IHSG Jatuh 2%, Ini 10 Saham Paling Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif pada pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data pasar, IHSG mengalami penurunan sebesar 2,07% hingga ke level 6.989,27 pada pukul 09.50 WIB.
Koreksi yang cukup dalam ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang meluas di bursa saham domestik. Perlu diingat juga bahwa KOSPI, Sensex, SSE, dan beberapa indeks bursa negara di Asia mengalami penurunan lanjutan sejak beberapa hari sebelumnya akibat eskalasi perang di Timur Tengah.
Saham Penekan Indeks (Top Losers)
Sejalan dengan melemahnya indeks acuan, sejumlah saham mencatatkan penurunan harga yang signifikan dan masuk ke dalam daftar top losers.
Rentang pelemahan pada jajaran saham ini berkisar di angka 14%, yang mendekati atau menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) sesuai dengan ketentuan persentase penurunan harian masing-masing fraksi harga.
PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) memimpin daftar saham dengan persentase penurunan terdalam, yakni terkoreksi 14,94% ke level Rp 74 per saham. Mengikuti POLA, saham PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) dan PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) masing-masing mengalami penurunan sebesar 14,73% dan 14,68%.
Berikut adalah rincian tabel kinerja 10 saham dengan pelemahan terdalam (top losers) pada hari ini:
Likuiditas Transaksi Bervariasi
Meskipun kesepuluh saham di atas mencetak persentase penurunan yang hampir seragam, data menunjukkan adanya disparitas yang jauh pada nilai transaksi. Saham PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) mencatatkan nilai transaksi tertinggi dalam daftar ini, yaitu mencapai Rp 91,12 miliar.
Sebaliknya, saham PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) yang memiliki nominal harga saham terbesar (Rp 9.400) hanya mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 1,88 juta.
Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan harga pada saham tersebut terjadi dengan tingkat likuiditas atau volume perpindahan tangan yang sangat minim disebabkan oleh sedikitnya saham yang dipasang pada area bid-offer.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google