Terima Kasih IHSG, Ramadan Tahun Ini Kesabaran Investor Naik Level
- Pasar keuangan Indonesia babak belur, bursa saham dan rupiah ambruk berjamaah
- Wall Street
- Kebijakan suku bunga, perkembangan perang, hingga libur panjang akan membayangi pasar keuangan Indonesia hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah. Bursa saham dan nilai tukar hingga Surat Berharga Negara (SBN) ambruk berjamaah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Senin (16/3/2026) ditutup turun 114,92 poin atau -1,61% ke level 7.022,29.
Sebanyak 542 saham turun, 180 naik, dan 98 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 16 triliun, melibatkan 32,1 miliar saham dalam 1,67 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar terkikis menjadi Rp 12.413 triliun.
Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 1,02 triliun.
Mengutip Refinitiv, utilitas menjadi sektor yang turun paling dalam, yakni 3,99%. Kemudian properti turun 3,89% dan bahan baku -3,79%.
Adapun saham yang menjadi pemberat utama adalah Dian Swastatika Sentosa (DSSA) membebani IHSG dengan bobot -19,02 indeks poin. Kemudian disusul oleh Bumi Resources Minerals (BRMS) -17,18 indeks poin dan Amman Mineral Internasional (AMMN) -13,35 indeks poin.
Selain itu, Barito Renewables Energy (BREN) dan Bank Central Asia (BBCA) juga masuk dalam daftar top laggards.
IHSG ambruk di tengah banyak sentimen negatif dan data-data penting pekan ini, mulai dari keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) hingga perkembangan perang.
Dari pasar nilai tukar, Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Mata uang Garuda menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,30% ke level Rp16.985/US$. Kondisi ini sekaligus memperpanjang tekanan terhadap rupiah sejak perdagangan terakhir pada pekan lalu.
Sejak pembukaan perdagangan kemarin, rupiah juga sudah dibuka melemah tipis 0,03% di posisi Rp16.940/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp16.940 - Rp16.995/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami penguatan 0,09% di level 100,446.
Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dari kuatnya posisi dolar AS di pasar global.
Sepanjang pekan lalu, dolar AS mencatat kenaikan mingguan terbaik sejak September 2024 dengan penguatan sekitar 1,7%. Penguatan tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah perang di Timur Tengah serta masih tingginya harga energi.
Pelaku pasar juga terus mencermati risiko rambatan konflik, terutama terkait kemungkinan terganggunya jalur perdagangan energi global. Kekhawatiran pasar meningkat seiring laporan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan serta potensi gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur vital distribusi minyak dunia.
Dengan kondisi tersebut, dolar AS masih tetap diminati sebagai aset aman. Hal ini membuat ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, menjadi terbatas.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berakhir di posisi 6,93% pada perdagangan kemarin, meningkat dibandingkan pada perdagangan sebelumnya di 6,82%.
Kenaikan imbal hasil menandai harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street akhirnya bangkit pada Senin atau Selasa waktu Indonesia.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 387,94 poin atau 0,83% dan ditutup di 46.946,41. S&P 500 melesat 1,01% ke level 6.699,38, sementara Nasdaq Composite menguat 1,22% dan berakhir di 22.374,18.
Saham Meta naik lebih dari 2% setelah laporan yang menyebutkan bahwa perusahaan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 20% tenaga kerjanya. Selain itu, saham Nvidia naik lebih dari 1% seiring dimulainya konferensi GTC pada Senin.
Pergerakan ini terjadi setelah S&P 500 mencatatkan penurunan untuk minggu ketiga berturut-turut dan ditutup pada level terendah tahun ini pada Jumat.
Harga minyak melonjak pekan lalu, dengan Brent crude ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Harga minyak melonjak karena lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting dunia, secara efektif terhenti sejak perang dimulai.
Dalam perdagangan Senin, West Texas Intermediate (WTI) turun 5,3% dan ditutup di US$93,52 per barel, setelah sempat diperdagangkan di atas US$100 per barel pada perdagangan malam hari. Sementara itu, Brent crude turun 2,05% ke US$101,21 per barel.
Harga minyak turun setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC pada Senin bahwa Amerika Serikat mengizinkan tanker minyak Iran untuk melintas melalui Selat Hormuz.
Tekanan tambahan pada harga minyak juga datang dari laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa AS akan segera mengumumkan koalisi negara-negara untuk mengawal kapal yang melewati selat tersebut, mengutip sejumlah pejabat.
Namun, pernyataan Presiden Donald Trump kepada wartawan pada Senin siang menunjukkan bahwa koalisi tersebut belum sepenuhnya terbentuk, karena ia mendorong negara lain untuk ikut terlibat.
Harga minyak sempat naik dari titik terendahnya setelah komentar tersebut, tetapi tetap lebih rendah pada sesi perdagangan hari itu.
Trump pada Jumat memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran yang berada di Pulau Kharg. Meski serangan tersebut tidak berdampak pada infrastruktur minyak, Trump mengatakan AS akan mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas tersebut jika Iran terus memblokir Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan kepada NBC pada akhir pekan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan, namun ia belum siap untuk melakukannya.
"Pasar benar-benar merasa bahwa Trump memikirkan kepentingan pasar dalam jangka panjang," kata David Krakauer, wakil presiden manajemen portofolio di Mercer Advisors, dikutip dari CNBC International.
Secara lebih spesifik, pasar masih agak bergantung pada keyakinan bahwa ia dapat mengakhiri konflik ini jika benar-benar menginginkannya, terutama jika situasi mulai memburuk.
Meski ketegangan geopolitik meningkat, aksi jual saham relatif terbatas. Bahkan, S&P 500 masih berada sedikit lebih dari 4% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai awal tahun ini.
"Ada ketidakpastian. Situasi bisa berubah dengan cepat. Dalam kabut perang, biasanya Anda hanya bertahan dan menunggu." kata Krakauer kepada CNBC.
Kenaikan saham pada Senin sebenarnya sudah lama ditunggu setelah beberapa pekan tekanan akibat perang Iran. Namun, kenaikan tersebut tidak disertai volume perdagangan yang kuat, sesuatu yang biasanya diharapkan oleh investor bullish untuk menunjukkan keyakinan terhadap pergerakan pasar. Volume perdagangan di NYSE maupun Nasdaq pada sesi Senin tercatat jauh di bawah rata-rata.
Pasar keuangan Indonesia akan menutup perdagangan pekan ini pada hari ini, Selasa (17/3/2026) sebelum libur panjang Hari Raya Idul Fitri dan Nyepi hingga Selasa pekan depan.
Sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri akan menggerakkan pasar saham hingga rupiah. Di antaranya adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), kebijakan pemerintah, hingga perkembangan perang.
Berikut beberapa sentimen hari ini:
Ramadan Kelabu Buat IHSG
Hari ini akan menjadi perdagangan terakhir IHSG selama Ramadan 1447 H atau 2026. Bagi investor, IHSG selama Ramadan tahun ini bukanlah sesuatu yang dikenang dengan baik karena IHSG babak belur yang membuat banyak investor merugi.
Selama Ramadan atau sejak 19 Februari 2026 hingga Senin kemarin (16/3/2026), IHSG sudah ambruk 15%. Catatan ini sangat buruk mengingat dalam lima tahun terakhir, IHSG juga kerap menguat selama Ramadan. Pada Ramadan 2025, misalnya, IHSG terbang 3,8%.
Catatan buruk lainnya adalah besarnya penutupan di zona merah selama Ramadan. Selama 18 hari perdagangan di Ramadan tahun ini, IHSG hanya menguat lima kali sementara sisanya atau 72% berakhir di zona merah.
Laju IHSG juga terjun bebas dari level 8310 pada sehari sebelum Ramadan menjadi 7022,88 pada Senin kemarin.
Selama Ramadan tahun ini, kesabaran investor juga terus diuji dengan banyaknya sentimen negatif baik dari dalam ataupun luar negeri. Di antaranya, downgrade outlook rating dari Moody's dan Fitch Rating, proyeksi defisit APBN hingga puncaknya perang Iran versus Israel - AS yang meletus pada 28 Februari.
IHSG bahkan anjlok 4,57% pada 4 Maret 2026 setelah harga minyak melonjak hingga menembus level US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 2022.
Keputusan Suku Bunga BI
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini pada Senin-Selasa (16-17/3/2026), dengan hasil keputusan yang akan diumumkan pada hari ini, Selasa (17/3/2026).
Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi menunjukkan hasil yang kompak. Seluruh responden memproyeksikan BI akan kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG kali ini.
Pada pertemuan RDG terakhir pada 18-19 Februari 2026, BI kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.
Keputusan tersebut membuat BI telah lima kali berturut-turut menahan suku bunga acuannya hingga Februari 2026. Bila kembali dipertahankan pada Maret ini, maka langkah tersebut akan menjadi kali keenam secara beruntun.
Dalam RDG kali ini BI diperkirakan masih akan menahan suku bunga guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sepanjang bulan ini, rupiah sudah ambruk 1,3%.
Tekanan ini terutama datang dari faktor global, khususnya penguatan indeks dolar AS yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.
Di tengah memanasnya perang di Timur Tengah, investor kembali memburu aset safe haven, termasuk dolar AS. Kondisi ini kemudian mempersempit ruang gerak mata uang lain, termasuk rupiah, yang cenderung tertekan.
Hal ini sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, yang menilai BI masih akan memilih menahan suku bunga pada Maret 2026 seiring tertekannya nilai tukar rupiah.
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Maret 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran-Israel dan AS," ujar Juniman.
Juniman juga menyoroti tekanan inflasi yang meningkat pada Februari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76%, atau berada di atas target BI, sementara inflasi inti tercatat 2,63% secara tahunan.
Menurut dia, kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan BI untuk belum mengubah arah kebijakan suku bunga. Meski demikian, Juniman menilai ruang penurunan suku bunga tetap terbuka ke depan, mengingat tekanan inflasi inti domestik masih relatif rendah.
Pemerintah Pilih Efisiensi Anggaran, Belum Berencana Naikkan Harga BBM
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah lebih memilih menerapkan efisiensi anggaran ketimbang menaikkan batas defisit APBN di atas 3% produk domestik bruto (PDB) dalam menghadapi tekanan harga minyak mentah dunia, akibat konflik di Timur Tengah.
Opsi ini pun kata dia telah dibahas dalam agenda Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang digelar Senin (16/3/2026).
"Jadi tadi ada didiskusikan, kalau harga BBM naik terus, langkah pertama ya itu, efisiensi. Kita sudah mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan oleh kementerian atau lembaga (K/L) nanti," ucap Purbaya.
Dalam rakortas itu, setiap kementerian atau lembaga telah diminta untuk mulai mempersiapkan porsi anggaran yang bisa dipangkas. "Mereka sudah kita suruh siapkan, kita minta siapkan, berapa persen anggarannya dipotong," tegasnya.
Purbaya menuturkan, arahan untuk efisiensi anggaran ini termasuk untuk Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjadi pelaksana program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis alias MBG.
"Kan ada anggaran tambahan-tambahan yang membuat gelembung sekali. Jadi dengan anggaran sekarang yang pertama ya kita fokus ke yang ada aja programnya. Yang tambahan kita tunda dulu sampai waktu yang memungkinkan, tapi sekarang jelas enggak mungkin," tutur Purbaya.
Menurutnya, Kementerian Keuangan mulai pekan depan mulai menghitung besaran efisiensi anggaran yang akan dilakukan pemeirntah untuk mengantisipasi gejolak harga minyak mentah dunia yang kerap melampaui US$100 per barel atau di atas asumsi makro APBN US$70 per barel efek perang AS-Israel dengan Iran.
"Tapi belum tentu eksekusi ya, kalo mau dipotong yang mana yang mau dipotong, kira-kira gitu. Nanti mereka adjust kebijakannya berdasarkan potongan Kementerian Keuangan," paparnya.
Purbaya juga mengatakan pemerintah hingga kini belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, meskipun harga minyak mentah dunia sempat meroket imbas konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Enggak, kita enggak akan naikkan harga BBM," kata Purbaya seusai menghadiri rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Libur Panjang Lebaran
Indonesia akan memasuki libur panjang pada Rabu pekan ini hingga Selasa pekan depan. Rangkaian hari libur nasional, dimulai dari Hari Suci Nyepi pada 18-19 Maret 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pada 20-24 Maret 2026.
Libur panjang ini diharapkan bisa menggerakkan permintaan hingga ekonomi dalam negeri.
Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan
Sorotan utama pekan ini tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan pada Selasa Rabu waktu AS dan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026).
Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,5%-3,75% setelah tiga kali pemangkasan pada tahun lalu. Pasar kini menanti sinyal arah kebijakan moneter berikutnya, terutama di tengah ketidakpastian inflasi dan kondisi ekonomi global.
Mayoritas analis memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan FOMC Maret. Proyeksi di FedWatch bahkan menunjukkan 99,2% mempertaruhkan suku bunga di tahan.
Namun, peluang pemangkasan suku bunga tahun ini mulai mengecil. Jika sebelumnya pasar memperkirakan penurunan suku bunga bisa dimulai pertengahan 2026, kini ekspektasi tersebut mulai mundur. Sejumlah faktor menjadi pemicu seperti lonjakan harga minyak, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian ekonomi global.
Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan AS-Iran yang mengganggu rantai pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia.
Akibatnya, pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 kemungkinan hanya terjadi satu kali pada tahun ini.
Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) serta konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.
Pasar mencari sinyal apakah The Fed masih membuka ruang pemangkasan suku bunga tahun ini, atau justru menunda lebih lama jika lonjakan harga energi kembali memicu tekanan inflasi.
Penjualan Ritel China
China mengumumkan data penjualan ritel Senin kemarin. Penjualan ritel China naik 2,8% secara tahunan pada Januari-Februari 2026, meningkat dari 0,9% pada Desember dan melampaui ekspektasi pasar 2,5%. Pertumbuhan ini menjadi yang terkuat sejak Oktober, didorong oleh libur Tahun Baru Imlek yang memicu lonjakan belanja konsumen seperti reservasi hotel dan belanja duty-free.
Penjualan melonjak pada makanan (10,2%) serta pakaian dan tekstil (10,4%), sementara peralatan rumah tangga (3,3%) dan tembakau serta alkohol (19,1%) juga pulih. Namun penjualan mobil masih turun 7,3%.
Sementara itu, produksi industri China naik 6,3% secara tahunan pada Januari-Februari 2026, lebih tinggi dari 5,2% pada Desember dan di atas perkiraan 5,1%. Kenaikan terjadi di pertambangan (6,1%), manufaktur (6,6%), dan utilitas (4,7%), dengan sebagian besar sektor manufaktur mencatat pertumbuhan.
Secara bulanan, output industri naik 0,83%, sementara sepanjang 2025 produksi industri tumbuh 5,9%.
Perkembangan Perang
Beberapa sekutu Amerika Serikat menolak seruan Donald Trump pada Senin untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Penolakan itu memicu kritik dari presiden AS tersebut, yang menuduh para mitra Barat tidak tahu berterima kasih setelah puluhan tahun mendapat dukungan dari Washington.
Perang AS-Israel melawan Iran kini memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda akan segera berakhir. Selat Hormuz yang sangat penting-jalur yang dilalui sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair dunia-masih sebagian besar tertutup, sehingga memicu kenaikan harga energi dan kekhawatiran akan inflasi.
Konflik ini juga telah menimbulkan biaya ekonomi bagi sekutu-sekutu AS, yang tidak diajak berkonsultasi sebelum serangan udara ke Iran dilakukan. Mereka juga telah menghadapi berbulan-bulan kritik keras dan ancaman bernada perang dari Trump sejak ia kembali menjabat.
Sejumlah mitra AS, termasuk Jerman, Spanyol, dan Italia, mengatakan mereka tidak memiliki rencana segera untuk mengirim kapal guna membantu membuka kembali jalur strategis tersebut, yang secara efektif ditutup Iran menggunakan drone dan ranjau laut.
"Kami tidak memiliki mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, atau NATO yang diwajibkan oleh Undang-Undang Dasar," kata Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin. Ia menambahkan bahwa Washington dan Israel tidak berkonsultasi dengan Jerman sebelum meluncurkan perang.
Trump, yang berbicara dalam sebuah acara di Gedung Putih di Washington, mengatakan banyak negara telah memberitahunya bahwa mereka siap membantu, namun ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap beberapa sekutu lama.
Berikut agenda ekonomi hari ini:
- Keputusan suku bunga Australia
- Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman menghadiri Sosialisasi Usulan Perubahan Permen Nomor 9 Tahun 2025 & Rancangan Keputusan Menteri tentang Rusun Subsidi dilanjutkan Buka Puasa Bersama di Aula Kantor BP Tapera, Menara Mandiri 2, Jakarta Selatan
- Perum BULOG bersama Forum Wartawan BULOG akan melaksanakan kegiatan "Liputan Mudik Aman Berbagai Harapan Bersama Perum BULOG." di kantor pusat Perum BULOG, Jakarta Selatan
- Pelepasan Mudik Gratis BUMN 2026 di Area Ring Road Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan
- Konferensi pers virtual hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
- Pelepasan Mudik Bersama Kementerian ESDM oleh Menteri ESDM di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat.
Berikut agenda korporasi hari ini:
Tanggal cum Dividen Tunai PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
Tanggal cum Dividen Tunai PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
Informasi Pembayaran Pokok seri ASDF06ACN5 ke 4 dari BSDE
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Hari Ini, Purbaya Akan Sampaikan Pengumuman Penting