate (WTI), yang bergerak naik secara signifikan dari posisi US$ 67,02 per barel menjadi US$ 102,88 per barel.

Lonjakan harga ini mencerminkan tingginya premi risiko yang diterapkan oleh pasar guna mengantisipasi kemungkinan terburuk dari berhentinya aktivitas produksi dan distribusi energi melalui selat Hormuz yang mencapai 20% dari seluruh cadangan dunia.

Lonjakan Harga Komoditas Batu Bara

Sentimen kekhawatiran mengenai ketersediaan energi fosil dengan cepat merambat ke pasar komoditas substitusi, salah satunya adalah batu bara. Grafik pergerakan harga batu bara global memperlihatkan tren penguatan yang konsisten meski disertai dengan volatilitas harian yang cukup tinggi.

Pada awal Maret 2026, harga batu bara berada di level US$ 116,9 per ton. Seiring berjalannya waktu dan eskalasi konflik yang tidak mereda, harga komoditas ini terus melakukan kenaikan dan ditutup pada posisi US$ 148,6 per ton pada Senin (30//3/2026)..

Kenaikan harga batu bara ini mengindikasikan bahwa banyak negara industri mulai mengamankan pasokan energi primer mereka sebagai langkah alternatif dan mitigasi karena harga minyak yang terlampau mahal atau pasokannya tersendat.

Tren Positif Harga Minyak Kelapa Sawit

Di sektor komoditas pertanian, harga minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) menunjukkan penguatan yang solid secara bertahap sepanjang bulan.

Berdasarkan pergerakan harga historisnya, harga CPO beranjak dari level 4.042 MYR per ton dan menanjak secara konsisten hingga mencapai titik tertinggi di angka 4.631 MYR per ton.

Kenaikan harga CPO ini memiliki korelasi yang erat dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia. Permintaan terhadap minyak nabati sebagai bahan baku alternatif untuk produk biodiesel cenderung mengalami peningkatan yang proporsional ketika harga energi fosil melambung tinggi di pasaran.

Pelemahan Harga Logam Mulia

Dalam kondisi geopolitik yang memanas, instrumen logam mulia seperti emas umumnya berfungsi sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Namun, dinamika pasar pada satu bulan terakhir menunjukkan anomali di mana harga emas justru mengalami tekanan jual yang cukup berat.

Harga emas global tercatat mengalami tren penurunan dari level US$ 5.277,29 per troy ons pada tanggal 1 Maret 2026, berbalik arah dan menyusut hingga menyentuh angka US$ 4.492,48 per troy ons pada akhir bulan.

Depresiasi nilai emas ini sangat dipengaruhi oleh pergeseran likuiditas pasar yang lebih memilih instrumen utang berdenominasi dolar AS yang sedang menawarkan imbal hasil riil yang jauh lebih atraktif bahkan sudah dalam kondisi yang oversold.

Nasib emas mengenaskan pada Maret. Harga emas telah turun lebih dari 14,6% sepanjang Maret, rekor terburuk sejak Oktober 2008 di mana harganay ambruk 16,9%.

Penurunan Berkelanjutan Harga Perak

Sejalan dengan kinerja negatif pada logam mulia utama, komoditas perak juga mencatatkan penyusutan nilai yang tidak kalah tajam. Pergerakan harga perak global terkoreksi secara berkelanjutan sepanjang bulan Maret.

Dari posisi awal di angka US$ 93,82 per troy ons, harga perak terus meluncur turun melewati beberapa level dukungan hingga akhirnya berada di posisi US$ 68,43 per troy ons pada akhir periode.

Penurunan ini mempertegas pandangan bahwa selera investasi saat ini sedang tidak berpihak pada instrumen aset yang tidak memberikan keuntungan dalam bentuk bunga atau dividen, terutama ketika suku bunga acuan diproyeksikan akan tetap tinggi akibat potensi inflasi mendatang.

Kenaikan Imbal Hasil US Treasury

Pergeseran likuiditas global terekam sangat jelas pada pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil atau yield US Treasury bertenor 10 tahun menunjukkan grafik yang terus menanjak tanpa koreksi berarti sepanjang bulan.

Berada pada posisi 3,96% di awal bulan, tingkat imbal hasil tersebut terus bergerak naik hingga menembus level 4,44%. Peningkatan imbal hasil ini merefleksikan ekspektasi para manajer investasi bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam waktu yang lebih lama akibat kembalinya risiko inflasi dari sektor logistik dan energi.

Tekanan Terhadap Nilai Tukar Asia

Sebagai dampak mekanis dari menguatnya dolar AS dan pergeseran portofolio ke aset tanpa risiko, pasar valuta asing di kawasan Asia secara serempak mengalami tekanan depresiasi.

Baht Thailand menjadi mata uang yang paling tertekan dengan tingkat pelemahan mencapai 5,14%, disusul secara ketat oleh Peso Filipina yang terkoreksi 4,67% dan Won Korea sebesar 4,57%.

Rupee India dan Ringgit Malaysia juga tertekan masing-masing sebesar 3,94% dan 3,09%. Sementara itu, Rupiah Indonesia mencatatkan tingkat pelemahan sebesar 1,18%, dan pelemahan paling moderat dicatatkan oleh Yuan China yang hanya turun 0,78%.

Kontraksi Mayoritas Bursa Saham Asia

Keluarnya aliran dana asing memberikan imbas yang langsung terhadap performa bursa saham utama di kawasan regional Asia. Mayoritas indeks saham ditutup pada area negatif akibat penyesuaian bobot investasi secara global.

Pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja terburuk di kawasan dengan tingkat penyusutan mencapai 13,82%. Kontraksi nilai kapitalisasi yang tajam juga dialami oleh bursa Korea Selatan sebesar 12,90%, serta Pakistan dan Vietnam yang terkoreksi 11,21% dan 11,04%.

Meski secara umum pasar saham tertekan, beberapa negara dengan struktur ekonomi berbasis energi justru diuntungkan. Indeks Arab Saudi berhasil memimpin dengan pertumbuhan 5,73%, diikuti oleh bursa Laos yang tumbuh 5,63% dan Mongolia sebesar 0,81%.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular