MARKET DATA
Newsletter

Perang Masih Panas! RI, China-AS Bakal Umumkan Kabar Penting Pekan Ini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
30 March 2026 06:20
Ilustrasi Wall Street. (AP/J. David Ake)
Foto: (AP/J. David Ake)

Bursa saham AS kembali ditutup ambruk pada akhir pekan lalu, Jumat (27/3/2026), yang menandakan tekanan di pasar global masih jauh dari mereda.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 793,47 poin atau 1,73% ke 45.166,64 dan resmi masuk zona koreksi, setelah ditutup sekitar 10% di bawah rekor penutupan tertingginya pada 10 Februari lalu.

S&P 500 juga turun 1,67% ke 6.368,85, level penutupan terendah dalam sekitar tujuh bulan, sementara Nasdaq Composite merosot 2,15% ke 20.948,36.

Sepanjang pekan, S&P 500 tercatat melemah 2,1% dan membukukan pelemahan mingguan lima kali berturut-turut, sedangkan Nasdaq turun 3,2% dan Dow terkoreksi 0,9%.

Saham-saham megakap teknologi kembali menjadi beban utama pasar, sementara indeks volatilitas CBOE atau VIX juga naik ke 31,05, tertinggi sejak April 2023, menandakan tingkat kecemasan investor semakin tinggi.

Aksi jual ini menunjukkan investor masih sangat berhati-hati terhadap dampak perang AS-Israel melawan Iran yang kini sudah berlangsung sekitar satu bulan. Pasar sebelumnya sempat berharap ada meredanya tensi setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026.

Namun, perpanjangan itu gagal menenangkan pelaku pasar karena ketidakpastian di lapangan justru masih tinggi, mulai dari laporan soal potensi tambahan pengerahan pasukan AS ke Timur Tengah hingga belum adanya sinyal nyata bahwa jalur diplomasi benar-benar akan menghasilkan penyelesaian konflik.

Kekhawatiran terbesar tetap tertuju pada sektor energi. Harga minyak dunia melonjak tajam setelah pasar menilai gangguan di Selat Hormuz masih menjadi ancaman serius bagi pasokan global. Pada penutupan Jumat, kontrak Brent naik 4,22% ke US$112,57 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melesat 5,46% ke US$99,64 per barel.

Kedua acuan tersebut menembus level penutupan tertinggi sejak Juli 2022. Sejak serangan dimulai pada akhir Februari, Brent telah melonjak sekitar 53% dan WTI sekitar 45%, memperlihatkan betapa besar premi risiko yang kini dibebankan pasar energi.

Lonjakan minyak inilah yang kemudian menjadi sumber tekanan baru bagi Wall Street.

Investor khawatir kenaikan harga energi akan mendorong inflasi kembali memanas, sehingga ruang bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) untuk menurunkan suku bunga tahun ini menjadi makin sempit. Kekhawatiran tersebut langsung menekan saham-saham teknologi dan saham pertumbuhan, yang selama ini paling sensitif terhadap arah suku bunga.

Dengan kondisi ini, pasar tampaknya sudah tidak cukup diyakinkan oleh pernyataan bahwa pembicaraan masih berlangsung. Yang dibutuhkan investor saat ini adalah bukti konkret bahwa konflik benar-benar menuju penyelesaian.

Selama Selat Hormuz masih dibayangi ancaman gangguan dan harga minyak tetap tinggi, tekanan terhadap pasar saham global berpotensi bertahan, terutama karena investor kini juga harus menghadapi risiko inflasi yang lebih tinggi di saat pertumbuhan ekonomi mulai kehilangan tenaga.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features