Mengenal Malam Selikuran, Tradisi Menyambut Malam Lailatul Qadar
Jakarta, CNBC Indonesia - Malam Selikuran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan untuk menyambut sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Istilah selikuran berasal dari bahasa Jawa yang berarti dua puluh satu, merujuk pada malam ke-21 Ramadan yang menjadi awal dari malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan suci. Malam ini dipandang sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah dalam rangka mencari Lailatul Qadar.
Dalam Islam, Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Qadr ayat 1-5:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ٥
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh keberkahan dan memiliki nilai ibadah yang sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Malam Penuh Kemuliaan dalam Islam
Dalam ajaran Islam, Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Qadr ayat 1-5:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥
Artinya:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar."
Ayat tersebut menegaskan bahwa malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan, seperti memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, serta memanjatkan doa.
Tradisi Selikuran di Tanah Jawa
Di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa, masyarakat memiliki cara tersendiri untuk menyambut datangnya fase penting tersebut melalui tradisi Malam Selikuran. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian dari warisan budaya yang memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal.
Di sejumlah daerah seperti Surakarta dan Yogyakarta, Malam Selikuran bahkan dirayakan dengan prosesi budaya yang melibatkan masyarakat luas. Salah satu tradisi yang cukup dikenal adalah kirab atau arak-arakan malam hari yang biasanya digelar oleh lingkungan keraton.
Di kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat misalnya, Malam Selikuran kerap diperingati dengan kirab tumpeng dan lampu-lampu tradisional yang dibawa oleh abdi dalem dan masyarakat. Prosesi tersebut melambangkan harapan akan datangnya keberkahan dan keselamatan bagi masyarakat.
Selain kirab budaya, banyak masyarakat yang mengisi Malam Selikuran dengan kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur'an, pengajian, hingga salat malam berjamaah di masjid atau musala. Beberapa daerah juga mengadakan kegiatan sosial seperti pembagian makanan, santunan anak yatim, hingga berbagi takjil kepada masyarakat yang membutuhkan.
Momentum Memperkuat Ibadah dan Solidaritas Sosial
Bagi masyarakat Jawa, Malam Selikuran bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga momentum spiritual untuk memperdalam ibadah sekaligus mempererat hubungan sosial di antara warga.
Kegiatan doa bersama dan pengajian yang digelar pada malam tersebut sering menjadi ajang berkumpulnya masyarakat lintas generasi. Nilai kebersamaan dan gotong royong tercermin dalam persiapan acara, mulai dari memasak makanan bersama hingga menghias lingkungan dengan lampu-lampu tradisional.
Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi Selikuran juga mengalami adaptasi dengan perkembangan zaman. Banyak masjid dan komunitas yang menyiarkan kegiatan tadarus, kajian Ramadan, hingga doa bersama secara daring melalui media sosial dan platform streaming agar dapat diikuti oleh masyarakat yang tidak dapat hadir secara langsung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi Selikuran tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat modern.
Imbauan Menjaga Kesehatan dan Ketertiban
Di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat pada sepuluh malam terakhir Ramadan, pemerintah juga mengimbau agar kegiatan ibadah dan tradisi tetap dilaksanakan dengan tertib serta memperhatikan aspek kesehatan.
Melalui berbagai kampanye Ramadan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kondisi fisik selama menjalankan ibadah puasa, terutama dengan memastikan asupan gizi seimbang saat sahur dan berbuka.
Masyarakat juga diimbau untuk menjaga keamanan lingkungan serta menghindari aktivitas yang dapat mengganggu ketertiban umum selama kegiatan malam hari berlangsung.
Harapan Menyambut Malam Penuh Berkah
Dengan dimulainya Malam Selikuran, umat Islam memasuki fase paling istimewa dalam bulan Ramadan. Pada periode inilah kesempatan untuk meraih Lailatul Qadar terbuka lebar, sebuah malam yang diyakini memiliki nilai ibadah lebih baik daripada seribu bulan.
Melalui perpaduan antara tradisi budaya dan praktik keagamaan, Malam Selikuran menjadi simbol bagaimana masyarakat Indonesia merayakan Ramadan dengan cara yang khas-menggabungkan spiritualitas, kebersamaan, dan kearifan lokal.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan serta mempererat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
(dag/dag) Add
source on Google