MARKET DATA

Harga Batu Bara Meledak: Tembus US$ 143, Tertinggi 1 Tahun Lebih

mae,  CNBC Indonesia
10 March 2026 07:20
batu bara kapal tongkang
Foto: Detikcom

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara meledak tersengat lonjakan harga minyak dan ketegangan di Timur Tengah.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 143,8 per troy ons atau melonjak 4,7% pada perdagangan Senin (9/3/2026).

Lonjakan harga ini memperpanjang reli batu bara dengan menguat 8,2% selama tiga hari beruntun.

Meningkatnya ketidakpastian terhadap keamanan energi Eropa mendorong sejumlah negara untuk sementara kembali mengandalkan batu bara dalam pembangkit listrik. Hal ini terjadi di tengah gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga gas akibat ketegangan yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Israel di satu sisi, serta Iran di sisi lain.

Sejak eskalasi konflik di kawasan Teluk dan terganggunya pasokan energi melalui Selat Hormuz, harga batu bara termal untuk pembangkit listrik naik sekitar 20%, Harga ini diperkirakan masih dapat meningkat karena banyak negara mencari alternatif pengganti gas alam.

Seperti diketahui, perang Iran vs Israel- Amerika Serikat melambungkan harga minyak hingga 35% dan gas alam meledak 50% pekan lalu. Lonjakan harga ini membuat batu bara yang lebih murah menjadi pilihan.



Dengan harga gas yang tinggi, pengoperasian pembangkit listrik berbahan bakar batu bara kembali menjadi lebih ekonomis di beberapa negara Eropa. Meski memiliki dampak lingkungan yang besar, tekanan ekonomi mendorong penggunaan batu bara secara sementara.

Menurut Financial Times, kenaikan harga saat ini masih relatif moderat dibandingkan lonjakan tajam pada 2022 setelah perang Rusia-Ukraina, ketika harga batu bara melonjak hingga lebih dari US$400 per ton. Krisis tersebut membuat Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya kembali membuka tambang batu bara dan pembangkit listrik yang sebelumnya telah ditutup.

Pasokan batu bara global saat ini tidak seketat tahun 2022, karena banyak negara masih memiliki cadangan yang cukup besar. China, sebagai produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia, bahkan sedang memperluas atau membuka kembali operasi tambang.

Harga batu bara yang tinggi juga dapat mendorong Indonesia, salah satu eksportir terbesar dunia, untuk meninjau kembali kebijakan pembatasan ekspor.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global akan stabil atau mulai menurun pada 2030, seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan, energi nuklir, dan ketersediaan gas alam. Namun, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung dapat memengaruhi proyeksi tersebut.

Energi terbarukan melampaui batu bara di Eropa

Data dari Ember Energy Research Center menunjukkan bahwa listrik dari angin dan tenaga surya untuk pertama kalinya melampaui pembangkit berbahan bakar fosil pada 2025. Energi terbarukan menyumbang sekitar 30% dari total listrik Uni Eropa, dibandingkan 29% dari batu bara, gas, dan minyak.

Namun para analis menilai batu bara masih dapat berperan sebagai sumber energi cadangan dalam bauran energi Eropa, terutama jika harga gas kembali naik atau pasokan terganggu.

 

Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah juga mempercepat upaya dunia untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas dari kawasan tersebut, sehingga harga batu bara melonjak ke level tertinggi sejak November 2024.

Kontrak berjangka batu bara Newcastle Asia naik sekitar 9,3% menjadi US$150 per ton, sementara pada periode yang sama harga minyak mentah mendekati US$120 per barel.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular