IHSG Jatuh 2%, Lakukan 5 Hal Ini Biar Gak Makin Boncos
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang Lebaran biasanya aktivitas transaksi di pasar saham cenderung lebih sepi. Banyak pelaku pasar memilih menahan diri karena fokus pada kebutuhan hari raya, sementara sebagian investor juga mengambil jeda dari aktivitas trading.
Tahun ini situasinya terasa semakin terasa karena posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun mengalami tekanan dan penurunan yang cukup tajam.
Kalau ditarik dari posisi tertingginya yang sempat ke level tertingginya 9075 pada 22 Januari 2026, IHSG sudah terjun lebih dari 22% sampai posisi pada hari ini, Senin (16/3/2026) pukul 10.08 WIB di 6998,06. Sepanjang tahun ini, IHSGÂ sudah jatuh 19%.
Pada Senin hari ini hingga pukul 10.08 WIB, IHSGÂ sudah ambruk 2%.
Seiring dengan gerak IHSG yang loyo, dalam sepekan yang berakhir Jumat lalu (13/3/2026) transaksi harian menjadi semakin sepi.
Rata-rata frekuensi transaksi harian di BEI juga mengalami penurunan sebesar 31,54 persen, menjadi 1,87 juta kali transaksi dari sebelumnya 2,73 juta kali transaksi.
Rata-rata nilai transaksi harian turut turun 31,10 persen, dari Rp24,97 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp17,20 triliun.
Lantas apa yang harus dilakukan investor?
Dalam kondisi pasar yang cenderung sepi dan IHSG masih berada dalam tekanan, investor tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Justru fase seperti ini bisa menjadi momentum yang baik untuk memperkuat strategi investasi jangka panjang.
Beberapa hal yang dapat dilakukan investor antara lain:
1. Mengevaluasi kembali portofolio yang dimiliki
Investor dapat memanfaatkan periode pasar yang lebih tenang untuk meninjau ulang saham-saham dalam portofolio.
Apakah perusahaan tersebut masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik, fundamental yang kuat, serta model bisnis yang relevan ke depan.
Jika ada saham yang kualitasnya kurang baik atau tidak lagi sesuai dengan thesis investasi awal, ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk melakukan penyesuaian.
2. Memperdalam analisis fundamental perusahaan
Ketika volatilitas pasar tidak terlalu tinggi, investor memiliki ruang untuk lebih fokus memahami kualitas bisnis emiten.
Mulai dari melihat kinerja keuangan, pertumbuhan laba, posisi utang, hingga keunggulan kompetitif perusahaan di industrinya. Pendekatan ini penting terutama bagi investor yang memiliki orientasi investasi jangka panjang.
3. Menyusun watchlist saham berkualitas
Pasar yang sedang melemah sering kali membuka peluang untuk menemukan saham-saham dengan fundamental baik namun diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik.
Investor dapat mulai menyusun daftar saham incaran yang memiliki prospek pertumbuhan kuat, sehingga ketika harga berada di level yang lebih menarik, investor sudah siap untuk mengambil posisi.
4. Melihat pelemahan pasar sebagai peluang akumulasi
Dalam siklus pasar saham, fase penurunan sering kali menjadi momen yang memberikan kesempatan membeli saham dengan harga yang lebih murah. Ketika sentimen pasar sedang lemah, banyak saham berkualitas yang ikut terkoreksi.
Bagi investor jangka panjang, kondisi ini sering disebut sebagai fase "diskon", di mana valuasi kembali ke level yang lebih rasional bahkan menarik untuk mulai diakumulasi secara bertahap.
5. Fokus pada prospek jangka panjang, bukan pergerakan jangka pendek
Alih-alih mencoba menebak arah pasar dalam waktu dekat, investor dapat lebih fokus pada potensi pertumbuhan bisnis perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Jika fundamental perusahaan tetap solid dan prospek industrinya masih menjanjikan, fluktuasi harga dalam jangka pendek sering kali hanya menjadi bagian dari dinamika pasar.
Pada akhirnya, ketika pasar sedang berada dalam fase yang kurang bergairah, pendekatan yang lebih bijak adalah mempersiapkan posisi investasi dengan lebih matang.
Dengan portofolio yang berisi saham-saham berkualitas dan dibeli pada valuasi yang menarik, investor memiliki peluang yang lebih baik untuk menikmati potensi pertumbuhan ketika sentimen pasar kembali membaik setelah periode libur Lebaran maupun ketika siklus pasar berbalik ke arah yang lebih positif.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae) Addsource on Google