MARKET DATA

10 Jalur Perdagangan Terpenting Dunia: Selat Hormuz - Terusan Suez

mae,  CNBC Indonesia
03 March 2026 21:00
FOTO FILE: Pemandangan udara pantai Iran dan pulau Qeshm di selat Hormuz, 10 Desember 2023. REUTERS/Stringer/Foto File
Foto: REUTERS/Nicolas Economou

Jakarta, CNBC Indonesia- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menimbulkan guncangan di pasar energi global. Asia diperkirakan akan menghadapi dampak paling besar.
Sebelumnya, seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengatakan Senin bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Ia bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan menjadi sasaran.

Penutupan Selat yang berkepanjangan kemungkinan akan menyebabkan lonjakan harga minyak lebih lanjut. Beberapa analis memperkirakan harga minyak akan melampaui US$100 per barel.

Patokan global Brent misalnya, sempat naik 2,6% menjadi sekitar US$80 per barel. Ini hampir 10% lebih tinggi sejak konflik pecah. 

Situasi di Hormuz saat ini menunjukkan betapa dunia masih sangat tergantung pada jalur laut untuk menggerakkan ekonomi.

Hormuz dan 9 Negara Jalur Perdagangan Terpenting di Dunia

Laut dan sungai masih menjadi jalur terpenting dalam perdagangan dunia.Data UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development) memperkirakan 80-90% volume perdagangan dunia diangkut melalui laut.

Minyak mentah, hasil pertambangan, pertanian, dan hasil manufaktur masih dikirim lewat jalur laut. Dengan posisi strategisnya maka tidak heran jalur-jalur perdagangan yang menggunakan jalur air tetap ramai meski sudah berusia puluhan tahun.

Berikut adalah10 jalur perdagangan utama dan terpenting dunia:

1. Sungai Rhein (Jerman)

Sungai Rhein atau Rhine, sepanjang 1.230 km, berfungsi sebagai urat nadi utama bagi transportasi barang di Jerman, menghubungkan Eropa Tengah ke pelabuhan-pelabuhan utama di Laut Utara. Mengangkut sekitar 80% barang ke pedalaman Jerman, termasuk komoditas seperti minyak mentah dan gas alam, sungai ini menjadi jalur utama logistik.

Sungai Rhine. (Dok. Pixabay)Foto: Sungai Rhine. (Dok. Pixabay)
Sungai Rhine. (Dok. Pixabay)



Namun, perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan dan pendangkalan sungai, seperti yang terjadi pada 2018 dan 2022, mulai mengancam kelancaran pengiriman barang.

Pada 2022, kedalaman sungai mencapai titik terdangkalbahkan mencapai 3 cm di bawah standar, menghambat pengiriman dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Kekeringan juga mengancam Sungai Rhein pada tahun ini. Permukaan kembali menyusut karena gelombang panas.

2. Terusan Panama
Terusan Panama menghubungkan Samudra Atlantik dengan Samudra Pasifik, memotong jalur perjalanan kapal yang seharusnya harus melintasi ujung selatan Amerika Selatan. Jalur ini memotong waktu dan biaya perjalanan secara signifikan.

Di tengah kesibukan perdagangan global, Terusan Panama tetap menjadi jalur vital yang menghemat waktu perjalanan antara dua samudra terbesar dunia, dengan lebih dari 12.000 kapal melewati terusan ini setiap tahun. Terusan ini, sepanjang 82 km, juga menjadi jalur penting untuk komoditas energi dan barang-barang konsumsi.

Kapal Gas Tanker Terbesar Dunia Milik RI Lewati Terusan Panama. (Pertamina International Shipping)Foto: Kapal Gas Tanker Terbesar Dunia Milik RI Lewati Terusan Panama. (Pertamina International Shipping)
Kapal Gas Tanker Terbesar Dunia Milik RI Lewati Terusan Panama. (Pertamina International Shipping)



Terusan ini tidak hanya mempermudah perdagangan antar negara tetapi juga berdampak pada strategi logistik global.

Meskipun demikian, ancaman terhadap keberlanjutan jalur ini muncul dari perubahan iklim yang dapat mempengaruhi arus dan kedalaman air di sekitar terusan, serta potensi blokade yang disebabkan oleh ketegangan politik.

3. Laut China Selatan

Laut China Selatan (LCS) adalah salah satu jalur perdagangan laut terpenting di dunia, dengan lebih dari 33% pelayaran global melintasi perairan ini. Menurut data UNCTAD, hampir 60% perdagangan maritim dunia melibatkan kawasan Asia, dan Laut China Selatan berperan kunci dalam mendukung ekonomi negara-negara besar seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Philippine forces prepares to retake an island during Philippine military multi-service joint exercise on Wednesday, Nov. 6, 2024, at Loaita island locally called Kota island at the disputed South China Sea, Philippines. (AP Photo/Aaron Favila)Foto: AP/Aaron Favila
Philippine forces prepares to retake an island during Philippine military multi-service joint exercise on Wednesday, Nov. 6, 2024, at Loaita island locally called Kota island at the disputed South China Sea, Philippines. (AP Photo/Aaron Favila)



Namun, perairan ini tidak hanya menjadi jalur perdagangan penting, tetapi juga sumber ketegangan geopolitik. China, yang memiliki ekonomi terbesar kedua di dunia, mengklaim hampir seluruh wilayah LCS, yang sering kali bertentangan dengan klaim negara-negara ASEAN.

4. Selat Malaka

Selat Malaka adalah jalur terpenting di Asia Tenggara yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar 16 juta barel minyak dan 3,2 juta barel gas alam cair (LNG) diangkut melalui Selat Malaka setiap hari.

Selat ini menjadi jalur vital bagi perdagangan energi dan barang-barang konsumen, serta merupakan jalur terpendek antara Timur Tengah dan Asia Timur.

Lalu lintas perdagangan di Selat MalakaFoto: Reuters
Lalu lintas perdagangan di Selat Malaka



Keterbatasan kapasitas pelayaran dan ancaman terhadap keamanan seperti pembajakan dan blokade politik meningkatkan kerentanannya.

Sebagai contoh, Charlie A. Brown, ahli maritim regional, menjelaskan bahwa jika Selat Malaka terblokir, hampir separuh armada dunia harus mencari rute alternatif yang akan mengurangi kapasitas pengiriman dan meningkatkan biaya logistik global. China juga memiliki kepentingan besar dalam keamanan Selat Malaka, mengingat lebih dari 70% ekspor energi China melaluinya.

5. Sungai Mekong

Sungai Mekong mengalir melalui enam negara di Asia Tenggara dan merupakan sumber utama air bagi banyak negara di kawasan tersebut, termasuk Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Sungai ini juga merupakan jalur perdagangan penting untuk komoditas pertanian dan perikanan.

Namun, pembangunan bendungan oleh China di hulu sungai menyebabkan gangguan pada aliran air dan sedimentasi yang mempengaruhi ekosistem dan sektor pertanian negara-negara hilir.

Sungai MekongFoto: Reuters
Sungai Mekong



Reuters melaporkan bahwa pada tahun 2020, terdapat penurunan signifikan dalam jumlah sedimentasi yang mengalir ke hilir, yang berdampak pada keberlanjutan sektor pertanian di negara-negara seperti Vietnam.

Persoalan ini semakin rumit dengan adanya ketegangan geopolitik antara China dan negara-negara Asia Tenggara terkait kontrol terhadap aliran air Mekong.

6. Selat Sunda

Selat Sunda menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Jawa dan berada di antara Pulau Sumatera dan Jawa di Indonesia. Meskipun volume lalu lintas kapal tidak sebesar Selat Malaka, Selat Sunda tetap menjadi jalur penting untuk pengiriman energi dan barang ke Indonesia dan negara-negara di kawasan sekitarnya.

Badan Energi Internasional (IEA) mengonfirmasi bahwa lebih dari 3 juta barel minyak mentah melintasi Selat Sunda setiap hari. Keamanan Selat Sunda, terutama terkait potensi gangguan akibat bencana alam seperti letusan gunung berapi atau kerusakan infrastruktur, menjadi prioritas penting bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia berusaha meningkatkan keamanan dan efisiensi jalur perairan ini untuk mendukung perdagangan energi dan komoditas lainnya.

Ilustrasi Selat Sunda dan Selat Lombok. IstFoto: Ilustrasi Selat Sunda dan Selat Lombok. Ist
Ilustrasi Selat Sunda dan Selat Lombok. Ist



7. Selat Inggris

Selat Inggris, yang terletak antara Inggris dan Perancis, adalah jalur laut tersibuk di dunia. Setiap hari, lebih dari 500 kapal melintasi selat ini, menghubungkan Laut Utara dengan Samudra Atlantik.

The International Maritime Organization (IMO) melaporkan bahwa lebih dari 25% lalu lintas kapal dunia melewati Selat Inggris, menjadikannya jalur strategis untuk perdagangan internasional dan pasokan energi.

Meskipun memiliki kapasitas tinggi, Selat Inggris menghadapi tantangan baru terkait keamanan maritim dan perubahan politik, seperti dampak dari Brexit yang mempengaruhi kebijakan perdagangan Inggris dan hubungan dengan negara-negara Eropa.

8. Terusan Suez

Terusan Suez, yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah, memotong waktu perjalanan kapal yang melewati Afrika.

Dengan panjang 163 km, terusan ini menghemat waktu perjalanan dari 24 hari menjadi hanya 16 jam. The Suez Canal Authority (SCA) melaporkan bahwa lebih dari 100 kapal melewati terusan ini setiap hari, mengangkut berbagai komoditas termasuk minyak mentah, LNG, dan barang-barang konsumsi.

Namun, terusan ini juga rentan terhadap gangguan besar, seperti insiden penyumbatan yang terjadi pada tahun 2021, yang menyebabkan keterlambatan pengiriman barang global. Pembaruan infrastruktur dan pengelolaan yang lebih efisien menjadi kunci bagi keberlanjutan jalur ini.

SuezFoto: Suez
Suez



9. Selat Denmark

Selat Denmark menghubungkan Laut Utara dengan Laut Baltik dan menjadi jalur vital bagi perdagangan Eropa dan Rusia.

Mengingat posisinya yang strategis, selat ini menjadi pintu gerbang utama untuk pengiriman barang antara Eropa dan negara-negara Skandinavia.

Reuters melaporkan bahwa lebih dari 100.000 kapal melintasi selat ini setiap tahun, membawa berbagai jenis barang dari energi hingga produk konsumen. Keamanan perairan ini sangat penting bagi stabilitas perdagangan di kawasan tersebut, terutama dalam konteks ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa terkait isu energi.

10. Selat Hormuz


Selat Hormuz tengah menjadi perbincangan hangat setelah Israel dan Amerika Serikat (AS) menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026). Sebagai balasan dari serangan tersebut, Iran menutup selat tersebut yang membuat harga minyak mentah dan gas melonjak.


Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Meski ukurannya kecil, selat ini menjadi penghubung vital antara Teluk Persia yang kaya minyak dengan seluruh dunia. Hal ini menjadikannya salah satu jalur laut tersibuk dan paling strategis di Bumi.

Sekitar 22% atau hampir seperempat pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Sekitar 20% perdagangan global gas alam cair (LNG) juga melewati Selat Hormuz pada 2022.
Setiap hari, puluhan kapal tanker minyak melintasi perairan ini, mengangkut minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Aliran minyak yang terus-menerus ini menjadikan Selat Hormuz sebagai urat nadi penting pasar energi global.

Selain minyak, Selat ini juga digunakan untuk mengangkut gas alam cair (LNG), petrokimia, dan barang-barang penting lainnya.

Keamanan dan stabilitas jalur ini sangat penting untuk memastikan perdagangan global tetap berjalan lancar. Jika Selat ini diblokir atau terganggu, konsekuensinya bisa sangat serius terhadap harga energi global, rantai pasok, dan ekonomi di seluruh dunia.

Fakta Selat Hormuz:
1. Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

2. Selat ini merupakan chokepoint (titik penyumbatan) minyak paling penting di dunia karena menjadi jalur utama aliran minyak global.

3. Rata-rata 20,3 juta barel per hari (bpd) minyak mengalir melalui Selat Hormuz. Volume tersebut setara dengan sekitar 30% konsumsi cairan minyak bumi global.

3. Sekitar 290 juta meter kubik LNG per hari lewat selat ini atau setara 20% perdagangan LNG global

4. Antara 2020-2022, volume minyak mentah, kondensat, dan produk minyak bumi


5. Sekitar 80% minyak mentah dan kondensat yang melalui Selat Hormuz pada 2022 dikirim ke pasar Asia.

6. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi empat negara tujuan utama, menyerap 67% dari seluruh minyak dan kondensat yang melewati Selat Hormuz pada 2022 dan paruh pertama 2023.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?



CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular