Harga Emas Ambruk 14% di Maret, Terburuk dalam 17 Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas menguat lagi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven. Namun, secara bulanan harganya babak belur.
Harga emas naik di tengah konflik Timur Tengah yang mendorong ekspektasi inflasi dan suku bunga global yang lebih tinggi.
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 4510,24 per troy ons atau menguat 0,39% pada perdagangan Senin (30/3/2026). Penguatan ini memperpanjang reli emas dengan menguat 2,9% dalam dua hari beruntun.
Harga emas melemah pada hari ini. Pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pukul 06.22 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4507,66 per troy ons atau melemah 0,6%.
"Perang masih berlangsung panas dan belum ada tanda-tanda penyelesaian, sehingga mendorong harga emas naik karena permintaan safe haven... Fokus pasar dalam jangka pendek akan pada perang, harga minyak mentah, imbal hasil obligasi, dan indeks dolar AS," kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa fasilitas energi dan sumur minyak Iran akan dihancurkan jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz, setelah Teheran menyebut proposal damai AS tidak realistis dan meluncurkan gelombang rudal ke Israel.
Terburuk Sejak 2008
Meski naik dalam dua hari beruntun, nasib emas mengenaskan pada Maret. Harga emas telah turun lebih dari 14,6% sepanjang Maret, rekor terburuk sejak Oktober 2008 atau dalam 17 tahun lebih di mana harganya ambruk 16,9%.
Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong pasar menilai ulang ekspektasi suku bunga.
Emas sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik saat suku bunga tinggi.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral AS bisa menunggu dampak perang Iran terhadap ekonomi dan inflasi. The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.
Sejumlah data ekonomi penting AS akan dirilis pekan ini, termasuk lowongan kerja, penjualan ritel, laporan ketenagakerjaan ADP, dan data nonfarm payrolls.
Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com, menyebut kisaran US$4.700-US$4.750 per troy ons menjadi level uji untuk pemulihan jangka pendek emas.
"Jika emas tidak mampu menembus level tersebut, maka kenaikan ini berisiko kembali melemah seperti yang terjadi sebelumnya," ujarnya.
Senada dengan emas, harga perak juga menguat terus.
Merujuk Refinitiv, harga perak ditutup di posisi US$ 69,74 per troy ons atau menguat 0,56% pada perdagangan Senin (30/3/2026). Penguatan ini memperpanjang reli emas dengan menguat 2,87% dalam dua hari beruntun.
Harga perak melemah pada hari ini. Pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pukul 06.33 WIB, harga perak ada di posisi US$ 69,74 per troy ons atau melemah 0,34%.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Pesta Bubar! Harga Emas Ambles 2% Lebih Gara-gara The Fed