MARKET DATA

Mata Uang Negara "Sultan"Teluk Ambruk Berjamaah, Siapa Terparah?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
17 March 2026 16:52
Dinar Kuwait. (Pexels/Purple24)
Foto: Dinar Kuwait. (Pexels/Purple24)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang negara-negara Teluk tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah perang Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran memasuki dua pekan. Meski demikian, pelemahan yang terjadi sejauh ini masih relatif tipis. 

Negara-negara Teluk mencakup Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Kawasan ini dikenal punya keterkaitan erat dengan pasar energi global, sementara sebagian mata uangnya tergolong kuat terhadap dolar AS.

Hingga perdagangan pagi ini, Selasa (17/3/2026) pukul 15.00 WIB, hanya satu mata uang di kawasan tersebut yang tercatat menguat dibandingkan posisi terakhir sebelum konflik pecah.

Sebagai catatan, perang mulai pecah pada Sabtu (28/2/2026), sehingga reaksi pasar baru bisa tercermin pada perdagangan Senin (2/3/2026). Karena itu, posisi pembanding yang digunakan adalah perdagangan terakhir sebelum perang, yakni Jumat (27/2/2026).

Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun CNBC Indonesia, dinar Kuwait menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, yakni 0,43%, dari KWD 0,30545/US$ menjadi KWD 0,30675/US$. Setelah itu, riyal Qatar melemah 0,15% dari QAR 3,6445/US$ menjadi QAR 3,65/US$.

Dinar Bahrain juga turun 0,11% dari BHD 0,3769/US$ menjadi BHD 0,3773/US$. Meski ikut melemah, dinar Kuwait dan dinar Bahrain selama ini dikenal sebagai mata uang dengan nilai nominal lebih tinggi dari dolar AS. Hal itu tercermin dari kurs keduanya yang masih berada di bawah 1 terhadap dolar AS, sehingga 1 dinar bernilai lebih dari US$1.

Sementara itu, riyal Saudi melemah 0,05% dari SAR 3,7508/US$ menjadi SAR 3,7526/US$, dan rial Oman turun tipis 0,02% dari OMR 0,38486/US$ menjadi OMR 0,38495/US$.

Di tengah kecenderungan pelemahan tersebut, dirham Uni Emirat Arab menjadi satu-satunya mata uang yang justru menguat, meski sangat tipis, yakni 0,03% dari AED 3,6729/US$ menjadi AED 3,6719/US$.

Kondisi ini menunjukkan bahwa gejolak perang belum memicu perubahan besar pada mata uang negara-negara Teluk. Pergerakannya memang cenderung mengarah ke pelemahan, tetapi skalanya masih sangat terbatas dan belum menunjukkan tekanan yang ekstrem.

Artinya, pelaku pasar sejauh ini belum melakukan aksi jual besar-besaran terhadap mata uang negara-negara Teluk, meski dolar AS justru tengah menguat signifikan. Dalam periode yang sama, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia, tercatat melonjak 3,85% ke level 99,923 dari posisi sebelum perang di 96,217. Bahkan, DXY sempat menembus level 100.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular