Emas Tak Lagi Aman? Perang Iran Mengubah Segalanya, Investor Terjebak

mae, CNBC Indonesia
Selasa, 24/03/2026 06:46 WIB

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas mulai bangkit setelah babak belur pada Senin kemarin. Namun, emas juga belum mampu menunjukkan sinarnya di tengah perang.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (23/3/2026) ditutup di posisi US$ 4405,77 per troy ons atau jatuh 1,82%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan melemah 15,13% selama sembilan hari beruntun. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 2 Januari 2026 atau dua bulan lebih.
Harga emas pada perdagangan kemarin bahkan sempat menyentuh US$ 4099 per troy ons.

Harga emas mulai membaik pada hari ini. Pada Selasa (24/3/2026) pukul 06.36 WIB, harga emas diperdagangkan di US$ 4441,52 per troy ons atau melesat 0,81%.

"Penjualan tajam Senin merupakan kelanjutan dari aksi likuidasi besar-besaran yang sudah terjadi dalam beberapa sesi terakhir, terutama didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga," ujar David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, dikutip dari Reuters.

Harga emas menguat drastis setelah unggahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Truth Social, yang memicu rebound luas di berbagai pasar mulai logam, energi, hingga saham,

"Volatilitas kemungkinan akan terus berlanjut." Imbuh Meger.

Kenaikan harga energi akibat perang Iran belakangan ini telah meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Emas, meskipun dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan aset safe haven, justru kesulitan memperoleh keuntungan karena suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.

Donald Trump mengatakan bahwa ia telah memberikan perintah untuk menunda selama lima hari serangan yang sebelumnya ia ancamkan terhadap pembangkit listrik Iran, serta menyebut bahwa Amerika Serikat sedang melakukan pembicaraan dengan Teheran untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.

 

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, yang disebut-sebut akan menjadi tokoh yang mewakili Iran dalam kontak dengan AS, menyatakan melalui media sosial bahwa tidak ada pembicaraan yang telah dilakukan.

Setelah pernyataan Trump, harga minyak anjlok dan dolar AS melemah. Dolar yang lebih lemah membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.

Ada Apa dengan Emas?

Emas selama ini dikenal sebagai aset pelindung saat krisis. Namun, perubahan besar sejak 2022 membuat logika lama tersebut tak lagi sepenuhnya berlaku.

Secara historis, emas cenderung menguat ketika inflasi naik, suku bunga turun, atau dolar Amerika Serikat (AS) melemah. Dalam kondisi seperti itu, logam mulia menjadi pilihan utama investor sebagai lindung nilai sekaligus safe haven.

Namun, dinamika tersebut berubah drastis sejak Oktober 2022. Saat itu, negara-negara Barat membekukan sekitar US$300 miliar aset Rusia pasca invasi ke Ukraina. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam cara negara memandang emas.

Sejak kejadian tersebut, negara-negara dengan surplus perdagangan, terutama China, mulai melihat emas sebagai aset cadangan paling aman. Alasannya sederhana yakni emas fisik tidak bisa disita secara sepihak oleh negara lain.

 

Akibatnya, akumulasi emas oleh bank sentral, khususnya China, melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini, ditambah kondisi fiskal negara Barat yang kian rapuh, mendorong harga emas ke rekor tertinggi.

Namun di sisi lain, perubahan ini juga menggeser mesin penggerak harga emas.

Kini, emas tidak lagi semata-mata bergerak karena sentimen risiko global.

Kenapa Emas Tak Naik Saat Perang?

Perubahan struktur ini menjelaskan fenomena yang membingungkan banyak investor. Emas justru tidak menguat di tengah konflik Iran.

Dalam teori lama, konflik geopolitik seharusnya mendorong harga emas naik. Namun kini, faktor yang lebih dominan adalah kemampuan negara surplus untuk membeli emas.

Masalahnya, akumulasi cadangan emas bergantung pada surplus perdagangan. Dan surplus hanya bisa terjadi jika aktivitas ekonomi dan perdagangan global berjalan lancar.

 

Di sinilah peran krusial Selat Hormuz.Jika jalur vital energi tersebut terganggu yakni aktivitas perdagangan global melambat, surplus negara seperti China menyusut, dan kemampuan membeli emas ikut menurun.

Ironisnya, peristiwa yang seharusnya mendorong harga emas justru menjadi pemicu pelemahan.

Selain faktor makro, tekanan juga datang dari investor ritel. Banyak investor memegang emas melalui ETF (exchange-traded fund).

Saat harga mulai melemah maka investor melakukan aksi jual. Karena ituah terjadia rus keluar dana yang membua harga semakin tertekan.

Geopolitik Tak Lagi Menopang Harga

Sejak akhir Februari, ketika ketegangan meningkat akibat serangan Amerika Seirkat (AS)-Israel terhadap Iran, harga emas telah turun lebih dari 15%. Ini merupakan pembalikan signifikan dari pola sebelumnya, di mana ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong permintaan emas.

Alih-alih menjadi safe haven, emas kini justru bereaksi negatif terhadap lingkungan makro yang terbentuk dari perkembangan geopolitik tersebut.

Emas justru bergerak seperti aset berisiko, turun bersama saham saat volatilitas meningkat.

 

Salah satu faktor utama di balik penurunan ini adalah penguatan dolar AS. Kenaikan harga minyak meningkatkan permintaan global terhadap dolar, karena energi diperdagangkan dalam USD. Hal ini mendorong dolar naik dan menekan harga emas.

Di saat yang sama, Jerome Powell memberi sinyal sikap lebih hawkish dari The Federal Reserve, dengan memperingatkan bahwa inflasi bisa kembali meningkat. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada Mei anjlok tajam dari 60% menjadi hanya 16%.

Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas, sehingga mempercepat aksi jual

Meski demikian, bukan berarti daya tarik emas hilang.

Tesis tradisional masih relevan, terutama di tengah kondisi fiskal negara Barat yang memburuk. Namun, investor kini perlu memahami bahwa hubungan antara krisis dan harga emas tidak lagi sesederhana dulu.

Lingkungan global yang memburuk tidak otomatis membuat emas naik.

Dengan perubahan ini, investor dituntut untuk melihat emas secara lebih kompleks. Emas tidak lagi sekadar sebagai aset yang selalu diuntungkan oleh ketidakpastian.

Di tengah perubahan besar tersebut, sejumlah analis justru melihat kondisi saat ini sebagai peluang untuk meningkatkan eksposur terhadap emas sebagai aset strategis jangka panjang.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google
Pages