MARKET DATA

Saham Boy Thohir ADRO Cs Menggeliat, Ada Apa?

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
14 January 2026 10:25
Direktur Utama Adaro Energy Indonesia Boy Thohir. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Direktur Utama Adaro Energy Indonesia Boy Thohir. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai goyang dan banyak saham berguguran. Gerak saham grup Garibaldi atau Boy Thohir malah semakin manggung.

Pada kemarin Selasa (13/1/2026), IHSG bergerak cukup volatil sebelum akhirnya mampu ditutup di zona positif, melesat 0,72% dalam sehari ke posisi 8.948.30.

IHSG kemarin sempat jatuh dari titik terendah tiba-tiba kehilangan 115 poin atau terpangkas 1,28% di pembukaan sesi kedua.

Pergerakan pasar sesi kedua akhir-akhir ini menjadi sangat volatile, seperti pada Senin lalu (12/1/2026), dalam sekejap IHSG tiba=tiba lebih dari 2% sebelumnya akhirnya koreksi menyusut jadi kisaran 0,5%.

Di tengah IHSG yang bergerak volatile, saham konglo memang tidak lepas karena dominasi-nya yang kuat. Mayoritas juga terkontraksi seperti dari grup Prajogo Pangestu dan sebagian dari grup Bakrie.

Namun, ada yang menarik karena grup Boy Thohir tampak tidak gentar dengan situasi IHSG kini. Justru, mereka bergerak ciamik.

Saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) memimpin penguatan dalam sebulan dan secara sentimen memang terpicu harga komoditas yang naik.

Sementara itu, gerak saham emiten grup Thohir tampak mengikuti, seperti

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM), dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF).

Hanya saham PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) yang terpantau masih di zona merah.

Kami menilai penguatan saham-saham grup Boy Thohir dipicu oleh penguatan harga komoditas, pasalnya kebanyakan dari saham miliknya merupakan bisnis tambang.

Seperti MDKA yang merupakan perusahaan tambang tembaga dan anak usahanya EMAS yang tentu saja punya bisnis logam mulia.

Selain itu, ADRO mulai menarik dengan prospek alumunium, seiring dengan geliat anak usahanya ADMR sedang membangunproyek smelter aluminium terintegrasi di Kalimantan Utara.

Smelter tersebut diproyeksikan mulai beroperasi bertahap pada akhir 2025, dengan kapasitas tahap awal 500.000 ton per tahun dan ditargetkan mencapai 1,5 juta ton pada 2027.

Belum selesai sampai situ, ADRO juga masih memiliki sekitar 15% saham AADI. Artinya, tahun ini ADRO masih akan menikmati cuan dividen AADI.

Sebagai perusahaan batu bara, AADI memang menghadapi tekanan harga dan permintaan yang turun. Namun, wacana pemangkasan produksi mencapai 24% pada tahun ini, harapan-nya akan membuat harga batu bara stabil.

Dalam riset terbaru, JP Morgan, ADRO dinilai masih murah, terdiskon sekitar 45% dan menjadi pilihan yang lebih undervalued dibandingkan mengejar ADMR yang sudah naik tinggi.

Berkat kombinasi sentimen tersebut, saham-saham berbasis logam di bawah Grup Boy Thohir kompak melesat. Aliran dana yang masuk ke saham metal ini kemudian menjadi pemicu efek lanjutan, di mana minat investor ikut merembet ke saham-saham lain dalam grup yang sama. Pola ini cukup lazim terjadi di pasar, karena pelaku pasar cenderung tidak ingin tertinggal momentum ketika satu klaster saham mulai bergerak agresif.

Selain faktor fundamental, dorongan teknikal dan psikologis juga ikut berperan. Ketika beberapa saham utama dalam satu grup sudah lebih dulu mencetak kenaikan signifikan, pasar biasanya mulai berspekulasi bahwa saham lain yang masih tertinggal akan menyusul. Alhasil, rotasi dana di dalam satu grup pun terjadi, membuat penguatan tidak hanya terpusat di satu dua saham, tetapi meluas secara lebih merata.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

(saw/saw)



Most Popular