MARKET DATA

5 Utusan China Bawa Misi Besar ke Dunia Arab: Benarkah Cuma Diplomasi?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
23 March 2026 20:00
Umat ​​Muslim berdoa di sekitar Ka'bah, tempat paling suci umat Islam, di kompleks Masjidil Haram di kota suci Mekkah pada tanggal 2 Juni 2025 menjelang ibadah haji tahunan. (Photo by AFP)
Foto: Umat ​​Muslim berdoa di sekitar Ka'bah, tempat paling suci umat Islam, di kompleks Masjidil Haram di kota suci Mekkah pada tanggal 2 Juni 2025 menjelang ibadah haji tahunan. (AFP/-)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jauh sebelum era modern, lanskap geopolitik dan ekonomi global telah diwarnai oleh interaksi lintas benua yang intens. Pada masa kejayaan peradaban Islam, wilayah Timur Tengah dan Jazirah Arab memposisikan diri sebagai pusat gravitasi perdagangan dunia.

Posisi strategis ini menarik perhatian Kekaisaran China atau China untuk membuka jalur komunikasi langsung, baik melalui Jalur Sutra darat maupun ekspedisi maritim yang masif.

Kedatangan utusan, diplomat, dan armada kekaisaran dari China ke pelabuhan-pelabuhan utama seperti Hormuz, Aden, hingga pesisir Laut Merah merupakan manuver strategis yang terencana.

Perjalanan melintasi Samudra Hindia dan gurun pasir ini didorong oleh berbagai motif kenegaraan, mulai dari mengamankan pasokan komoditas eksotis, menjalin hubungan diplomatik (sistem upeti), hingga melakukan observasi mendalam terhadap tatanan sosial, hukum, dan budaya di pusat dunia Islam.

Jalur Sutra. (Dok. Malang International School)Foto: Jalur Sutra. (Dok. Malang International School)

Berikut adalah lima tokoh utusan dan cendekiawan China yang tercatat secara historis melakukan perjalanan ke Jazirah Arab pada era Islam:

1. Laksamana Zheng He (Cheng Ho)

Sebagai Laksamana tertinggi dari Dinasti Ming pada abad ke-15, Zheng He memimpin armada maritim terbesar pada masanya. Tujuan geopolitik dari ekspedisi ini adalah untuk memproyeksikan kekuatan Kekaisaran Ming ke wilayah barat.

Di Timur Tengah, armada ini berlabuh di titik-titik perdagangan krusial seperti Aden (Yaman), Dhofar (Oman), dan Hormuz (Iran).

Zheng He bertugas membawa dekrit dari Kaisar Yongle untuk membangun hubungan diplomatik kenegaraan dan mengamankan jalur perdagangan rempah, sutra, serta barang berharga lainnya. Ia juga secara khusus mengirimkan delegasi diplomatik ke Jeddah dan Makkah.

Kelenteng Sam Poo KongFoto: Google Image

2. Ma Huan

Dalam diplomasi lintas budaya, bahasa adalah instrumen utama. Ma Huan, seorang cendekiawan Muslim (Suku Hui), menjabat sebagai penerjemah resmi bahasa Arab dan Persia dalam armada Zheng He.

Keterampilannya memfasilitasi negosiasi kompleks antara Kekaisaran Ming dan para penguasa di Semenanjung Arab. Pencapaian terbesarnya adalah kunjungannya ke Makkah, yang kemudian ia dokumentasikan secara komprehensif dalam manuskrip Yingya Shenglan.

Laporannya menyajikan analisis demografis, struktur sosial, dan praktik ibadah haji, menjadikannya salah satu dokumen intelijen dan sosiologis paling akurat dari China mengenai pusat agama Islam.

Umat ​​Islam melaksanakan salat subuh di Masjidil Haram selama ibadah haji tahunan di kota suci Mekkah, Arab Saudi, 2 Juni 2025. Saudi Press Agency/Handout via REUTERSFoto: via REUTERS/SAUDI PRESS AGENCY
Umat ​​Islam melaksanakan salat subuh di Masjidil Haram selama ibadah haji tahunan di kota suci Mekkah, Arab Saudi, 2 Juni 2025. Saudi Press Agency/Handout via REUTERS

3. Wang Jinghong

Sebagai wakil komandan armada Zheng He, Wang Jinghong memegang kendali atas operasi logistik dan implementasi kebijakan diplomatik di lapangan. Saat armada beroperasi di perairan Timur Tengah, ia bertugas mengawasi pertukaran hadiah kenegaraan dengan penguasa lokal di pesisir Teluk Persia dan Laut Merah.

Wang Jinghong memainkan peran esensial dalam memastikan bahwa rute navigasi dan pelabuhan transito di wilayah Arab tetap terbuka dan aman bagi armada dagang Kekaisaran Ming, serta menjaga stabilitas hubungan bilateral dengan kesultanan-kesultanan setempat.

4. Fei Xin

Fei Xin bertugas sebagai staf literatur dan militer yang ikut serta dalam ekspedisi maritim Dinasti Ming. Fokus utamanya adalah observasi teknis dan ekonomi. Melalui karyanya, Xingcha Shenglan, Fei Xin menyusun laporan intelijen ekonomi yang merinci rute navigasi militer, kedalaman pelabuhan, serta analisis pasar di negara-negara Arab.

Laporannya memberikan panduan bagi kekaisaran mengenai komoditas strategis dari Timur Tengah yang bernilai tinggi di pasar China, seperti kemenyan kualitas super, mutiara, dan kuda ras Arab murni.

Diam-Diam Kuda Belanda Mulai
Jajah Indonesia, Nilainya FantastisFoto: Diam-Diam Kuda Belanda Mulai Jajah Indonesia, Nilainya Fantastis/Aristya Rahadian

5. Du Huan

Mundur ke abad ke-8 pada era Dinasti Tang, perjalanan Du Huan ke Timur Tengah bermula dari insiden militer. Ia adalah perwira yang ditangkap oleh pasukan Kekhalifahan Abbasiyah pasca Pertempuran Talas (751 M).

Selama kurang lebih satu dekade, Du Huan menetap di pusat kekuasaan Islam, termasuk di Kufah (Irak). Pengalamannya ditulis dalam Jingxingji, yang menjadi literatur pertama di China yang mendeskripsikan secara sistematis mengenai hukum syariat Islam, kemajuan ilmu medis Arab, serta struktur pemerintahan Abbasiyah. Catatan ini membuka wawasan awal China terhadap peradaban Islam di Timur Tengah.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular