MARKET DATA

Ini Strategi Cari Cuan Saat Perang Datang

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
02 March 2026 11:05
Ilustrasi IHSG
Foto: Pexels/Anna Nekrashevich

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel kini telah memasuki fase yang kian mengkhawatirkan dan mulai berdampak luas.

Ketegangan yang terus memanas ini tidak lagi sekadar retorika militer, melainkan telah memicu kepanikan nyata di pasar modal global salah satunya di Indonesia.

Langkah darurat penutupan bursa saham di sejumlah negara Teluk pada awal pekan ini menjadi alasan logis betapa rentannya stabilitas finansial kawasan tersebut. Dinamika ini jelas memantik kecemasan para investor, mengingat pasar saham sangat sensitif terhadap perpecahan dan instabilitas keamanan.

Kondisi pasar yang penuh tekanan ini tidak lepas dari rentetan konfrontasi sebelumnya. Ketegangan memuncak tajam ketika pasukan AS melancarkan serangan udara ke beberapa daerah penting di Iran, fokus utamanya di Tehran hingga menewaskan pimpinan tertinggi yakni Iran Ali Khamenei.

Keterlibatan langsung Washington ini membawa situasi meluas, dengan potensi terseretnya negara-negara kekuatan besar lainnya seperti Rusia, China, hingga aliansi Eropa ke dalam pusaran konflik di Timur Tengah tersebut.

Sebagai langkah balasan, Tehran tidak tinggal diam. Parlemen Iran telah menyetujui opsi untuk menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur urat nadi distribusi minyak global yang memisahkan Iran dan Oman.

Pasalnya, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan merupakan titik tersumbat paling kritis bagi pasokan energi dunia karena sekitar 20% cadangan minyak dunia beredar dan dieskpor melalui selat ini.

Bagi para pemodal, berinvestasi di tengah bayang-bayang perang besar jelas merupakan tantangan berat.

Ketidakpastian yang tinggi, volatilitas pasar ekstrim, serta ancaman putusnya rantai pasokan membuat risiko membesar secara eksponensial. Meski demikian, secara historis selalu ada instrumen yang mampu bertahan atau justru meraup untung dari situasi krisis.

Berikut adalah panduan strategi taktis yang bisa diterapkan untuk melindungi portofolio di tengah ketidakpastian perang:

1. Prioritaskan Keamanan Aset (Safe Haven Assets)

Perang menciptakan ketidakpastian tinggi, sehingga investor perlu memprioritaskan aset yang cenderung stabil atau bahkan naik nilainya saat terjadi krisis. Gunakan instrumen lindung nilai untuk mengurangi dampak inflasi dan volatilitas:

  • Emas sebagai aset safe haven.

  • Dolar AS sebagai mata uang safe haven.

  • Obligasi TIPS (Treasury Inflation-Protected Securities).

  • Derivatif berupa opsi atau futures sebagai perlindungan nilai aset.

2. Fokus ke Sektor yang Diuntungkan Perang

Beberapa sektor justru mengalami lonjakan permintaan saat konflik bersenjata terjadi. Saat perang, konsumen dan pemerintah tetap membutuhkan produk dan jasa tertentu, sehingga sektor-sektor ini cenderung lebih stabil:

  • Sektor pertahanan dan militer, seperti perusahaan produsen senjata, peralatan militer, dan logistik.

  • Sektor energi, yang mencakup minyak, gas, dan logistik energi.

  • Sektor kebutuhan pokok, termasuk makanan, obat-obatan, dan produk konsumen dasar.

  • Sektor kesehatan, seperti farmasi dan alat kesehatan.

3. Simpan Cadangan Kas

Saat perang, akses ke uang tunai menjadi sangat krusial. Risiko penutupan pasar, pembekuan aset, atau gangguan sistem perbankan akan meningkat tajam. Disarankan untuk menyimpan 10-20% portofolio dalam bentuk kas atau deposito di negara yang stabil secara politik.

4. Kurangi Porsi pada Aset Berisiko Tinggi

Saat perang berlangsung, volatilitas pasar akan bergerak ekstrem. Sangat disarankan untuk menghindari atau mengurangi porsi pada aset spekulatif seperti saham teknologi, investasi pada startup, properti di wilayah konflik, maupun pasar saham di negara yang terlibat langsung dalam perang.

5. Pantau Perkembangan Geopolitik dan Sentimen Pasar

Pastikan untuk selalu memperbarui informasi mengenai perkembangan geopolitik. Berita terkait manuver militer dan diplomasi sangat mempengaruhi harga komoditas dan indeks saham. Sebagai contoh, eskalasi perang di wilayah penghasil energi mutlak bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular