Tahun Ini 85% Bayi Dunia Bakal Lahir di Asia & Afrika
Jakarta, CNBC Indonesia - Proyeksi terbaru dari United Nations melalui laporan World Population Prospects menunjukkan bahwa sekitar 85% bayi yang lahir di dunia pada 2026 akan berasal dari Asia dan Afrika.
Secara absolut, Asia diproyeksikan menjadi penyumbang terbesar kelahiran global dengan sekitar 64,9 juta kelahiran atau hampir separuh total global, sementara Afrika menyumbang sekitar 47,6 juta kelahiran atau sekitar 36%.
Dengan total kelahiran dunia yang diproyeksikan mencapai 132,5 juta bayi pada 2026, kedua kawasan ini semakin menegaskan posisinya sebagai pusat demografis global.
Dominasi jumlah kelahiran di Asia terjadi meskipun sejumlah negara di benua tersebut terutama Asia Timur mengalami penurunan tingkat fertilitas. Faktor utama pendorong tetap tingginya jumlah kelahiran adalah basis populasi yang besar.
 Di sisi lain, Afrika menunjukkan dinamika berbeda. Banyak negara di benua ini masih berada pada fase awal transisi demografis dengan struktur penduduk yang sangat muda dan tingkat fertilitas relatif tinggi. Kombinasi tersebut menjadikan Afrika sebagai kawasan dengan pertumbuhan populasi tercepat di dunia.
 Sebaliknya, kontribusi Eropa, Amerika Utara, dan Oseania terhadap total kelahiran global semakin kecil, mencerminkan tren penuaan penduduk dan fertilitas di bawah tingkat penggantian (replacement level).Â
Ketimpangan dinamika demografis ini berpotensi menggeser pusat pertumbuhan ekonomi global dalam jangka panjang.
Asia dan Afrika diperkirakan akan menjadi sumber utama tenaga kerja dunia dalam beberapa dekade mendatang, sekaligus menghadapi tantangan besar dalam penyediaan lapangan kerja, pendidikan, layanan kesehatan, serta infrastruktur dasar.
 Di Indonesia, indikator persentase perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang melahirkan anak lahir hidup (ALH) dalam dua tahun terakhir dapat menjadi proksi penting untuk membaca tren fertilitas jangka pendek.
Jika proporsinya tinggi, hal ini mencerminkan intensitas kelahiran yang masih kuat dan berpotensi menopang pertumbuhan populasi. Sebaliknya, penurunan persentase tersebut dapat mengindikasikan perlambatan fertilitas yang pada akhirnya akan tercermin dalam turunnya jumlah kelahiran nasional.Â
(mae/mae) Add
source on Google