MARKET DATA
Newsletter

IHSG & Rupiah Terancam! Minyak Tembus US$100, Kabar Genting dari China

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 March 2026 06:21
Kapal perusak angkatan laut Choe Hyon melakukan uji peluncuran rudal yang diawasi oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un selama kunjungannya untuk memeriksa kapal tersebut di Galangan Kapal Nampho, Korea Utara, 4 Maret 2026, dalam gambar yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara.
Foto: 10 Perusahaan Gas Terbesar di Dunia, Pesta di Tengah Perang Iran/Aristya Rahadian
  • Pasar Keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG dan Rupiah melemah sementara SBN statis
  • Wall Street kembali terkoreksi akibat tensi geopolitik terkini
  • Perang Iran dan Inflasi China akan menjadi penggerak pasar pada hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Jumat (6/3/2026). Bursa saham turun, Rupiah mengalami lonjakan, sementara SBN ditutup pada level yang sama seperti perdagangan hari sebelumnya

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan yang cukup berat pada Jumat kemarin. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat lalu. Kendati demikian, IHSG berhasil memangkas koreksi pada akhir sesi 2.

IHSG tercatat turun 124,85 poin atau -1,62% ke level 7.585,69. Sebanyak 581 saham turun, 181 naik, dan 196.

Nilai transaksi mencapai Rp 17,65 triliun, melibatkan 31,17 miliar saham dalam 1,89 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar parkir di level Rp 13.627 triliun.

Sepanjang Jumat kemarin, IHSG bergerak pada rentang 7.500,09-7.700,32. IHSG sempat beberapa kali turun hingga 2% pada perdagangan Jumat kemarin.

Mulanya IHSG anjlok seiring dengan saham-saham emiten milik Prajogo Pangestu. Menjelang akhir perdagangan dua emiten Prajogo, Chandra Asri Pacific (TPIA) dan Barito Renewables Energy (BREN) berbalik arah dan masing-masing naik 17,67% dan 5,82%.

TPIA pun menjadi penopang utama IHSG dengan bobot 19,71 indeks poin. Begitu pula dengan BREN yang berkontribusi 15,73 indeks poin.

Sementara itu, saham perbankan dan tambang menjadi pemberat utama IHSG. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Central Asia (BBCA) secara total menyeret IHSG sebesar -33,32 indeks poin.

 

Kemudian saham tambang seperti Bayan Resources (BYAN), Bumi Resources Minerals (BRMS), Energi Mega Persada (ENRG), dan Amman Mineral (AMMN) masuk dalam daftar Top 10 Laggards perdagangan Jumat kemarin.

Dalam perkembangan terpisah, bursa Asia menghijau setelah dibuka koreksi pagi tadi. Indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,02% dan Nikkei di Jepang naik 0,62%. Kemudian HSI di Hong Kong naik 1,72%.

Lanjut ke nilai tukar Rupiah, Rupiah ditutup tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan terakhir pekan lalu pada hari Jumat.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,15% ke level Rp16.900/US$.

Sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah memang sudah dibuka melemah di level yang sama dengan posisi penutupan. Meski demikian, sepanjang perdagangan rupiah sempat tertekan lebih dalam hingga menyentuh Rp16.930/US$ sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahannya.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,31% ke level 99,017. Meski begitu, pada perdagangan sebelumnya DXY sempat menguat tajam 0,55%.

Pelemahan rupiah pada perdagangan Jumat kemarin dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama dari dinamika dolar AS di pasar global.

Dolar AS memang cenderung bergerak melemah pada perdagangan Jumat pagi, tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari setahun. Kondisi ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harapan akan meredanya konflik sebelumnya sempat muncul, namun kembali memudar setelah ketegangan meningkat lagi. Situasi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dan cenderung memburu aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Sementara dari sisi obligasi, imbal hasil SBN 10 tahun pada perdagangan Jumat kemarin tidak mengalami pergerakan sama sekali selama masa perdagangan. Dibuka pada level 6,588% dan juga ditutup pada level 6.588 tanpa ada range perubahan harga selama jam perdagangan tersebut berakhir.

