MARKET DATA

Emas Mengamuk & Tembus US$ 5.300, Ramalan Harga Terbaru Bikin Ngeri

saw,  CNBC Indonesia
02 March 2026 06:40
Emas
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia diramal akan semakin moncer karena permintaan sebagai safe haven meningkat di tengah kerusuhan perang antara AS-Israel Vs Iran yang makin panas.

Laporan mengenai korban jiwa dan kerusakan infrastruktur setelah perang pecah pada Sabtu pekan lalu (28/2/2026) terus bertambah, memicu kekhawatiran global dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan.

Situasi ini langsung tercermin pada pergerakan harga emas yang kembali menjadi sorotan sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak geopolitik.

Pada hari ini, Senin (2/3/2026) pukul 06.28 WIB, harga emas sudah terbang 1,4% ke US$ 5360,49 per troy ons. Ini adalah kali pertama emas kembali menyentuh level US$ 5300 setelah Desember 2025.

Melansir data Refinitiv, harga emas global ditutup di level US$5.277,29 atau menguat 1,74% pada perdagangan Jumat (27/2/2026). Level tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi dalam sebulan terakhir atau sejak 30 Januari 2026. Secara mingguan, harga emas global bahkan menguat 3,41%.

Pelaku pasar memproyeksi harga emas masih akan naik karena huru-hara perang antara AS-Israel vs Iran yang makin panas.

Mengutip berbagai laporan lembaga keuangan internasional yang dirangkum oleh Kitco, pandangan terhadap prospek emas dalam jangka pendek cukup beragam.

Update terbaru JP Morgan, melihat permintaan dari bank sentral dan investor pada tahun ini pada akhirnya akan mendorong harga emas mencapai US$ 6.300 per troy ounce pada akhir 2026,

ANZ juga memperkirakan harga emas masih bisa naik lagi, menembus US$ 5.800 per troy ounce pada kuartal kedua tahun ini.

Optimisme tersebut ditopang oleh beberapa faktor utama.

Pertama, pembelian emas oleh bank sentral, khususnya dari negara berkembang, masih berlanjut dengan rata-rata sekitar 60 ton per bulan sebagai langkah diversifikasi dari dolar AS.

Kedua, kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan lonjakan utang pemerintah Amerika Serikat mendorong investor institusi memandang emas sebagai pelindung nilai terhadap risiko sistemik.

Ketiga, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed menjadi sentimen positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Keempat, ketegangan geopolitik yang belum mereda serta ketidakpastian politik menjelang pemilu sela di Amerika Serikat terus menjaga daya tarik emas sebagai aset aman.

Meski demikian, tidak semua proyeksi sepenuhnya optimistis.

Analis HSBC mengingatkan bahwa meskipun emas dikenal sebagai aset safe haven, harganya tetap rentan terhadap fluktuasi.

Citigroup juga memberikan catatan kehati-hatian dengan memperkirakan peluang 50 persen bagi skenario penurunan harga menuju level US$ 3.650 apabila ekonomi AS memasuki fase pertumbuhan stabil dengan inflasi terkendali dan risiko geopolitik mereda secara signifikan.

Adapun berikut target terbaru pergerakan harga emas tahun ini dari berbagai sumber institusi/lembaga global:

Harga perak ikut melambung tinggi.

Pada hari ini, Senin (2/3/2026) pukul 06.28 WIB, harga perak stagnan di US$93,82. Melansir data Refinitiv, harga perak global ditutup di US$ 93,82 atau melesat 6,2%.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google
Next Article Harga Emas Tiba-Tiba Ambruk Setelah Cetak Rekor, Apa yang Terjadi?


Most Popular
Features