Saham Emiten Milik Boy Thohir Lagi Memanas, Kamu Pegang yang Mana?
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham konglomerasi grup Boy Thohir masih manggung dari awal tahun, menariknya sebagian masih di hargai valuasi murah, story masih running, dan punya prospek bisnis menarik.
Beberapa saham dari grup konglomerat ini bahkan ada yang sudah naik double digit, ada yang sudah terbang lebih dari 50 persen secara year-to-date (YTD), meskipun sebagian juga masih ada yang tertinggal. Berikut rincian-nya:
Namun yang menarik, kenaikan sejumlah saham itu bukan sekadar euforia sesaat. Jika melihat valuasi berbasis PBV dibanding rata-rata 5 tahun, tidak semuanya sudah mahal. Memang ada yang sudah berada di atas rerata historis (overvalue) seperti MDKA, MBMA, dan EMAS.
Namun,beberapa nama lain justru masih berada di bawah rata-rata valuasi 5 tahunnya (undervalue), meskipun harganya sudah naik cukup signifikan, seperti ADMR, ADRO, BFIN, ESSA, PALM, dan WOMF.
Artinya, reli sudah terjadi, tetapi belum semuanya fully rerating. Daya tarik grup ini bukan hanya label konglomerasi, tetapi adanya kombinasi antara valuasi yang masih rasional dan story fundamental yang berjalan.
Mayoritas entitasnya bergerak di sektor komoditas, mulai dari batu bara, nikel, emas, tembaga, aluminium hingga ammonia, yang secara siklikal memang sedang menikmati momentum harga yang lebih kuat dari awal tahun berkat commodity supercycle, ketegangan geopolitik, demand safe haven, dan lainnya.
Ketika harga komoditas naik, arus kas dan potensi laba ikut terdorong, membuka ruang untuk rerating valuasi.
Selain faktor komoditas, masing-masing emiten dalam grup ini juga memiliki katalis spesifik yang membuat narasinya tetap hidup dan tidak sekadar bergantung pada sentimen global. Misalnya sebagai berikut:
-
EMAS
 Memiliki rencana dual listing di Hong Kong serta percepatan proyek emas PANI yang berjalan lebih cepat dari perkiraan. Ini membuka potensi peningkatan visibilitas global sekaligus akselerasi produksi. -
MBMA
Diuntungkan oleh penguatan harga nikel dan proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) yang ditargetkan mulai berjalan pertengahan 2026, memperkuat positioning di ekosistem baterai EV. -
MDKA
 Terus memperkuat portofolio tembaga dan emas, dengan pipeline proyek yang menopang pertumbuhan produksi jangka menengah. -
ADMR
Smelter aluminium melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) mulai beroperasi sejak akhir 2025. Hilirisasi ini berpotensi menjadi game changer terhadap struktur margin dan laba ke depan. -
ADRO
Memiliki struktur bisnis yang memberi eksposur ganda ke batu bara dan mineral, sehingga lebih fleksibel dalam menangkap momentum siklus komoditas. -
AADI
Tetap menjadi penerima manfaat utama dari stabilnya permintaan dan harga batu bara, menopang arus kas yang solid. -
ESSA
Diuntungkan oleh kenaikan harga ammonia serta ekspansi ke bioavtur dengan target komersialisasi 2027/2028, memberi narasi transisi energi.
Dengan adanya katalis internal tersebut, pergerakan saham-saham ini tidak semata-mata mengikuti arah harga komoditas global, tetapi juga ditopang oleh perkembangan fundamental masing-masing perusahaan.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Â
(saw/saw) Addsource on Google