Ketidakpastian tensi geopolitik serta bayang-bayang terkait penurunan outlook dari Fitch Ratings masih menjadi sentimen buruk bagi investor untuk kembali membeli obligasi tenor 10 tahun tersebut.

Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan akhir pekan di zona merah, menambah rentetan penurunan mingguan akibat lonjakan harga minyak dan rilis data tenaga kerja yang berada di bawah ekspektasi.

Tiga indeks utama mencatatkan pelemahan yang signifikan pada penutupan perdagangan hari Jumat. Dow Jones Industrial Average turun 453,19 poin atau 0,95%, ditutup pada level 47.501,55. Sepanjang pekan, indeks ini terkoreksi sebesar 3%.

S&P 500 melemah 1,33% ke level 6.740,02, mencatatkan penurunan mingguan sebesar 2%. Sementara Nasdaq Composite merosot 1,59% dan berakhir di posisi 22.387,68, dengan total pelemahan mingguan mencapai 1,2%.

Penurunan ini turut dipengaruhi oleh harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menembus level US$90 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan inflasi lebih lanjut.

BlackRock Batasi Penarikan Dana untuk Pertama Kalinya

Di sisi korporasi, saham BlackRock mengalami penurunan sebesar 7%, mencatatkan hari perdagangan terburuknya sejak awal April. Pelemahan ini terjadi setelah perusahaan manajemen investasi tersebut memutuskan untuk membatasi penarikan dana dari salah satu private credit fund untuk pertama kalinya.

Berdasarkan laporan, HPS Corporate Lending Fund mengumumkan bahwa mereka hanya akan melakukan pembelian kembali hingga 5% dari total sahamnya pada kuartal ini, yang merupakan jumlah minimum komitmen perusahaan.

Keputusan ini menarik perhatian pasar karena permintaan penebusan dari investor mencapai 9,3%. Ini merupakan kuartal pertama dalam empat tahun sejarah reksa dana tersebut di mana permintaan penarikan melampaui batas 5%. Sentimen ini turut menekan kinerja saham BlackRock hingga turun 9,9% sejak awal tahun.

Data Tenaga Kerja Mengecewakan dan Mempersulit Kebijakan The Fed

Pasar ekuitas mendapat tekanan tambahan dari laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Nonfarm payrolls secara tak terduga tercatat turun sebanyak 92.000 pekerjaan pada bulan Februari.

Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan adanya penambahan 50.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga mengalami kenaikan menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3%.

Kepala Ekonom Goldman Sachs, Jan Hatzius, menilai pertumbuhan pasar tenaga kerja saat ini tergolong lemah. Menurutnya, AS masih berada dalam lingkungan "rendah rekrutmen, rendah pemutusan hubungan kerja" (low hire, low fire).

Hatzius juga mencatat bahwa berbagai kejutan pada data ekonomi belakangan ini mulai memberikan sinyal ke arah risiko stagflasi-kondisi di mana inflasi tinggi terjadi secara bersamaan dengan stagnasi ekonomi dan pengangguran.

Sejalan dengan hal tersebut, Presiden Federal Reserve San Francisco, Mary Daly, menyatakan bahwa pelemahan data tenaga kerja bulan Februari ini menambah kompleksitas dalam perumusan kebijakan bank sentral.

Kondisi pasar tenaga kerja yang mulai melunak, dikombinasikan dengan tingkat inflasi yang masih berada di atas target 2%, membuat The Fed berada dalam posisi yang lebih menantang.

Meskipun demikian, Daly menekankan agar pasar tidak mengambil kesimpulan berlebihan hanya dengan merujuk pada data satu bulan.

Saham Ciena Menguat Berkat Prospek Jaringan Pusat Data AI

Di tengah tekanan yang melanda bursa, saham penyedia peralatan jaringan optik, Ciena, berhasil mencatatkan penguatan hampir 3% pada perdagangan Jumat. Kenaikan ini didorong oleh langkah Bank of America yang menaikkan peringkat saham Ciena menjadi buy (beli) dari sebelumnya neutral.

Analis Bank of America, Tal Liani, melihat adanya potensi kenaikan hingga lebih dari 18% dengan target harga baru di level US$355. Prospek positif ini didasarkan pada peningkatan belanja cloud dan tingginya kebutuhan perangkat keras jaringan optik untuk mendukung operasional pusat data kecerdasan buatan (AI).

Siklus pengeluaran modal ini diproyeksikan akan berlanjut hingga tahun 2027, memposisikan Ciena yang memiliki pangsa pasar dominan di sektor optik untuk terus mencatatkan pertumbuhan.

Aktivitas perdagangan Maret 2026 mulai memasuki pekan kedua, di mana pelaku pasar dan investor akan dihadapkan pada jadwal rilis data makroekonomi yang padat, baik dari bursa domestik maupun global.

Data-data yang dijadwalkan rilis pada pekan ini memiliki peran krusial sebagai leading indicator untuk menilai arah kebijakan moneter bank sentral, prospek pertumbuhan ekonomi, serta pergerakan arus modal lintas batas.

Perhatian utama akan tertuju pada rilis data inflasi dari Amerika Serikat (AS), inflasi China, data perdagangan China, data perekonomian lainnya, dan perkembangan ketegangan di Timur Tengah.

Harga Minyak Melonjak

Harga minyak langsung melonjak pada perdagangan hari ini, Senin (9/3/2026). Lonjakan harga bisa memicu tekanan inflasi yang berpotensi meningkatkan biaya hidup dan mungkin juga suku bunga di seluruh dunia. Sementara itu, tingginya permintaan investor terhadap likuiditas membuat dolar AS tetap diminati.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak juga bisa membebani impor, subsidi BBM hingga rupiah.

Merujuk Refinitiv, pada hari ini, Senin (9/3/2026) pukul 06.02 WIB harga minyak WTI ada di posisi US$ 107,6 per barel atau terbang 16%. Ini adalah harga minyak tertinggi sejak Juni 2022 atau setelah perang Rusia-Ukraina meledak di awal Februari 2022.

Harga minyak WTI sudah meelsat 48% sejak Perang Iran versus Israel dan AS meletus pada Sabtu 27 Februari 2026.

Sementaar itu, harga minyak brent naik 2% ke US$ 92,69 per barel pada hari ini.

Minyak Brent melonjak 17% menjadi US$108,73 per barel, setelah sebelumnya sudah naik 28% pada pekan lalu, sementara minyak mentah AS naik 19% menjadi US$108,33 per barel.

Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi (Supreme Leader). Langkah ini memberi sinyal bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali kuat di Teheran, satu pekan setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Tanpa tanda-tanda berakhirnya permusuhan di Timur Tengah, serta kapal tanker yang masih tidak berani melintasi Selat Hormuz, para investor bersiap menghadapi periode panjang biaya energi yang lebih tinggi.

"Ekonomi global masih sangat bergantung pada aliran minyak dan gas alam Timur Tengah yang terkonsentrasi melalui Selat Hormuz," kata Bruce Kasman, kepala ekonom JPMorgan, dikutip Reuters.

Ia memperkirakan skenario jangka pendek adalah lonjakan harga minyak mendekati US$120 per barel, sebelum kemudian mereda ketika konflik mereda.

"Namun tanpa resolusi politik yang jelas dan tegas, harga minyak Brent diperkirakan tetap berada di level tinggi sekitar US$80 per barel hingga pertengahan tahun," tambahnya.

Menurut Kasman, skenario tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,6% secara tahunan pada paruh pertama tahun ini, sekaligus meningkatkan inflasi konsumen sekitar 1% per tahun.

Ia juga memperingatkan bahwa konflik yang lebih luas dan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak di atas US$120 per barel dan meningkatkan risiko resesi global.

Indeks Dolar Terbang

Indeks dolar AS melesat ke 99,46 pada perdagangan Jumat pekan lalu. Lonjakan indeks ini menandai aksi borong investor terhadap dolar AS. Hal ini bisa berimbas besar ke rupiah karena investor memilih meninggalkan instrumen investasi di Emerging market dan beralih ke dolar. 



Inflasi Amerika Serikat (AS)

Pada pekan depan, yakni tepatnya pada Rabu (11/3/2026) malam waktu Indonesia, AS akan merilis data inflasi untuk periode Februari 2026.

Pada Januari 2026, inflasi umum AS tercatat naik 0,2%, di bawah ekspektasi ekonom sebesar 0,3%. Angka ini juga lebih rendah dari inflasi 0,3% untuk periode Desember 2025.

Konsensus pasar dalam Trading Economics memperkirakan inflasi bulanan AS pada Februari 2026 mencapai 0,2%, tidak jauh berubah dari Januari 2026 yang mencapai 0,2%.

 

Hal itu menunjukkan adanya sedikit penurunan tekanan harga sebelum pecahnya perang di Iran yang menimbulkan ketidakpastian baru tentang prospek inflasi.

Kemudian data Core PCE juga akan keluar pada pekan depan menyambung Inflasi umum yang diproyeksikan akan sedikit mengalami kenaikan ke level 3,1% berdasarkan konsensus.

Sementara secara bulanan, Core PCE diprediksi akan mengalami kenaikan yang konsisten seperti bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,4%.

Sebagai catatan, Fed Chair Jerome Powell lebih memprioritaskan data PCE ketimbang dengan inflasi umum karena dinilai lebih modern dan dinamis dalam metodologi pengambilan sampling datanya sehingga menurutnya PCE memberikan gambaran lebih utuh terkait angka ril inflasi di AS.

Jika data ini terealisasi sesuai prediksi, hal tersebut akan mengonfirmasi tren disinflasi yang sedang berlangsung di AS.

Data yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan indeks Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, yang pada gilirannya dapat memberikan ruang sedikit bagi penguatan mata uang pasar berkembang, termasuk Rupiah.

Inflasi China

Tak hanya AS, China juga akan merilis data inflasi periode Februari, tepatnya pada Senin besok. Konsensus pasar memperkirakan inflasi akan naik menjadi 0,8% secara tahunan berkat dorongan dari efek Tahun Baru Imlek.

Sedangkan secara bulanan, inflasi China pada bulan lalu diprediksi naik menjadi 0,3%. Sebelumnya pada Januari lalu, Inflasi konsumen China mendingin pada Januari 2026, sementara deflasi harga produsen tetap berlanjut.

Biro Statistik Nasional (NBS) melaporkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,2% pada Januari 2026 dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan 0,8 persen pada Desember 2025 dan meleset dari ekspektasi para analis sebesar 0,4 persen.

Sedangkan Indeks harga produsen (PPI) turun 1,4% pada Januari lalu, memperpanjang tren deflasi selama bertahun-tahun.

Data ini memperkuat dorongan terhadap Beijing untuk mengeluarkan langkah kebijakan guna mengatasi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Adapun dampak kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah kemungkinan baru akan terlihat pada data Maret.

Bagi Indonesia sebagai mitra dagang utama, stabilitas ekonomi China menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi kinerja ekspor dan harga komoditas.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia

Di Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Februari 2026 akan dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Konsensus memperkirakan IKK RI bulan lalu cenderung turun menjadi 123,9, dari Januari 2026 yang mencapai 127.

IKK di Januari yang mencapai angka 127 menandakan kuatnya kondisi ekonomi. Kenaikan ini mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang membaik dan prospek ke depan yang semakin optimistis.

BI menyebut, meningkatnya keyakinan konsumen bersumber dari persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan yang sama-sama berada di level optimis dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya.

Eskalasi Timur Tengah

Perkembangan konflik antara Iran vs AS-Israel masih akan dipantau oleh pelaku pasar pada pekan depan, di mana terbaru, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah.

Trump menegaskan bahwa militer AS siap melancarkan serangan balasan yang jauh lebih masif dan mematikan terhadap Teheran pada Sabtu (7/3/2026) kemarin.

Melansir AFP, Trump menyampaikan ancaman tersebut secara langsung melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social. Ia mengindikasikan bahwa serangan kali ini tidak hanya sekadar balasan biasa, melainkan sebuah pukulan telak yang akan memperluas target operasi militer AS ke wilayah-wilayah yang sebelumnya belum tersentuh.

"Hari ini Iran akan dipukul sangat keras!," tulis Trump dalam unggahan tersebut, dilansir AFP, Sabtu (7/3/2026).

 

Pernyataan Trump menandakan adanya pergeseran strategi militer AS yang kini mempertimbangkan opsi penghancuran total terhadap aset-aset vital Iran. Trump menyebut bahwa perilaku agresif Iran telah memaksa Washington untuk menargetkan area dan kelompok baru yang selama ini tidak masuk dalam daftar sasaran tempur.

"Di bawah pertimbangan serius untuk kehancuran total dan kematian pasti, karena perilaku buruk Iran, adalah wilayah dan kelompok orang yang tidak dipertimbangkan untuk dijadikan target sampai saat ini," tambahnya.

Tak hanya itu saja, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan "darurat" 12.000 selongsong bom ke Israel pada Jumat lalu seiring memanasnya perang. Bantuan ini disebut untuk meningkatkan kemampuan Israel menghadapi ancaman regional saat ini dan masa depan.

Di sisi Israel, sebanyak 80 jet tempur melakukan operasi militer pada Sabtu malam. Militer Israel mengklaim jet-jet tersebut menghantam akademi Garda Revolusi Iran yang digunakan sebagai aset darurat. Pejabat provinsi Isfahan melaporkan setidaknya delapan orang tewas akibat serangan gabungan Israel dan AS tersebut.|

 

Eskalasi di Timur Tengah yang masih belum ada tanda-tanda mereda membuat pasar khawatir akan dampak dari kenaikan harga energi seperti minyak mentah dan gas. Hal ini juga membuat pasar makin sulit diprediksi.

Selain itu, kemungkinan naiknya kembali dolar AS dan masih tingginya minat aset safe haven membuat aset berisiko seperti saham berpotensi masih mencatatkan volatilitas tinggi.

Diprediksi, pasar akan kembali memasang mode hati-hati pada pekan depan, mengingat konflik di Timur Tengah belum ada tanda-tanda mereda.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Diskusi media bersama Zurich Indonesia dilanjutkan dengan buka puasa bersama di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta Pusat

  • Menteri Keuangan melakukan kunjungan kerja ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat

  • Diskusi media terkait kinerja PT TBS Energi Utama (TOBA) di kantor TOBA, District 8 SCBD, Jakarta Selatan

  • vivo V70 Series Grand Launch "Dual Portrait Master" di Pos Bloc, Jakarta Pusat

  • Konferensi Pers Pelayanan BPJS Kesehatan saat Libur Lebaran 2026

  • PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) mengundang rekan-rekan media untuk menghadiri Press Conference peluncuran Obligasi Ritel Infrastruktur PT SMI (ORIS)\

  • Inflasi China Februari 2026
  • PPI China Ferbuari 2026
  • Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026
  • Pertumbuhan PDB Arab Saudi Q4 2025

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Fuji Finance Indonesia Tbk
  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]


(gls/gls) Add as a preferred
source on Google
Next Article Momentum Setahun Prabowo Diuji: Gaza Panas, Bunga BI Jadi Tanda Tanya


Most Popular
Features